Adelia terpaku. Nama itu, Sandra, meluncur dari bibir ayahnya bagai belati yang menusuk jantungnya. Matanya membelalak, napasnya tercekat. "Apa?" Suara Adelia nyaris bergetar, lirih tapi penuh guncangan. "Papa barusan bilang siapa?" Vikram menatapnya lekat-lekat, sudut bibirnya terangkat sinis. "Kamu dengar jelas, Adelia. Semua ini bukan semata keinginanku. Sandra, Mamamu menjebakku saat aku hampir menikah dengan Erika, dan akhirnya aku terpaksa menikahi dia!" "Nggak. Nggak, mungkin!" Adelia menggeleng cepat, hampir histeris. Ia menatap Erika, mencari jawaban, mencari bantahan. "Mama nggak mungkin melakukan itu! Mama selalu ada untukku, untuk kita! Papa jangan bawa-bawa Mama!" Erika terdiam, wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar seolah hendak bicara tapi tak kuasa mengeluarkan kata.

