"Pa ...." Yuna mencoba menenangkan, tapi Derdy sudah beranjak ke arah pintu, jelas berniat mencari Arvan ke kantornya. Adelia buru-buru menahan dengan suara serak. "Papa, jangan salahkan Arvan. Tolong, jangan besar-besarkan masalah ini." Yuna menoleh cepat padanya, heran. "Kenapa kamu bela dia, Del? Mama bisa lihat kamu terluka. Mama tahu kamu tidak bahagia. Apa yang sebenarnya terjadi semalam?" Air mata Adelia mengalir begitu saja. Ia menutup wajah dengan telapak tangannya, tubuhnya bergetar. 'Aku nggak kuat, semua orang menuntut aku untuk berubah, tapi siapa yang peduli sama luka yang aku rasain sendiri?' Yuna langsung merangkulnya, menepuk punggungnya dengan lembut. "Sudah, Sayang. Mama di sini. Kamu nggak sendirian." Tapi di balik pelukan itu, Adelia tahu, semua yang ia sembunyik

