Yuna terpaku, wajahnya pucat. Aluna langsung meraih lengan ibunya, khawatir melihat sorot mata Yuna yang mendadak sayu. "Arvan, cukup!" Suara Yuna pecah, separuh menahan tangis, separuh menahan amarah. "Kamu sudah bukan anak kecil. Kalau kamu berani sebut nama Mira lagi untuk melukai Adelia, jangan harap Mama bisa memaafkan kamu!" Adelia yang sejak tadi hanya diam, akhirnya menatap Arvan dengan dingin. "Kamu mau bawa aku pergi dari sini kan, ayo pergi. Jangan buat keributan di sini, apalagi menyakiti Mama!" Arvan melangkah cepat, menarik tangan Adelia tanpa ampun. "Kita pulang sekarang!" bentaknya. "Lepas!" Aluna spontan meraih lengan Adelia, tubuhnya jadi perisai. "Kalau mau bawa Adel, aku ikut!" Tatapan Arvan menggelap. "Terserah! Jangan pernah kira bisa halangi aku!" Dengan kasar i

