Bab 2 — Rahasia yang Tertinggal Waktu

1146 Kata
> “Kenapa kamu?” tanya Aqila lagi. “Kenapa bukan orang lain yang dikirim?” Hary diam sejenak. Lalu menjawab pelan, “Karena aku satu-satunya yang percaya bahwa kamu bisa diselamatkan.” Aqila menatap Hary dalam-dalam. Jawaban itu seolah membuka pintu ke dunia yang tidak ingin ia masuki. Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan—mendengar bahwa dirinya di masa depan menyebabkan kehancuran waktu… atau bahwa seseorang dari masa depan peduli padanya lebih dari siapa pun di masa kini. “Diselamatkan dari apa?” gumamnya, seperti bertanya pada dirinya sendiri. Hary menghela napas, lalu berjalan ke arah meja kayu tua di sisi ruangan. Ia membuka tas kecil berbahan logam di pinggangnya dan mengeluarkan sebuah perangkat berbentuk persegi, tipis dan bersinar samar. “Ini namanya Chronoviewer,” katanya. “Teknologi ini memungkinkan kami melihat percikan waktu, fragmen-fragmen kejadian yang belum terjadi—tapi akan terjadi.” Dia mengetuk layar kecil di alat itu. Hologram mulai muncul. Gambar-gambar abstrak terbentuk, lalu menyatu menjadi satu adegan. Langit merah. Asap tebal menutup matahari. Jalan-jalan kosong. Di tengah kehancuran itu, berdiri sosok perempuan muda… dengan mata yang sangat Aqila kenali—matanya sendiri. Aqila tersentak. “Itu… aku?” Hary mengangguk pelan. “Tujuh belas hari dari sekarang, kamu akan membuat keputusan yang menyelamatkan seseorang… tapi membakar dunia.” “Apa maksudmu?” suaranya meninggi. “Pilihan itu tidak salah. Tidak jahat. Justru sangat manusiawi,” ujar Hary. “Kamu akan memilih cinta di atas logika. Pilih harapan di atas hukum waktu. Dan dunia… tidak akan mampu menahan keretakan yang terjadi.” Aqila berdiri, berusaha menjauh dari hologram itu. Tapi bayangannya seolah menatap balik padanya. Matanya tajam. Teguh. Tapi juga… kosong. “Kenapa kamu tidak menghentikanku sekarang?” tanyanya pelan. “Kenapa tidak bawa aku pergi dari tempat ini?” “Karena jika aku mengambil kamu sekarang, waktu akan menyesuaikan kembali. Kamu tetap akan membuat pilihan yang sama, hanya dalam bentuk lain. Satu-satunya cara untuk mengubah masa depan… adalah dengan membuatmu mengerti alasan di balik semuanya.” Aqila menutup wajahnya dengan tangan. Segalanya terlalu cepat. Terlalu besar. “Dan kamu yakin aku bisa berubah?” Hary menatapnya, lebih lembut dari sebelumnya. “Aku tahu kamu bisa. Karena aku melihat versi lain dari dirimu yang penuh cahaya. Tapi juga… versi yang hilang. Aku datang untuk memastikan kamu memilih jalan yang tak akan menghancurkan keduanya.” --- Keesokan harinya Matahari bersinar lembut. Seruni tampak tenang, seperti biasa. Tapi di dalam kepala Aqila, badai masih mengamuk. Ia berjalan menyusuri koridor sekolah, mendengar obrolan teman-temannya, tertawa ringan, komentar tentang guru yang menyebalkan—semua tampak begitu… kecil, dibandingkan apa yang kini ia tahu. Hary duduk di belakang perpustakaan, menyamar sebagai “konsultan sistem digital” yang katanya sedang meneliti pustaka-pustaka kuno. Bibinya tidak curiga. Tentu saja, pria dengan wajah tenang dan senyum sopan akan mudah diterima siapa pun. Aqila mendekatinya dengan setumpuk buku. “Kalau kamu tahu aku akan melakukan hal fatal itu… kenapa tidak langsung bilang saja ke aku? Tentang pilihan apa itu.” Hary menatapnya. “Kamu harus sampai ke titik itu sendiri. Kalau aku bocorkan semuanya, kamu hanya akan mengikuti arahku. Itu bukan perubahan. Itu manipulasi.” Ia menghela napas. “Aku bukan penjahat, Hary.” “Aku tahu. Kamu hanya… seseorang yang tersesat karena terlalu peduli.” --- Dua minggu sebelumnya Setiap malam, Hary menceritakan potongan masa depan. Tapi tidak secara langsung. Ia memberikan Aqila teka-teki, mimpi dalam bentuk cerita, dan menyuruhnya menebak sendiri maknanya. Salah satunya tentang “bayi waktu”—sebuah metafora untuk keputusan yang tampaknya sepele, tapi tumbuh menjadi peristiwa besar. “Apa itu aku?” tanya Aqila suatu malam di loteng toko buku. “Bukan,” jawab Hary. “Tapi kamu yang memeliharanya.” Hari demi hari, Aqila merasa pikirannya dipenuhi pertanyaan. Tapi di tengah semua itu, ia mulai menyukai kehadiran Hary. Seseorang yang memahami diamnya. Yang tidak memaksa. Yang hanya duduk di sampingnya, membaca buku puisi, atau membuat teh saat hujan turun. Perlahan, dari rasa ingin tahu, tumbuh kepercayaan. Dan dari kepercayaan, tumbuh sesuatu yang lebih lembut… Kekaguman. --- Masa Lalu Aqila Ketika Aqila berusia 10 tahun, ibunya meninggal dalam kecelakaan yang aneh—tersambar petir saat badai. Ayahnya menghilang sejak ia bayi. Ia tumbuh bersama Bibi Rani, seorang pemilik toko buku yang hangat tapi pendiam. Aqila terbiasa sendiri. Ia tidak suka bertanya. Tidak suka menangis di depan orang. Ia menyimpan segalanya dalam diary tua berwarna hitam—yang kini mulai ia buka lagi setelah sekian lama. Dan ternyata, di sana ada halaman kosong… yang perlahan mulai ia isi dengan kalimat tentang seseorang yang datang dari masa depan. Tentang Hary. --- Hari ke-15 Dua hari sebelum “keputusan besar” itu. Aqila tidak tahu pilihan apa yang akan ia buat. Tapi pikirannya terus kembali ke satu hal: seseorang akan terluka. Seseorang akan hilang. Dan semakin dekat hari itu, wajah Hary tampak semakin murung. Seperti seseorang yang tahu bahwa ia akan kehilangan sesuatu—atau seseorang. Malam itu, mereka duduk di taman kota. Hujan gerimis turun ringan. Daun-daun berkilau di bawah lampu jalan. Dunia terasa pelan. “Kalau kamu kembali ke masa depan,” tanya Aqila pelan, “apa kamu akan mengingatku?” Hary menoleh. “Aku tak pernah melupakanmu.” Mata Aqila membulat. “Maksudmu…” Hary terdiam. Tapi kali ini, diamnya penuh makna. Ia tidak menyangkal. Aqila merasa jantungnya berdetak lebih cepat. “Kamu… pernah mengenalku sebelumnya?” Hary menatap matanya langsung. “Di masa depan, kamu sudah tidak ada. Tapi ada jejakmu. Surat. Lukisan. Potongan audio. Kamu… meninggalkan warisan yang tidak bisa digantikan siapa pun.” Ia menghela napas. “Dan aku… jatuh cinta pada dirimu dari serpihan waktu.” --- Aqila tak tahu harus merasa apa. Ia ingin menertawakannya. Ingin marah. Tapi ia juga ingin menangis. Karena di balik semua absurditas ini, ia merasa… benar-benar dilihat. Dipahami. Dicintai. “Oke,” katanya sambil berdiri. “Kamu bilang aku akan buat keputusan besar, kan?” Hary mengangguk. “Bawa aku ke tempat di mana semuanya akan terjadi. Aku ingin tahu. Aku ingin memilih.” --- Hari ke-17 Mereka berdiri di atas bukit kecil, menghadap ke danau. Matahari terbenam di balik awan keemasan. Di tangan Hary ada perangkat ChronoPortal, yang ia nyalakan untuk menunjukkan waktu paralel. Di layar hologram muncul: Aqila menyelamatkan seorang anak kecil dari kecelakaan—dengan menabrakkan mobil ke tiang listrik. Anak itu selamat. Tapi dalam efek riak waktu, jaringan listrik kota rusak. Komputer kuantum pemerintah berhenti bekerja. Dan sistem kontrol waktu global terganggu. Dari situlah dimulai kekacauan waktu yang berujung pada Peristiwa Gelombang Waktu 2071. “Anak itu… siapa?” tanya Aqila. Hary menatapnya. “Aku.” Aqila membeku. “Kalau kamu tidak menyelamatkan aku di masa ini, aku tak akan pernah tumbuh. Tak akan pernah ada untuk kembali ke kamu. Tapi jika kamu menyelamatkanku, dunia akan retak.” Pilihan ada di tangan Aqila. --- Dan di antara dua kemungkinan itu—ia hanya punya satu hati. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN