Hening. Seperti waktu menahan napas bersamaan dengan Aqila.
Suara detik jam tua di dinding toko buku seolah menjadi satu-satunya bukti bahwa waktu masih berjalan.
Aqila berdiri, tubuhnya sedikit bergetar. “Bagaimana bisa kamu menaruh beban sebesar ini di pundakku?” katanya pelan.
Hary hanya menatapnya. Tatapannya bukan penjara, tapi juga bukan pelarian.
Itu tatapan seseorang yang telah melihat dunia hancur dan kembali untuk menjaganya tetap utuh. Seseorang yang kehilangan terlalu banyak, tapi masih memeluk satu harapan: Aqila.
“Kamu tidak sendirian,” jawab Hary lembut. “Tapi kamu… kuncinya.”
Aqila memejamkan mata. Kata-kata itu terasa seperti rantai tak kasat mata yang menggenggam hatinya.
> Kalau aku menyelamatkan dia, dunia akan retak.
Kalau aku tidak menyelamatkan dia, dia tak akan pernah kembali.
“Apakah itu pilihan? Atau… jebakan?” tanyanya lirih.
“Pilihan,” Hary menjawab tegas. “Tapi pilihan yang tidak akan pernah mudah.”
---
1. Dinding Waktu
Hari itu berubah menjadi malam tanpa warna. Langit Seruni kelabu, seperti meniru suasana hati Aqila.
Ia kembali ke kamarnya membawa dua hal: secarik surat dari ibunya dan kata-kata Hary yang berputar tanpa henti di pikirannya.
Ia membuka buku harian lamanya, halaman yang tak pernah disentuh sejak kematian ibunya. Di sana, tertulis dengan tinta pudar:
> "Kalau aku bisa melompat ke masa depan, aku hanya ingin memastikan aku bahagia."
– Aqila, usia 10 tahun.
Ia tersenyum getir. Masa kecilnya dulu penuh mimpi. Tapi kini, masa depannya menjadi teka-teki.
Lalu ia menulis:
> “Hari ini, seseorang dari masa depan datang. Katanya aku menyelamatkan dunia. Tapi untuk melakukannya… aku harus kehilangan seseorang.”
Tinta di ujung pena sempat menetes, membentuk noda.
Lalu ia menulis satu kata besar, tebal:
> Kenapa aku?
---
2. Tiga Hari Setelahnya
Toko buku Dahan Cerita tampak tenang, tapi getaran yang mengalir di dalamnya tidak.
Di lantai dua, Hary telah memasang alat kecil di dinding—tampak seperti jam, tapi dengan jarum yang berputar acak.
“Ini... penjaga waktu,” katanya. “Aku harus memantau stabilitas garis waktu lokal. Kalau melenceng terlalu jauh, aku harus mundur.”
Aqila duduk di kursi rotan. Matanya memandangi alat itu seolah berharap ia akan meledak dan membebaskannya dari segala pilihan.
“Kamu yakin garis waktu bisa berubah hanya karena aku menyelamatkanmu?”
“Bukan hanya karena itu,” jawab Hary. “Tapi karena kamu adalah titik simpul. Di masamu, ada sesuatu yang kamu pilih untuk lakukan. Dan itu… mengguncang fondasi waktu.”
“Apa aku… orang jahat di masa depan?”
Hary memandangnya. “Tidak. Tapi kamu adalah seseorang yang terlalu percaya pada cinta, bahkan ketika logika dunia menolaknya.”
---
3. Pertemuan dengan Masa Lalu
Suatu malam, saat hujan kembali turun, Hary mengajak Aqila keluar.
Mereka berjalan ke bagian kota yang sudah hampir terlupakan—deretan rumah tua, g**g sempit, dan tiang listrik yang berdengung pelan.
“Ini tempat apa?” tanya Aqila.
“Rumah masa kecilku,” jawab Hary.
Aqila menatapnya. “Tunggu... kamu pernah tinggal di sini?”
Hary menatap bangunan yang hampir runtuh. “Di garis waktu asalku, iya. Tapi tidak di garis waktu ini.”
Aqila memeluk dirinya sendiri. Angin malam menusuk. “Aku makin tidak paham.”
“Waktu tidak linier seperti yang kita pikir. Ia melingkar, bercabang, dan saling bertabrakan. Dan kadang… satu keputusan kecil bisa mengubah arah seluruh sungai waktu.”
Aqila melihat ke dalam rumah yang gelap.
Lalu, dari sudut jendela, ia melihat sesuatu.
> Seorang anak laki-laki.
Usia sekitar 7 tahun. Rambutnya acak-acakan. Matanya penuh ketakutan.
Ia melihat mereka… lalu bersembunyi.
“Hary?” bisik Aqila. “Itu… kamu?”
Hary menarik napas. “Itu aku. Versi kecilku. Yang seharusnya sudah tidak ada di sini. Ini... anomali waktu.”
Aqila menatapnya dengan mata berkaca. “Kalau dia tetap di sini… apa artinya kamu tak akan ada?”
“Bisa jadi,” jawab Hary pelan. “Tapi lebih parah dari itu—bisa jadi semuanya runtuh. Karena dua versi dari satu orang tak seharusnya berada di garis waktu yang sama.”
---
4. Pelarian Kecil
Malam itu, Hary membawa Aqila ke tempat persembunyian rahasia. Sebuah bunker kecil di bawah taman kota.
“Tempat ini aman dari interferensi waktu. Terlindungi oleh frekuensi temporal.”
“Frekuensi temporal?” Aqila mendengus. “Kenapa semua ini terasa seperti mimpi aneh?”
“Karena ini memang di luar logika. Tapi bukan mimpi.”
Di dalam bunker, Aqila melihat berbagai benda asing: peta holografis, jam waktu yang berdetik terbalik, dan foto-foto dirinya.
Dirinya… di masa depan.
“Kenapa ada ini?” tanyanya kaget.
“Karena aku pernah mengenal kamu. Di masa depan. Kita pernah bertemu... sebelum dunia runtuh.”
Aqila terdiam. Tangannya gemetar.
“Jadi… kamu mencintaiku di masa depan?”
Hary menatapnya, dalam dan sunyi.
“Bukan hanya mencintai. Kamu adalah alasan aku kembali.”
---
5. Pertanyaan Terakhir
Aqila berjalan ke luar bunker malam itu dengan hati yang penuh guncangan.
Ia tak bisa tidur. Tak bisa berpikir jernih.
Paginya, ia menghilang.
---
Hary mencarinya ke mana-mana. Toko buku. Rumah. Kafe favorit. Tempat mereka pernah bicara.
Hingga akhirnya ia menemukannya di peron stasiun tua.
Aqila duduk sendirian, menatap rel kosong.
“Aku butuh sendiri,” katanya pelan saat Hary mendekat.
“Aku tahu.”
“Semua ini… terlalu berat. Aku hanya seorang perempuan biasa, Hary. Aku bahkan belum tahu mau kuliah atau tidak. Bagaimana bisa aku diminta memilih antara menyelamatkanmu atau dunia?”
Hary duduk di sampingnya. Diam.
Lalu Aqila berkata, “Kamu bilang aku terlalu percaya pada cinta. Tapi kamu… kamu juga.”
“Ya,” jawab Hary. “Dan aku tahu rasanya kehilangan segalanya. Tapi... aku lebih takut kehilangan kamu.”
Aqila menatapnya. Lalu berkata pelan:
> “Kalau begitu... mari kita ubah dunia bersama. Tapi dengan caraku.”
---