Gadis Malang

1665 Kata

Arvan duduk lama di sisi ranjang, tak bergeming sedikit pun seakan takut Adelia menghilang jika ia alihkan pandangan. Lampu kamar yang redup memantulkan siluet tajam wajahnya, namun sorot matanya penuh pertarungan batin. Ia meraih ponsel dari saku celananya, jari-jarinya sempat ragu. Sejenak ia menatap layar gelap, sebelum akhirnya mengetik pesan singkat kepada asistennya. "Aku butuh dokter yang terpercaya ke apartemenku sekarang juga." Sambil menunggu balasan, Arvan menunduk, memperhatikan tangan Adelia yang tergeletak di atas selimut. Jemarinya kecil, pucat, dingin. Perlahan, tanpa sadar, Arvan menyentuhnya. Hangatannya ia bagi, walau hanya sedikit. Balasan masuk. "On the way. Tunggu lima belas menit." Arvan menarik napas dalam, kemudian menatap wajah Adelia yang masih digelayuti i

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN