Esok harinya, langit mendung menggantung di atas arena tinju pribadi keluarga Kusuma. Angin dingin menusuk tulang, seolah menjadi pertanda ketegangan yang akan pecah. Raffa berdiri di sisi ring, mengenakan celana pendek hitam dan sarung tangan merah. Wajahnya tenang, tetapi matanya memancarkan tekad yang membara. Di sisi lain, Arvan memasang ekspresi percaya diri, sesekali menggerakkan bahunya untuk melemaskan otot. Wajahnya dihiasi seringai angkuh. Mira berdiri di tepi ruangan bersama Aluna dan Derdy. Hatinya berdebar kencang, kedua tangannya saling menggenggam erat. "Mas, kenapa harus seperti ini?" bisiknya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Derdy menghela napas berat. "Ini cara mereka menyelesaikan masalah. Kadang, lelaki butuh bertarung untuk mendapatkan kedamaian." Gong tanda di

