Belajar Mencintai

1638 Kata

Arvan terdiam sejenak di ambang pintu, menelan kalimat-kalimat lama yang biasanya akan dilontarkan. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak dalam dirinya. Tatapan Adelia yang sinis, bercampur lelah, menusuk lebih dalam daripada pukulan Raffa. "Saya habis bertarung," jawabnya pelan, suaranya lebih rendah dari biasanya. "Bukan tawuran." Adelia mendengus, lalu memalingkan wajah, kembali menatap layar TV yang menampilkan acara tak jelas. "Bertarung? Sama siapa?" Arvan tak menjawab, melemparkan diri di sofa ruang tamu, tubuhnya remuk, wajahnya lebam. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Sementara itu, Adelia menatapnya. Ia menggigit bibir, menimbang. Hatinya keras, tapi ada sesuatu yang menahan ucapannya. Ingatannya melayang pada malam kemarin, ketika ia jatuh sakit. Saat itu, Arv

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN