Bab 5: Musuh dari Bayangan, Rahasia dari Darah

1192 Kata
STATUS: TARGET UTAMA. KEBERADAANNYA MENGANCAM STRUKTUR WAKTU. Kalimat itu terpampang di layar besar, berkedip merah menyala. Di hadapan layar, tiga sosok berjubah hitam berdiri diam seperti bayangan, menatap dengan wajah tanpa emosi. Di balik jubah mereka, tidak terlihat wajah manusia—hanya topeng logam tipis dengan simbol waktu yang terukir di dahi. Salah satu dari mereka bersuara, suaranya berat dan bergema, seperti berasal dari dua dimensi waktu yang tumpang tindih. > “Subjek 24X berkembang terlalu cepat. Jika ia dibiarkan, ia akan membuka kunci retakan dimensi yang tidak pernah berhasil kita perbaiki.” “Apakah Reset akan dijalankan sepenuhnya?” tanya yang lain. “Tidak. Belum. Kita kirim Unit Bayangan terlebih dahulu. Bila mereka gagal, kita akan mengaktifkan Protokol NOL.” Dan layar beralih menampilkan gambar lain—bukan hanya Aqila, tapi juga Hary. > “Subjek 10-H telah melanggar perintah utama. Ia harus dieliminasi.” --- Sementara itu, jauh di masa sekarang, Aqila berdiri di depan cermin di kamar kecil rumah neneknya. Matanya menatap bayangannya sendiri, tapi dalam pikirannya, ia melihat lebih dari sekadar pantulan. Ia melihat dirinya berlari dari agen. Ia melihat kenangan masa kecil yang retak. Ia melihat tatapan ibunya sebelum meninggal, yang tak pernah memberi jawaban. Dan di balik semua itu, ia mulai merasa… ada sesuatu yang lebih besar. “Aku bukan hanya ‘anomali’,” gumamnya. “Aku bagian dari sesuatu yang tak pernah dijelaskan padaku.” Pintu diketuk pelan. Hary masuk, membawa laptop kecil dengan cahaya biru menyala. “Aku punya sesuatu,” katanya. “Tapi kamu harus janji untuk tetap tenang.” Aqila mengangguk, meski perutnya mendadak terasa berat. Hary menekan tombol. Sebuah file video terbuka. Dalam rekaman itu, terlihat seorang wanita—sekilas wajahnya mirip Aqila. Ia berada di ruang laboratorium futuristik, mengenakan pakaian putih, dan tengah berbicara pada kamera. > “Kalau kamu melihat ini, berarti sistem keamanan sudah gagal, dan kamu… adalah aku. Versi muda dari diriku.” Aqila ternganga. Tangannya menutupi mulut. “Itu… aku?” “Ya,” kata Hary. “Dari masa depan. Video ini terenkripsi. Hanya bisa dibuka jika sistem mengenali biometrikmu.” Di video, wanita itu melanjutkan: > “Aku membuat keputusan untuk kembali ke masa lalu. Bukan untuk menyelamatkan diri, tapi untuk mengubah akar dari kerusakan. Tapi… aku gagal. Waktu tak bisa dikendalikan sepenuhnya. Dan kini, semuanya ada di tanganmu. Kamu harus menemukan Darah Asal.” “Darah… Asal?” Aqila mengerutkan kening. “Darah Asal,” Hary menjelaskan, “adalah istilah untuk genetik yang menghubungkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kamu bukan hanya manusia biasa. Kamu… keturunan dari pencipta perangkat waktu pertama. Darahmu menyimpan kode asli yang bisa membuka, menutup, atau menghancurkan jalur waktu.” Aqila terdiam. Dunia runtuh di dalam kepalanya. “Aku… bukan orang biasa?” “Tidak,” kata Hary. “Kamu adalah kunci.” --- Hari-hari berikutnya berjalan dalam ketegangan. Aqila dan Hary berpindah-pindah tempat, bersembunyi dari deteksi. Namun di sela-sela pelarian, Aqila mulai mengalami sesuatu yang aneh: mimpi-mimpi. Mimpi itu selalu sama. Ia berdiri di depan menara tinggi, jam raksasa berdetik mundur, dan seorang wanita tua memanggil namanya, mengatakan hal yang sama berulang kali: > “Darahmu mengikat masa, tapi hatimu mengikat masa depan.” Setelah mimpi keempat, Aqila tak tahan lagi. “Apa maksudnya semua ini?” tanyanya keras di tengah malam. Hary menatapnya. “Aku tahu kamu sedang ketakutan. Tapi ada sesuatu yang belum aku bilang padamu.” “Apalagi?” desis Aqila. Hary mengambil napas panjang. “Dua puluh tahun dari sekarang, ibumu hidup kembali. Bukan sebagai manusia, tapi sebagai bagian dari sistem waktu buatan.” Aqila membeku. “Apa?” “Ibumu adalah salah satu ilmuwan yang menciptakan perangkat waktu. Tapi ia mengorbankan tubuhnya untuk menyatu dengan sistem utama, sebagai penjaga dimensi. Jadi… saat kamu melihat wanita tua dalam mimpimu, itu bukan mimpi. Itu… dia. Ibumu.” Aqila terduduk di lantai. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. “Kenapa aku tidak pernah tahu?” isaknya. “Karena kalau kamu tahu lebih cepat… kamu akan hancur lebih cepat.” --- Keesokan harinya, Aqila dan Hary memutuskan mengambil langkah besar. Mereka harus menemukan lokasi asli laboratorium waktu pertama. Menurut rekaman lama, tempat itu tersembunyi di bawah reruntuhan bunker militer tua di pinggiran kota. Perjalanan ke sana tidak mudah. Mereka harus melewati beberapa zona mati, daerah yang dipantau oleh satelit masa depan dan dipenuhi agen bayangan. Tapi ketika mereka akhirnya tiba di pintu bunker tua itu, sesuatu terjadi. Udara di sekitar mereka mendadak dingin. Seperti waktu melambat. Dan dari kabut tebal, muncul tiga sosok berjubah hitam. “Unit Bayangan,” bisik Hary. “Mundur, cepat!” Tapi Aqila tidak bergerak. “Aku harus masuk ke dalam bunker,” katanya. “Mereka akan membunuhmu!” “Biar saja. Aku tak bisa lari terus.” Salah satu agen bayangan melangkah maju. Tangannya mengangkat benda seperti belati transparan. “Subjek 24X. Anda dilarang mengakses lokasi ini.” “Siapa yang melarang?” tantang Aqila. “Struktur Waktu. Keputusan Dewan Penjaga.” “Kalau begitu,” jawab Aqila sambil melangkah maju, “aku cabut keputusan itu.” Dalam sekejap, gelang di tangannya menyala. Warna biru berubah menjadi merah darah. Dan dari bawah tanah, pintu logam tua terbuka perlahan, seperti menyambut pemilik sahnya. Tiga agen bayangan maju, tapi Hary menarik s*****a kecil dari dalam jaketnya—s*****a waktu. Ia menembakkan gelombang yang membuat dua dari mereka membeku di udara. Yang satu lagi melompat ke arah Aqila. Dan saat itu pula, tangan Aqila menyentuh tanah. Cahaya merah menyebar seperti api. Agen itu terlempar jauh dan langsung meleleh menjadi debu waktu. Aqila berdiri terengah-engah. “Apa yang terjadi padaku?” bisiknya. Hary menatapnya dengan campuran kagum dan ketakutan. “Kamu… mengaktifkan inti darah. Kamu mulai membuka kekuatanmu sendiri.” --- Di dalam bunker, mereka menemukan ruang laboratorium tua yang masih berfungsi. Di salah satu dindingnya, terdapat deretan foto ilmuwan awal pencipta waktu. Salah satunya adalah ibunya. Dan di bawah foto itu tertulis: > “Pencipta Waktu Pertama: Raina Nadira – Pengorbanannya adalah awal dari masa.” Aqila menatap foto itu lama. “Itu… ibu.” Hary menekan tombol di meja. Hologram terakhir menyala. > “Putriku. Jika kamu melihat ini, berarti kamu sudah menemukan siapa dirimu. Jangan biarkan mereka mengambil hatimu. Karena kekuatan waktu bukan hanya di darah… tapi juga di cinta. Dan hanya kamu yang bisa menyelamatkan Hary.” Aqila terdiam. Air matanya jatuh. “Apa maksudnya… menyelamatkan Hary?” Hary tak menjawab. Tapi saat Aqila menoleh, pria itu sudah mulai menghilang perlahan. “Hary?!” “Aku… terlalu lama berada di masa ini,” bisiknya. “Waktu sedang menarikku kembali.” “Tidak! Aku baru saja menemukan segalanya! Kamu tidak boleh pergi!” Tapi tubuh Hary sudah mulai berubah menjadi partikel cahaya. “Aku percaya padamu, Aqila. Dunia ini... adalah milikmu sekarang.” Dan dalam kilatan cahaya… Hary menghilang. --- Aqila terduduk di lantai bunker yang dingin, sendiri. Tangannya menggenggam sisa cahaya terakhir dari pria yang datang dari masa depan. Hatinya hancur. Tapi jiwanya menyala. Ia tahu ini baru awal. Ia akan ubah dunia. Ia akan cari jalan untuk membawa Hary kembali. Dan ia akan buktikan pada waktu itu sendiri… Bahwa takdir bisa dibentuk—oleh cinta, keberanian, dan pilihan yang tulus. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN