Keheningan mencekam menggantung setelah suara Adelia menggema di meja makan. Semua mata tertuju padanya, mata Erika yang bergetar menahan perih, mata Arvan yang tajam tapi menyimpan kekaguman samar, dan mata Vikram yang mendidih. "Cukup, Adelia!" bentak Vikram akhirnya, telapak tangannya menghantam meja hingga piring bergetar. "Aku sudah terlalu lama diam menghadapi sikap kurang ajar ini!" Adelia menegakkan bahu, wajahnya tak gentar meski dadanya bergetar hebat. "Aku nggak kurang ajar, Pa. Aku cuma jujur." Erika menghela napas, mencoba menyentuh lengan Vikram. "Sudah, Mas. Jangan marah. Mungkin Adelia hanya butuh waktu—" "Waktu?" Vikram menoleh tajam. "Berapa lama lagi, Erika? Dia sudah bertahun-tahun menutup hatinya. Sampai kapan dia akan terus menolak?" Arvan menyandarkan tubuh, mat

