bc

Ranjang Panas Sang Mantan

book_age18+
1.5K
IKUTI
18.7K
BACA
HE
escape while being pregnant
boss
bxg
brilliant
office/work place
disappearance
like
intro-logo
Uraian

"Ah, Bi. Jangan!"

"Kenapa, hem? Dulu kamu menyukai ini, Vi."

"Bian..."

"Yes, Baby. Aku merindukan desahanmu."

***

Setelah mengubur masa lalunya yang menyakitkan selama lima tahun, Viona harus mengalami nasib sial karena bertemu lagi dengan mantan kekasihnya yang sangat dia hindari.

*

Sialnya, Viona tidak bisa menolak kedatangan lelaki itu di hidupnya lagi sebab dia membutuhkan Biantara untuk kelangsungan hidupnya, dimana perusahaan tempatnya bekerja membutuhkan suntikan dana dari lelaki itu.

*

Tapi masalahnya, Biantara tidak hanya mendesaknya dalam hal pekerjaan saja. Tapi lelaki itu diam-diam menyusup sampai ke ranah pribadi Viona, sampai keberadaan anak laki-laki mereka yang Viona sembunyikan, terancam diketahui Biantara.

*

Ya, benar. Saat Biantara membuangnya, dia tidak tahu jika Viona pergi membawa benih yang ia tanam di rahimnya.

***

“Memangnya nggak ada kamar kosong lagi, Mbak? Please, Mbak. Tolong carikan ya. Masa saya sekamar sama atasan saya?” Viona panik di depan meja resepsionis hotel.

Sayangnya, sebelum sang resepsionis menjawabnya, Biantara sudah lebih dulu menyelanya, “Memangnya kenapa kalau kita sekamar, hem? Jangankan satu kamar, kamu lupa kalau kita bahkan pernah berbagi peluh di ranjang yang sama, Viona?”

chap-preview
Pratinjau gratis
Sorry
“Sorry, Vi. Hubungan kita sampai disini. Besok Angel sudah kembali, dan kami akan segera menikah.” Genggaman tangan Viona mengeras dengan sendirinya. Meremas sebuah benda kecil yang sejak tadi dia sembunyikan di balik tubuhnya. “Oh ya? Tunangan kamu sudah kembali?” Kalimat lirih itu meluncur terdengar biasa dari bibirnya. Getarannya ia tekan sedemikian mungkin, seolah-olah dia baik-baik saja dengan kabar itu. Biantara menoleh. Menatapnya tajam, tapi tidak terlihat seperti kemarahan. “Aku akan berikan kompensasi tambahan karena aku senang bekerjasama denganmu.” Viona mengangguk. Nyaris saja, karena gerakannya, air mata yang dia tahan mati-matian luruh begitu saja. Cepat, gadis itu menyamarkan dengan tawanya. “Aku pasti merindukan saat-saat kita bersama, Bi.” Meski matanya berkaca-kaca, tapi raut wajah Viona nampak bahagia. “Tidak perlu menangis. Kamu masih bisa mencariku kalau butuh sesuatu. Aku juga tidak akan mengganti posisimu dengan siapapun juga.” Viona mengibas-ngibas wajahnya dengan satu tangan. “It’s okay, Bi. Nggak apa-apa. Aku cuma terharu aja. Akhirnya, tugasku nyenangin kamu selesai juga. Makasih atas bantuan kamu selama ini. Berbahagialah dengan tunanganmu. Kalau ketemu, anggap saja kita hanya sebatas karyawan dan bawahan.” Lelaki itu mengangkat satu alisnya. “Aku yang seharusnya berkata seperti itu. Dari sikapmu sekarang, aku yakin kamu yang akan kesulitan melupakan aku.” “Enggak, Bi. Kalau udah dapet pacar, aku yakin aku bisa cepet lupain kamu. Sudahlah, kalau memang sudah waktunya, ya nggak apa-apa. Ini perjanjian kita.” Viona maju selangkah, agar bisa lebih dekat dengan Biantara. “Selamat ya. Jangan lupa undang aku kalau kalian menikah nanti.” Viona menepuk dua kali bahu Biantara. Saat tangan itu pergi, Biantara merasakan sesuatu, tapi dia tak tahu apa. Mungkin, ini seperti kehilangan atau entah apa. Yang pasti, Biantara merasa tak nyaman. “Ya sudah, kalau nggak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya permisi dulu, Pak Bian. Jangan lupa, jam 11 nanti anda ada meeting dengan klien baru.” ucapnya kemudian. Terdengar biasa, tapi cukup menohok perasaan Biantara. Tapi, seperti biasa lelaki itu hanya bereaksi dengan datar. Setelah membungkuk sopan, Viona undur diri dari ruangan kerja Biantara. Ruangan yang menjadi saksi perjanjian gila mereka dua tahun lalu atas dasar butuh sama butuh. Viona butuh uang karena dikejar rentenir akibat hutang-hutang Bapaknya yang kabur entah kemana, sementara Biantara perlu menyalurkan hasratnya setelah tunangannya harus berkarir di negeri orang. Terdengar tidak pantas, tapi seperti itulah yang terjadi. Sampai di ruangannya, Viona menatap benda yang sejak tadi ia genggam erat, dan ia sembunyikan dari Biantara. Sebuah benda yang sebenarnya ingin ia tunjukkan kepada lelaki pemilik buah hati yang sedang ia kandung sekarang. Sayangnya, belum sempat Viona memberitahu, dia sudah lebih dulu disadarkan ada dimana posisinya. Jika dia hanya seorang sekretaris plus-plus Biantara yang menawarkan tubuhnya hanya demi uang. Jika dia hanya menjadi alat lelaki kaya yang sialnya sudah bertunangan dengan wanita lain itu. Ya, Biantara memang b******k. Tapi, dia tidak salah. Dia tidak pernah salah. Viona lah yang salah disini. Dia yang setuju dengan perjanjian gila itu dan dia juga yang sudah melibatkan perasaan dalam permainan gila mereka. Viona membuka laptopnya setelah menyimpan testpack ke dalam tasnya. Dia membuka sebuah file template surat pengunduran diri, kemudian mengisinya dengan seksama. Rencananya, surat itu akan dia berikan kepada Biantara satu Minggu kemudian setelah dia membereskan pekerjaannya. Viona tidak marah kepada Biantara, tapi dia marah kepada dirinya sendiri. Bohong kalau dia tidak terbawa suasana dengan keputusan Biantara. Tapi, rasa sakit hati bukan satu-satunya alasannya. Melainkan, Viona harus menyembunyikan sebuah kehidupan baru yang tumbuh di rahimnya dari Biantara yang sudah jelas tidak menginginkannya. * * “Sarapan anda, Pak.” Biantara menatap sebuah croissant di atas piring dan secangkir kopi yang baru saja dihidangkan oleh Viona secara profesional. “Kamu nggak masak, Vi?” lelaki itu menatap wajah cantik yang terbiasa sangat dekat dengannya itu. Tatapannya terlihat sedikit tidak terima, tapi bukan berarti Biantara marah. “Menghangatkan croissant juga termasuk memasak, Pak. Saya mengolesi dengan butter dan memberinya madu. Kemudian memasukkan ke dalam microwave.” Viona terus bertingkah profesional sejak kemarin. Dia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya kepada Biantara. Apalagi, dia tak ingin disebut sebagai manusia tidak tahu diri. Biantara mendengus. Dia menegakkan tubuhnya dengan kesal. “Kamu malas hari ini, Vi. Padahal, aku ingin makan omelette atau scramble egg.” Viona melirik Biantara sekilas saja. Entah kenapa, apa yang diinginkan Biantara mirip dengan apa yang dia mau pagi ini sebagai menu sarapan. Jika keinginan Biantara tidak tercapai, sedang Viona benar-benar sarapan telur pagi ini. “Maaf, Pak Bian. Mungkin, besok pagi akan saya buatkan. Sebelum anda sampai kantor, Bapak bisa request sarapan terlebih dahulu.” “Tidak perlu!” Suara tegas nan lembut tiba-tiba terdengar diiringi bunyi pintu terbuka. Viona menoleh, begitupun dengan Biantara yang mengangkat kepalanya. “Kamu sudah kesini?” Tanya lelaki itu. Wanita cantik dengan rambut curly panjang itu berjalan anggun mendekati Biantara. Tak segan-segan memutari meja kerja Biantara kemudian bergelayut manja memeluk leher lelaki itu. Melihat hal itu, Viona spontan memalingkan wajahnya dengan sopan. “Aku merindukanmu, Bi. Kemarin, kita baru ketemu sebentar dan kamu nggak datang lagi ke rumah.” Biantara merengkuh pinggang ramping itu dengan senyum lebar. Jarak mereka semakin rapat, semakin menempel dengan mesra. “Maafkan aku. Aku banyak pekerjaan.” Biantara menatap Viona yang masih berdiri tegak menunggu perintah. Tapi, dengan tatapan itu dia paham apa yang harus dia lakukan. “Saya permisi, Pak Bian. Kalau ada sesuatu yang anda butuhkan, saya ada di depan.” Viona tidak berlebihan. Tetap tenang dengan gaya profesionalnya. Namun, baru saja dia memutar tubuh, Angel—wanita yang sedang bergelayut manja di leher Biantara memanggilnya. “Tunggu!” Viona berhenti, dia memutar tubuh dengan sopan. Tapi sebelumnya, dia pastikan ekspresinya tidak menunjukkan kekalahan sama sekali. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?” sopannya. “Mulai besok, kamu nggak perlu repot-repot menyiapkan sarapan untuk Bian.” Kata Angel. “Kalau tidak kesini, aku akan datang ke rumahnya langsung membuatkan sarapan.” Dagunya terangkat, menunjukkan ada dimana posisinya. Viona mengangguk singkat. “Baik, Bu. Terima kasih. Pekerjaan saya akan lebih ringan mulai besok. Kalau tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya permisi.” Viona tak perlu menunggu jawaban para majikannya itu. Yang ia tahu, dia ingin segera pergi dari tempat itu karena diingatkan lagi tentang siapa dirinya untuk Biantara, sangat menyakitkan untuk dirinya yang sedang tidak baik-baik saja. Sampai di luar ruangan Biantara, Viona mengelus samar perutnya yang masih rata. Menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menghilangkan sesak mendapati kenyataan jika Biantara bukanlah miliknya. “Tidak hanya sarapan. Dua hari lagi, semua yang berkaitan denganmu, aku tidak akan peduli lagi, Bi.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.4K
bc

Kali kedua

read
220.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.6K
bc

TERNODA

read
200.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook