“Kalau begitu... mari kita ubah dunia bersama. Tapi dengan caraku.”
Kata-kata Aqila menggantung di udara seperti mantra. Hary menatapnya, lama, seolah ingin menangkap setiap getaran dalam suaranya, setiap makna di balik matanya yang tajam namun penuh luka.
Untuk sesaat, hanya desiran angin malam dan kelap-kelip cahaya dari papan reklame tua yang berbicara. Di sekitar mereka, dunia terasa membeku.
“Aku tidak pernah mengikuti orang lain sebelumnya,” kata Hary akhirnya, bibirnya melengkung samar. “Tapi untuk kamu… aku akan belajar.”
Aqila menarik napas dalam. d**a masih sesak oleh semua fakta yang baru saja menghantamnya. Dunia masa depan. Perjalanan waktu. Ancaman keruntuhan. Dirinya yang harus diselamatkan.
Dan sekarang, ia harus mengambil kendali.
---
Mereka kembali ke rumah tua milik nenek Aqila. Tempat itu sudah lama tak berpenghuni sejak neneknya wafat dua tahun lalu, tapi masih utuh. Debu dan bau kayu lapuk menyambut mereka begitu pintu dibuka. Hary menyapu pandangan ke sekeliling ruangan dengan rasa penasaran khas orang asing—karena itulah dia.
“Rumah ini,” kata Aqila, melepas jaketnya, “dulu tempatku berlindung dari semua yang buruk. Kini, sepertinya… tempat ini akan jadi markas pemberontakan.”
Hary mengangguk setuju. Ia menyalakan lampu tua di ruang tengah, dan cahayanya memantul redup di mata logam kecil yang tertanam di pergelangan tangannya.
“Aku akan membantumu,” katanya. “Tapi kamu perlu tahu dulu… siapa kamu sebenarnya.”
Aqila menoleh. “Apa maksudmu?”
Hary mengangkat pergelangan tangannya, dan sebuah proyeksi hologram muncul di udara. Di layar transparan itu, sebuah file terbuka. Ada namanya: AQILA NADIRA – Subjek 24X | Jenis: Anomali Sinkronisasi Waktu | Risiko: Tinggi.
Jantung Aqila berdegup.
“Ini… file tentang aku?”
“Dari pusat arsip waktu tahun 2125,” kata Hary. “Di masa depan, kamu disebut sebagai ‘titik retak’. Kamu adalah satu dari sedikit orang yang secara genetis dan mental mampu mempengaruhi lintasan sejarah... hanya dengan keputusan emosional.”
Aqila duduk perlahan di sofa tua yang masih kokoh. “Kedengarannya seperti... film fiksi ilmiah.”
Hary menatapnya tajam. “Sayangnya, ini bukan fiksi. Kamu adalah faktor yang membuat masa depan tidak stabil. Tapi kamu juga satu-satunya yang bisa memperbaikinya.”
“Bagaimana caranya?” tanya Aqila pelan. “Apa yang harus aku lakukan?”
“Bertahan,” kata Hary. “Dan jangan jatuh ke dalam luka yang akan mengubahmu.”
---
Malam itu, mereka berbicara selama berjam-jam. Tentang masa depan yang penuh pengawasan. Tentang perang waktu antara faksi penstabil sejarah dan kelompok penentang perubahan. Tentang keberadaan 'pembersih waktu'—agen dari masa depan yang dikirim untuk menghapus ‘anomali’ seperti Aqila.
Dan tentang cinta.
“Jadi kamu dan aku… kita punya masa depan?” tanya Aqila pada akhirnya, matanya menatap Hary dengan ragu.
“Aku tidak tahu pasti,” jawab Hary. “Dalam satu versi sejarah, kita saling mencintai. Tapi dalam versi lainnya… kamu tidak pernah selamat.”
Diam. Kalimat itu menampar Aqila seperti badai.
“Dan kamu tetap kembali ke sini, walau kemungkinan aku selamat kecil?” tanyanya pelan.
Hary mengangguk. “Karena kemungkinan kecil itulah yang membuat segalanya layak diperjuangkan.”
---
Keesokan paginya, langkah pertama Aqila untuk “mengubah dunia dengan caranya” dimulai.
Dia kembali ke kehidupannya yang biasa—bekerja di toko buku kecil, berinteraksi dengan pelanggan, dan pura-pura tidak tahu bahwa setiap sudut bisa saja diawasi oleh mata dari masa depan.
Tapi kini ia memiliki misi. Dan seorang sekutu.
Hary tidak selalu bersamanya secara langsung. Ia tinggal di rumah tua nenek, meretas sistem satelit lokal dan mengawasi kemungkinan kedatangan agen pembersih. Ia mengajari Aqila cara membaca gerakan, mengenali pola-pola sinyal masa depan, dan—yang paling sulit—mengendalikan emosinya agar tidak memicu ‘perubahan berbahaya’.
Namun suatu sore, saat toko hampir tutup, seorang pria tinggi dengan mantel kulit memasuki toko.
Ia tidak memesan kopi. Tidak menyapa. Ia hanya berdiri diam, menatap Aqila dari balik rak buku.
Aqila merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Hary,” bisiknya ke alat komunikasi kecil yang ditanam di gelangnya.
“Aku sudah melihatnya,” jawab Hary dari rumah. “Itu mereka. Pembersih.”
---
Aqila berusaha tetap tenang. Tapi pria itu melangkah pelan, menyusuri lorong buku seperti singa yang mencium aroma mangsanya.
“Kamu tidak seharusnya berada di sini,” katanya tiba-tiba.
Aqila berpura-pura tersenyum. “Maaf?”
“Waktu telah memperingatkan kami tentang kamu. Anomali harus dihapus sebelum tumbuh terlalu dalam.”
“Maaf, Anda bicara soal siapa, ya?” jawab Aqila, tetap menjaga nada santainya.
Tapi pria itu sudah mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya—sebuah alat seperti pena, tapi menyala merah di ujungnya.
Aqila langsung bergerak. Ia berlari ke belakang toko, melewati pintu gudang, lalu naik ke loteng.
“Hary! Aku dikejar!” teriaknya.
“Lompat ke atap belakang, tiga meter. Aku kirim koordinat!”
Detik-detik berikutnya terasa seperti potongan film laga. Aqila meloncat ke atap, lututnya tergores. Agen itu mengejarnya. Tapi Hary muncul dari kabut senja, menariknya ke belakang genteng dan melempar semacam bom asap kecil yang membuat waktu terasa melambat.
Dalam kekacauan itu, mereka berhasil kabur. Tapi Aqila tahu, hidupnya tak akan pernah bisa kembali seperti semula.
---
Di malam itu yang sunyi, Hary memandangi langit.
“Aku tidak bisa menjagamu selamanya,” katanya pelan.
Aqila duduk di sampingnya, dengan lutut tergores dan luka di tangannya yang sudah dibalut. “Aku tidak butuh penjaga. Aku butuh teman. Partner. Seseorang yang percaya padaku.”
Hary menoleh. “Aku selalu percaya padamu. Tapi dunia... tidak.”
Aqila tersenyum kecil. “Maka mari kita buktikan bahwa dunia salah.”
Hary terdiam sejenak. Lalu, dalam lirih suara yang hampir seperti bisikan, ia berkata, “Kalau kamu gagal, semua orang yang pernah lahir setelah tahun 2080... akan hilang. Termasuk aku.”
Aqila menggenggam tangannya. “Kalau kamu hilang… maka dunia tak layak untuk diselamatkan.”
---
Namun jauh dari mereka, di suatu tempat yang tersembunyi di bawah tanah kota, dua agen pembersih waktu melaporkan insiden hari itu.
“Subjek 24X terlalu cepat beradaptasi.”
“Hubungannya dengan Subjek 10-H sudah melampaui ambang batas waktu normal.”
“Kita harus mempercepat rencana. Aktivasi ‘reset’ tahap pertama.”
Dan dari layar besar yang menampilkan foto Aqila, muncul peringatan baru:
STATUS: TARGET UTAMA. KEBERADAANNYA MENGANCAM STRUKTUR WAKTU.
---