*
*
“Vi, tolong siapin makan malam romantis buat aku sama Angel.”
Viona hanya mengangkat wajahnya sebentar. Kemudian, kembali fokus lagi pada layar monitor di depannya.
Ya, Biantara baru saja mendatangi ruangan kerjanya, karena sejak tadi lelaki itu kesulitan memanggil Viona.
Bukan tanpa alasan Viona tidak banyak merespon Biantara yang terkadang membutuhkannya di luar jobdesk sebagai sekretaris. Pasalnya, hari ini adalah hari terakhirnya menyelesaikan semua tugasnya sebelum akhirnya dia meninggalkan Biantara dan perusahaannya nanti.
“Maaf, Pak. Apa nggak bisa langsung reservasi ke restoran aja?”
Biantara duduk dengan santai di depan Viona. Menyandarkan punggungnya di kursi putar, kemudian menumpu satu kakinya pada paha yang lain.
“Ayolah, Vi. Aku kalau bukan kamu yang nyiapin, rasanya ada yang kurang.”
Viona menatap Biantara sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Oke. Nanti saya siapkan. Bapak tinggal bilang mau dinner yang seperti apa.”
Viona langsung memalingkan wajahnya lagi. Terlalu lama menatap Biantara, membuat hatinya sakit berkali-kali lipat. Tentu saja, Biantara tidak peduli itu.
“Aku bingung kalau kamu tanya seperti itu, Vi. Aku yakin kamu pasti tahu gimana seleraku.”
“Kalau selera calon tunangan Bapak?”
Biantara nampak gugup beberapa saat.
“Ee, dia menyukai semua jenis kejutan.” Pada akhirnya, kalimat itu yang meluncur sebagai jawaban Biantara. “Jangan lupa juga siapkan kalung berlian yang terbaik, Vi. Aku serahkan pilihannya sama kamu.”
Butuh dua detik Viona menjawab Biantara. Wanita itu justru menatap lelaki tak punya hati di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sampai akhirnya, Viona mengangguk datar, nyaris tanpa ekspresi.
“Baik. Nanti saya kabari lagi kalau semua sudah siap. Malam ini kan, Pak?”
“Ya. Aku ingin menikmati waktu berdua dulu sama Angel sebelum kami sibuk dengan rencana pernikahan.”
Viona mengangguk paham. “Kalau begitu, kalau sudah tidak ada perintah lagi, Bapak boleh keluar.”
Biantara menaikkan satu alisnya. Menatap aneh gadis yang sudah menjadi bagian dirinya itu secara tak langsung.
“Kamu ngusir aku, Vi?”
Viona menyentak nafasnya sedikit kasar. “Maaf, Pak. Saya sedang banyak pekerjaan. Kalau Bapak disini, saya tidak bisa leluasa bekerja.”
“Pekerjaan apa? Hari ini nggak ada meeting kok. Kamu bohong kan? Kamu marah ya? Makanya sengaja menghindari aku?”
Viona terpaksa meninggalkan papan ketik di depannya, kesal.
“Maaf, Pak. Tapi, tugas sekretaris itu banyak. Tidak hanya mengikuti semua kegiatan Bapak. Dan tidak seharusnya Bapak menuduh saya seperti itu. Tidak ada hak saya untuk marah sama Bapak. Saya benar-benar harus menyelesaikan pekerjaan saya sebelum saya pulang. Itupun, saya harus pulang cepat karena masih harus mengatur dinner Bapak dan tunangan Bapak.”
Biantara bergeming. Untuk pertama kalinya, lelaki itu seperti kehabisan kata-kata.
Merasa Biantara sudah tak penting lagi, Viona kembali ke layar laptop di depannya.
“Terserah kalau Bapak masih mau disini. Tapi, selain perintah, saya mohon jangan mengganggu saya karena saya benar-benar harus menyelesaikan pekerjaan saya.”
Sayangnya, selain hanya merasa ada sesuatu yang aneh, Biantara tidak paham jika apa yang Viona katakan benar-benar bermakna sebenarnya.
*
*
Ruang makan privat itu sudah tertata sempurna bahkan sebelum Viona datang. Meja panjang berbahan marmer putih diletakkan tepat di tengah ruangan, dibalut taplak linen putih dengan lipatan yang ditata secara presisi.
Di atasnya, rangkaian lilin berdiri simetris, menyala tenang tanpa asap, memantulkan cahaya hangat ke permukaan gelas kristal yang berkilau.
Viona sengaja memilih tema intimate fine dining yang tidak berlebihan, namun terkesan mahal. Tentu saja bukan dirinya sendiri yang menyiapkan. Dia hanya memastikan jika setiap detail yang dia inginkan berjalan sesuai rencana.
Di sisi kiri meja, sebuah vas kaca bening berisi mawar merah tersusun indah, sengaja dibuat tidak menghalangi pandangan dua orang yang akan duduk saling berhadapan. Aroma bunganya lembut, nyaris tak terasa, kalah dari dengan wangi kayu manis bercampur vanilla dari diffuser ruangan.
Peralatan makan juga sudah tersusun berlapis di atas meja. Sendok dan garpu perak berkilau rapi sesuai urutan menu makanan yang dipesan.
Viona mengamati satu per satu, memastikan semuanya sesuai standar yang diminta. Lampu gantung kristal di atas meja diredupkan pada intensitas yang tepat, cukup untuk menciptakan suasana romantis di ruangan itu.
Semuanya sempurna, dan Viona puas dengan hasil karya itu.
Kemudian, ia meletakkan sebuah kotak beludru hitam di sisi kanan meja, tepat di samping piring, kursi yang akan ditempati Angel. Jemarinya bergerak hati-hati, memastikan posisi kotak itu mudah terlihat saat makan malam berlangsung.
Ia membuka kotak itu sebentar, hanya untuk memastikan isinya masih benda yang sama. Kalung berlian berkilau menawan pilihannya sendiri. Rantai putihnya halus, dengan liontin batu permata di tengahnya. Tidak mencolok, tapi nampak berharga mahal.
Setelah tersenyum tipis yang hanya dia sendiri yang tahu artinya, Viona menutup kembali kotak itu, lalu menarik napas pelan.
“Selamat berbahagia, Bi.”
Wanita itu langsung menyeka air matanya yang meluncur dengan lancangnya. Hampir saja Viona terlarut dalam kesedihan yang seharusnya tidak dia biarkan. Tapi beruntung, sebuah dering ponsel menghentikan perasaan tak tahu diri itu.
Pak Bian: Kamu dimana, Vi?
Viona menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya dia membalas pesan dari atasannya. Ya, itu Biantara. Orang baru saja dia pikirkan.
Viona: Saya lagi di restoran, Pak. Memastikan kalau semua sudah siap.
Tak sampai dua menit, balasan dari Biantara datang lagi.
Pak Bian: Aku kesana ya, Vi. Udah selesai kan?
Viona pun cepat membalas.
Viona: Sudah, Pak. Bapak bisa ajak tunangan Bapak sekarang juga.
Pak Bian: kirim foto, Vi.
Viona menatap meja sekali lagi. Kemudian, dia mengambil satu gambar desain meja makan malam hari ini. Tak membuang waktu, Viona langsung mengirim laporan itu kepada Biantara.
Pak Bian: Kamunya mana? Jangan-jangan kamu dapat foto itu dari petugas restoran ya? Pasti bukan kamu yang menyiapkan.
Viona menyentak nafasnya kasar. Rupanya, laki-laki itu masih sama. Tidak percaya kalau Viona benar-benar mengerjakan tugas yang dia berikan.
Terpaksa, Viona mengambil gambar dirinya sendiri, dengan background meja makan yang sudah tertata itu.
Viona: Sudah ya, Pak. Tugas saya selesai. Tagihan berliannya sudah saya kirimkan ke Bapak.
Viona mengirimkan pesan itu disertai foto laporan lagi. Setelahnya, wanita itu buru-buru pergi dari sana, khawatir jika kedatangan Biantara dan Angel akan semakin menyakitinya.
Setelah semua selesai, Viona mematikan ponselnya, agar bebas dari gangguan apapun.
Malam ini, dia akan sibuk menyiapkan banyak hal. Ya, dia akan sama sibuknya dengan Biantara.
Sayangnya, saat Biantara menghabiskan malam indah bersama Angel, di sudut rumahnya yang dingin Viona justru sibuk mengemas hidupnya sendiri, memasukkan kenangan yang tak pernah benar-benar ia miliki ke dalam koper-koper yang sudah berjajar rapi.