“Selamat tinggal, Bi.”
Satu kalimat lirih itu meluncur bebas dari bibir Viona, tepat sesaat sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam gerbong kereta.
Ia menarik napas dalam-dalam, seolah sedang menguatkan dirinya sendiri, sebelum melangkah mantap menuju nomor kursi yang telah ia pesan beberapa hari lalu. Tidak ada pilihan tempat. Hanya bangku kosong seadanya.
Namun, setidaknya semesta masih sedikit berbaik hati. Viona mendapatkan kelas eksekutif dengan bangku yang cukup nyaman untuk tubuhnya yang sedang mengandung.
Teeeettttt!
Suara terompet tanda keberangkatan kereta menggema, bersahutan dengan suara petugas yang memberi arahan dan peringatan kepada para penumpang.
Saat kereta mulai bergerak perlahan, jantung Viona berdegup semakin kencang. Tak bisa dicegah, air matanya luruh begitu saja, membasahi pipi.
Akhirnya… ya, akhirnya dia benar-benar meninggalkan kota kelahirannya. Hanya karena seorang laki-laki.
Laki-laki yang… Ah, tidak. Bukan begitu.
Biantara bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Dia bahkan telah memberikan lebih dari apa yang mereka sepakati sebelumnya kepada Viona.
Justru ini salah Viona. Dan Viona tahu itu. Dia yang main hati. Dia juga yang lancang memakai perasaannya dalam hubungan business with benefit yang sejak awal seharusnya sudah dibatasi.
Kini, dia sendiri yang harus menanggung semuanya. Dia pula yang memilih untuk mempertahankan konsekuensi dari kecerobohannya.
Seharusnya, sejak awal dia tahu. Biantara hanya menginginkan tubuhnya—tidak dengan hasilnya.
Maka keputusan itu pun Viona ambil. Dia akan pergi. Melarikan diri sejauh mungkin dari hidup Biantara—agar lelaki itu tak pernah bisa menemukan jejak darah dagingnya sendiri yang tidak pernah dia inginkan.
Viona tidak ingin egois. Sekali lagi, ini adalah salahnya. Dan dia tidak ingin mengganggu kebahagiaan orang lain karena keegoisannya.
“Huufftt.” Satu hembusan nafas panjang, ia harapkan bisa mengurangi sesak di dadanya.
Tangannya terangkat pelan, mengusap perutnya yang masih rata.
“Kita bisa, Nak,” bisiknya lirih. “Kamu tenang saja, ya. Kamu masih punya Mama.” Suaranya bergetar, tapi tekadnya sekuat baja.
“Kita bisa kok hidup berdua saja tanpa Papamu. Mama janji, Mama akan usahakan apapun untukmu, agar kamu bahagia sampai kamu lupa apa itu Papa.”
Sedangkan di sudut kota yang sama, Biantara tengah berteriak-teriak mencari Viona di kantornya.
“Kamu dimana, Vi? Beraninya kamu resign nggak izin sama aku. Kamu nggak menghargaiku sebagai atasanmu! Arght!”
*
*
Lima tahun kemudian.
Pukul delapan pagi selalu datang terlalu cepat bagi Viona. Baru masuk ke dalam ruangannya saja, dia sudah dihadapkan dengan gedebag-gedebug kerumitan pekerjaannya.
Langit kota Bandung masih muram saat ia sudah duduk di balik meja kerjanya—meja kecil di sudut ruangan yang lebih pantas disebut ruang multifungsi daripada kantor.
Di depannya bertumpuk map berwarna kusam, invoice yang belum dibayar klien, draft kontrak yang harus direvisi, dan laptopnya sendiri, miliknya sendiri, bukan sekedar inventaris perusahaan.
PT Sagara Nusa Kreasi. Agensi kecil yang bergerak di bidang logistik kreatif, atau lebih tepat dikatakan sebagai perusahaan kreatif multifungsi.
Secara jabatan, Viona adalah sekretaris direktur. Tapi, secara kenyataan, Viona mengurus administrasi, keuangan ringan, HR dadakan, penghubung dengan klien, bahkan kadang ikut menyiapkan presentasi proposal sampai larut malam.
“Bu Vio, Pak Raka minta laporan arus kas minggu ini sebelum jam sepuluh.” Suara Dimas—seorang staff operasional menyapa dari balik pintu kaca.
Viona mendongak, lalu mengangguk cepat. “Iya, Dim. Bilang ke beliau, aku kirim setengah jam lagi.”
Setengah jam? Cih, padahal laporan itu belum ia sentuh sama sekali.
Viona menarik napas, lalu merapikan rambut yang terasa seperti pengganggu berat. Lima tahun berlalu, tapi kebiasaannya tetap sama, menunda panik, lebih memilih bekerja dulu. Pokoknya, masalah ribet, urus nant saja.
Ya, itulah Viona. Selalu berusaha tenang di balik tekanan.
Ah, iya. Dia kan sudah biasa dengan semua itu. Memangnya, tekanan hidup seperti apa yang belum Viona coba?
Hidup sebagai gadis piatu bersama Ayahnya yang penjudi keras. Punya hutang dimana-mana sampai dia rela memberikan tubuhnya kepada Biantara hanya demi melunasi hutang ayahnya yang kabur entah kemana.
Alasan itu bukan serta merta Viona ambil begitu saja. Dia sering menjadi sasaran pelecehan para penagih hutang dan rumahnya terancam diambil paksa.
Sialnya, di tengah hubungan itu, Viona memakai perasaan yang kandas di tengah jalan, sampai berujung menghasilkan buah hati yang dia pertahankan sendiri mati-matian.
Tidak mudah melakukan semua sendiri dalam keadaan hamil sampai melahirkan dan mendidik anak yang kini berusia 4 tahun.
Oke, kembali ke masa sekarang.
Jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Matanya fokus, wajahnya datar, namun sesekali mengeras ketika melihat angka-angka yang tidak masuk akal di layar laptopnya.
Ya, perusahaan itu sedang sekarat. Dan ironisnya, penyebab terbesarnya bukan dari luar, tapi dari pemiliknya sendiri.
Korupsi kecil-kecilan. Mark up. Dana operasional “dipinjam” untuk kepentingan pribadi dan tidak dikembalikan sampai sekarang mentang-mentang dia pemiliknya.
Viona tahu. Dia tidak bodoh. Tapi ia juga tahu satu hal lain, kalau perusahaan itu tumbang, bukan cuma dia yang jatuh. Ada belasan orang lain yang ikut kehilangan nafkah. Termasuk satu anak kecil yang menunggunya pulang setiap sore.
“Bu Vio.”
Seorang perempuan muda berdiri canggung di dekat mejanya. Anak magang. Wajahnya masih polos, matanya penuh ragu.
“Iya?” Viona mengangkat wajah. Terlihat lelah padahal hari belum sepenuhnya siang.
“Ini… em… vendor nanya soal pembayaran yang tertunda. Mereka bilang kalau hari ini belum ada kepastian, pengiriman minggu depan dibatalkan.”
Viona memejamkan mata sesaat. Masalah yang sama lagi, pikirnya.
“Bilang mereka, nanti aku sendiri yang akan hubungi mereka,” ujarnya pada akhirnya. Suaranya teramat tenang untuk kondisi seburuk ini.
Setelah gadis itu pergi, Viona bersandar sejenak. Tangannya menekan pelipis, bukan karena pusing, tapi lebih kepada lelah yang bertumpuk.
Lima tahun lalu, ia pergi dengan perut rata dan hati hancur. Lima tahun kemudian, ia berdiri di sini. Masih sebagai sekretaris, tapi kali ini, ia tidak sendirian.
Drrrttt drrrttt drrrttt.
Tiba-tiba, ponsel Viona bergetar. Disana muncul notifikasi pesan suara masuk dengan suara yang sangat imut.
“Mama pulang jam berapa hari ini? Aku sudah pulang sekolah sama Tante Intan.”
Suara itu membuat sudut bibir Viona melengkung tipis. Dhio. Anak lelakinya yang menjadi satu-satunya penyemangat hidup saat ini.
“Agak sore, Sayang. Mama ada rapat. Jangan lupa makan dulu sama Tante Intan ya.” Viona juga melakukan voice note, tidak mengetik pesan.
Lucunya, pesan itu langsung dibalas dengan emoji matahari dan hati kecil oleh sang malaikat kecil. Memang, Dhio sudah mulai terbiasa baca tulis sederhana. Tapi, kalau untuk mengirim pesan, masih sering tidak beraturan.
Viona menatap layar ponsel lebih lama dari seharusnya, lalu menyimpannya kembali ke dalam laci setelah puas menatap wajah Dhio di layar ponselnya.
Benar, anak itu tumbuh sehat, ceria, dan pintar.
Semua baik-baik saja, selama Dhio tidak menanyakan tentang seorang ayah, yang kerap kali ia ucapkan setelah mendapatkan provokasi dari sekolah atau lingkungan kompleks.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu kaca, membuat Viona terpaksa menunda pekerjaan lagi.
Ya, kali ini biang keroknya, Raka—pemilik perusahaan kecil yang sedang ia pertahankan itu.
“Ke ruangan saya sekarang, Vi! Sepuluh menit lagi, kita kedatangan calon investor. Dia teman saya. Bantu saya negosiasi biar dia mau membantu kita.”
Viona mengerjap sebentar. Dalam pikirannya bertanya? Apa ini serius? Kalau iya, bukankah ini kabar yang bagus.
“Jangan bengong, Vio! Cepat ke ruangan saya! Meskipun saya kenal sama dia, tapi Biantara itu orangnya perfeksionis. Salah sedikit saja, kita bisa gagal dapat dana dari dia.”
Deg.
Viona membeku sesaat. Bukan karena ucapan yang terdengar mengancam dari Raka. Tapi, karena satu nama yang sama—yang selama lima tahun ini berusaha dia kubur sedalam-dalamnya.
‘Ah, bukan. Pasti bukan Biantara yang itu. Nama Biantara itu banyak.’ Viona meyakinkan dirinya sendiri.