Arvan menyeringai, menyeka keringat di pelipisnya. "Simpan ancamanmu, Raffa. Besok, aku yang akan berdiri sebagai pemenang. Mira akan jadi milikku, dan kau? Kau akan hancur." Raffa mengangkat tangannya, siap menghantam wajah saudara kembarnya, tapi Arvan dengan cekatan menepis pukulan itu. "Tenang, Raffa. Besok aku ingin mengalahkanmu dengan mudah." Arvan menyeringai penuh kemenangan sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan. Pintu villa tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Raffa yang berdiri diam, rahangnya mengeras. Raffa pun pergi. *** Senja merangkak perlahan, meninggalkan langit yang mulai kelam. Di ruang tamu, lampu-lampu temaram memberikan suasana tenang, tapi ketegangan justru terasa mengental di udara. Mira berdiri di ambang pintu, memperhatikan Raffa yang baru saja ma

