Bab 1 – Hujan Pertama dan Lelaki Aneh
Seruni, 25 Oktober 2025
Langit menggantung kelabu sejak pagi. Kota kecil Seruni yang biasanya disinari matahari hangat, hari itu berubah menjadi lukisan kusam dari palet abu-abu. Angin bertiup malas, membawa aroma tanah kering yang seolah menunggu disiram hujan pertama bulan itu.
Aqila duduk di bangku kayu tua di dalam toko buku tempatnya bekerja. Toko itu bernama Dahan Cerita, sebuah tempat kecil yang terletak di ujung jalan Kusuma Raya. Dindingnya dipenuhi rak-rak kayu tinggi, penuh buku yang sebagian besar sudah usang tapi masih berbau nostalgia.
Ia menyukai tempat ini—bukan karena gajinya yang besar (karena jelas tidak), tapi karena ketenangan yang ditawarkannya. Tidak banyak pengunjung. Bahkan seringkali hanya satu atau dua orang dalam sehari. Toko buku itu adalah pelarian. Dunia kecil yang tak pernah bertanya apa-apa darinya.
Aqila menatap jam dinding di atas rak “Puisi dan Prosa.” Pukul 16.43. Langit di luar mulai gelap, meski matahari belum benar-benar tenggelam. Beberapa detik kemudian, hujan pertama akhirnya turun—pelan, ragu-ragu, seperti seseorang yang sudah lama menahan tangis.
Ia menarik nafas panjang, lalu berdiri. Sudah waktunya menutup toko. Ditekannya tombol kecil di balik meja kasir, dan papan “BUKA” pun berputar menjadi “TUTUP.” Ia merapikan buku-buku yang berserakan, lalu mengenakan jaket hitam tipis dan menyelipkan buku catatannya ke dalam tas selempang kecil. Di buku itu, ia biasa menulis puisi. Tentang hujan. Tentang waktu. Tentang luka.
Dan kadang-kadang… tentang mimpi.
---
Di luar toko, hujan telah berubah menjadi deras.
Payung tua miliknya nyaris patah saat ia membukanya. Angin semakin kencang, mendorong hujan ke segala arah. Jalanan mulai basah, dan lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu.
Aqila menyusuri g**g kecil yang menjadi jalan pintas ke rumah bibinya. Di sisi jalan, pohon-pohon trembesi menggugurkan daunnya yang kekuningan. Petir menyambar di kejauhan, diikuti suara gemuruh panjang yang mengguncang d**a.
Dan di antara semua itu, ia merasa... ada yang berbeda.
Langkah kakinya melambat. Suara hujan di aspal terasa lebih keras dari biasanya. Lampu jalan di persimpangan depan tiba-tiba mati—semua, satu per satu, seperti domino yang jatuh. Lalu, terdengar suara aneh. Seperti bisikan listrik yang mengalir di udara. Seperti sesuatu yang tidak berasal dari sini.
Ia berhenti.
Dari kabut hujan, sebuah cahaya putih meluncur dari langit. Cepat. Tanpa suara. Membelah udara dan mendarat entah di mana—mungkin hanya dua atau tiga blok dari tempatnya berdiri. Cahaya itu tidak seperti meteor. Tidak seperti pesawat. Bentuknya aneh, melengkung, seperti kapsul logam yang dilapisi sinar biru.
Aqila mematung. Matanya tidak berkedip. Pikirannya mencoba mencari penjelasan, tapi semua terasa tidak masuk akal.
Dan saat ia hendak mundur, seseorang muncul dari kabut.
---
Seorang pria.
Tinggi. Tubuh tegap. Wajah tirus dengan mata tajam seperti menyimpan seribu rahasia. Rambutnya basah, tapi tidak berantakan. Bajunya aneh—jaket panjang berwarna gelap dengan garis-garis bercahaya samar di bagian lengan dan d**a. Ada sesuatu di pergelangan tangannya—seperti gelang logam yang menyala redup, tapi terus berubah warna.
Pria itu melangkah pelan, langsung ke arah Aqila.
Ia tidak bicara. Tidak menunduk. Tidak senyum. Hanya... menatap.
Aqila mundur satu langkah. “Siapa kamu?”
Hening.
Pria itu berhenti sekitar dua meter darinya. Cahaya lampu jalan yang mulai menyala kembali menyinari sebagian wajahnya. Ia tampak seperti seseorang yang bukan dari sini. Bukan dari kota ini. Bukan dari... zaman ini.
Lalu ia bicara.
“Namamu Aqila Nadira?”
Suara itu berat, tapi lembut. Seperti suara seseorang yang jarang bicara, tapi menyimpan banyak hal.
“Bagaimana kamu tahu namaku?” tanya Aqila, perlahan.
Pria itu mengangkat tangannya. Menekan bagian dari gelangnya. Sebuah cahaya biru memancar, lalu muncullah tampilan hologram—dari udara, membentuk gambar wajah Aqila.
Aqila terkejut, mundur dua langkah. “Apa itu?”
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus padanya.
“Aku Hary,” katanya. “Dan aku... datang dari masa depan.”
---
Aqila membeku.
Kalimat pria itu seperti petir kedua yang menyambar, bukan ke langit, tapi ke dalam benaknya sendiri.
> “Aku Hary. Dan aku… datang dari masa depan.”
Ucapannya seperti gurauan dari film fiksi ilmiah, tapi cara ia mengatakannya—tenang, mantap, tanpa ragu—membuat jantung Aqila berdetak lebih cepat.
“Ini tidak lucu,” katanya perlahan, matanya menyapu sekitar, berharap ini semacam prank atau jebakan kamera. Tapi g**g itu kosong. Hanya mereka berdua. Hanya suara hujan dan cahaya samar dari lampu jalan yang sesekali berkedip.
“Bagaimana kamu tahu namaku?” suaranya mulai goyah.
Hary mematikan hologram dari gelangnya. Cahaya itu padam. Lalu ia melangkah satu langkah lebih dekat, membuat Aqila menegang.
“Aku tidak akan menyakitimu,” katanya, seperti membaca pikirannya.
Aqila menggenggam tali tasnya kuat-kuat. “Itu bukan jawaban.”
Hary menunduk sejenak, lalu menarik napas. “Aku tahu kamu bingung. Tapi aku tidak punya waktu banyak. Aku datang ke sini karena kamu. Karena sesuatu yang kamu lakukan di masa depan. Sesuatu yang mengubah dunia.”
Aqila tertawa kecil—tapi tawanya kering, getir. “Aku bahkan tidak tahu mau makan apa malam ini, dan kamu bilang aku mengubah dunia?”
“Aku serius.”
“Dan aku serius. Kamu... gila. Maaf.”
Ia berbalik, ingin pergi. Tapi langkahnya terhenti saat Hary mengucapkan sesuatu. Kalimat yang membuat darahnya seperti berhenti mengalir.
> “Toko buku Dahan Cerita... lantai dua, ada kotak besi kecil di bawah papan lantai ketiga dari rak puisi barat. Di dalamnya ada surat dari ibumu, yang belum pernah kamu baca.”
Aqila membeku.
Tak ada orang yang tahu tentang kotak itu. Tak ada siapa pun—selain dirinya dan...
Ia perlahan berbalik. “Kamu… siapa kamu sebenarnya?”
---
Kilatan petir membelah langit.
Kilatan itu menyorot wajah Hary sekejap—cukup untuk Aqila melihat ekspresi yang bukan hanya dingin atau serius. Tapi... lelah. Seperti seseorang yang telah berjalan jauh melewati waktu dan kehilangan banyak hal di sepanjang jalan.
“Aku hanya seseorang yang terlambat kembali,” katanya.
---
Dua jam kemudian
Di rumah Bibinya, kamar lantai dua
Aqila duduk di ujung tempat tidurnya, matanya kosong menatap lemari kayu tua. Hujan telah berhenti, tapi suaranya masih tersisa dalam pikirannya. Bersama dengan satu nama: Hary.
Di genggamannya ada kertas tua berwarna kekuningan. Tulisannya miring dan rapi. Huruf demi huruf yang ia kenali seketika.
> Untuk Aqila, jika kamu menemukan ini, berarti kamu cukup berani menghadapi kenyataan. Ibu menyimpan banyak hal darimu, tapi tidak semuanya demi menyakitimu. Ada kebenaran yang terlalu besar untuk seorang anak kecil. Dan kelak, kamu akan tahu—bahwa cinta bisa melampaui ruang dan waktu.
Ia menutup surat itu perlahan, air mata menetes satu per satu. Bukan karena sakit. Tapi karena seseorang yang tak ia kenal—dari masa depan—mengingatkan bahwa ibunya tak pernah benar-benar pergi.
---
Hari berikutnya, Seruni berubah.
Sesuatu jatuh dari langit malam itu. Sebuah benda logam besar ditemukan di hutan barat, dengan bekas terbakar membentuk lingkaran sempurna. Pemerintah setempat menutup wilayah itu. Tidak ada berita resmi, tapi kabar cepat menyebar: meteor? satelit jatuh? alien?
Di kafe, di pasar, di sekolah-sekolah, semua orang bicara tentang cahaya aneh dan suara berdengung di langit.
Tapi Aqila hanya duduk diam di toko buku, menatap rak puisi, lalu mendongak ke atas.
Ia tahu, di lantai dua, seseorang sedang menunggunya.
---
Kembali ke Dahan Cerita – lantai dua
Hary berdiri di dekat jendela, memandangi jalanan yang mulai ramai. Ia tampak tidak asing lagi di sana, seolah telah menghafal irama tempat itu hanya dalam semalam.
Aqila masuk perlahan, langkahnya ragu. Tangannya menggenggam surat ibunya.
“Kenapa kamu tahu tentang ini?” tanyanya langsung.
Hary menoleh. Wajahnya tak berubah. “Karena aku pernah membacanya. Di masa depan.”
“Kamu tahu segalanya tentangku?”
“Tidak. Aku hanya tahu bagian yang penting. Kamu... adalah penyebab utama Peristiwa Gelombang Waktu 2071.”
Aqila mengernyit. “Apa itu?”
“Perubahan waktu yang tidak seharusnya terjadi. Dunia yang tidak berjalan seperti yang semestinya. Dan semuanya... dimulai dari satu keputusan yang kamu ambil di hari ke-17 dari sekarang.”
“Hari ke-17?”
Hary menatapnya lurus. “Aku ke sini hanya untuk mencegahmu membuat pilihan itu.”
---
Hening.
Aqila menarik kursi, duduk di hadapannya.
“Kalau kamu dari masa depan, kenapa kamu terlihat seperti manusia biasa?”
Hary tersenyum tipis. “Karena aku memang manusia. Kami tak berubah banyak. Tapi teknologi kami, ya.”
“Kenapa kamu?” tanya Aqila lagi. “Kenapa bukan orang lain yang dikirim?”
Hary diam sejenak. Lalu menjawab pelan.
“Karena aku satu-satunya yang percaya bahwa kamu bisa diselamatkan.”