*
*
Viona menatap jam tangannya dengan gelisah. Ini sudah hampir jam dua tapi sang investor yang Raka katakan tak kunjung datang. Bahkan, mereka sampai menunda makan siang hanya demi menunggu orang yang disebut-sebut Raka sebagai calon investor perfeksionis itu.
“Memangnya, Bapak nggak bisa hubungi beliau? Ini udah molor tiga jam loh, Pak.” Viona mulai kesal. Nada bicaranya, terdengar tidak stabil.
“Nggak bisa, Vi. Dia itu orangnya susah. Kalau saya sampai bikin dia nggak suka, bisa-bisa dia batal jadi investor di perusahaan ini.”
“Tapi molor tiga jam itu udah nggak wajar, Pak. Bapak bahkan nggak kasih kesempatan saya untuk makan siang sebentar.”
“Ayolah, Vi. Nggak makan siang aja kamu protes. Masalahnya, kalau kamu pas makan siang di luar, terus Pak Biantara datang dan nggak ada yang menyambutnya, gimana? Kalau dia tahu bagaimana kinerja yang seperti itu, saya rasa dia akan berpikir ulang untuk memberi suntikan dana ke kita.”
Viona mendengus.
“Tapi, selain saya lapar, pekerjaan saya juga banyak, Pak. Saya juga ada janji mau negosiasi sama salah satu vendor yang belum dibayar.”
“Alah… itu nanti aja. Nanti, kalau kita dapat dana dari Pak Biantara, kita bisa langsung bayar vendor-vendor cerewet itu.”
Viona hanya bisa mencebik karena reaksi Raka. Lelaki itu seolah-olah meremehkan orang lain, padahal akar dari masalah mereka adalah dirinya sendiri.
Lelaki itu yang sering meminjam biaya operasional event untuk kepentingannya sendiri, tapi tidak mau mengganti padahal dana operasional perusahaan sendiri sudah minus.
“Terus, kita harus nunggu mereka sampai kapan kalau kayak gini, Pak? Saya mau ke toilet. Masa nggak boleh juga?”
Raka menatap Viona dengan tatapan sengit, tak suka.
“Kamu ini pasti alasan saja.” Lelaki itu berdecak. “Ya sudah sana! Saya kasih waktu sepuluh menit buat ke toilet sama makan siang. Kamu bawa bekel seperti biasa kan? Makan aja di ruanganmu. Nggak usah keluar segala.”
Viona hanya memutar bola matanya dengan malas. “Iya…”
Malas berdebat dengan Raka, wanita itu lekas bangkit sebelum Raka berubah pikiran. Tapi, belum sempat dia keluar ruang meeting yang luasnya hanya setengah ruang meeting seharusnya karena tempat itu disekat untuk ruangan lain itu, Raka sudah memanggilnya lagi.
“Tunggu, Vi!”
Viona berhenti, mendengus kasar. Ingin rasanya dia mencak-mencak kepada atasannya itu, tapi dia terlalu malas ribut dengan Raka yang manipulatif.
Sungguh, kalau sejak awal dia tahu bagaimana aslinya seorang Raka, Viona tidak akan mempertahankan pekerjaannya sampai sejauh ini. Kalau sekarang dia pergi, ini terlalu sayang. Jerih payahnya selama ini serta belasan karyawan lain termasuk dirinya, pasti akan menjadi korban pengangguran.
Tak punya pilihan, Viona menoleh dengan malas. “Ada apa lagi, Pak? Saya cuma mau ke toilet loh.”
“Tunggu sebentar! Asisten Pak Biantara telepon.” Kata lelaki itu sambil menatap layar ponselnya.
“Ya sudah, kalau dia telepon, buruan angkat, Pak! Biar kita tahu sebenarnya berapa lama lagi kita harus menunggu.”
Raka mengangguk. Dia mengisyaratkan Viona untuk diam dengan gerakan telunjuknya, kemudian mengangkat panggilan itu.
“Halo, Pak Jonathan.” Raka memasang suara ceria nan sigap.
Untuk beberapa saat, Raka nampak mendengarkan dengan seksama, terkadang mengangguk, terkadang juga mengernyit saking seriusnya.
Sementara Viona yang masih berdiri di dekat pintu, hanya bisa memperhatikan dengan pikiran menebak-nebak.
“Jadi, pertemuan kita diundur ya, Pak?” Tanya Raka yang masih bisa didengar Viona.
Wanita itu menaikkan satu alisnya, mulai setengah meremehkan orang yang katanya perfeksionis tapi nyatanya tidak disiplin itu.
Haha, batal kan? Itulah kira-kira yang ada di pikirannya.
“Baiklah, semoga urusan anda dan Pak Biantara segera selesai. Kapanpun anda ingin menyambangi kami, pintu perusahaan kami terbuka lebar untuk anda.”
Setelah berbasa-basi singkat, Raka menutup panggilan. Viona tersenyum miring, sedikit mengejek atasannya yang sudah tidak perlu dia sungkani lagi.
“Kenapa, Pak? Batal?” Dari nada bicaranya saja sudah terdengar menyebalkan.
“Iya. Katanya, sebenarnya mereka sudah sampai. Tapi, mereka mengalami insiden menabrak orang.” jelas Raka.
“Apa?” Ini bukan ungkapan terkejut. Tapi, Viona benar-benar menganggap remeh bosnya itu. “Bapak yakin kalau mereka nggak cuma alasan aja?”
“Enggak lah, Vi. Sudah saya bilang, Pak Biantara itu perfeksionis. Setidaknya, kalau beliau bilang iya, ya pasti dilakukan meskipun entah keputusannya apa.”
“Tapi sekarang yang terjadi nggak kayak gitu, Pak. Mereka mengingkari janji.”
Raka mulai frustasi menanggapi Viona yang tak punya rasa takut kepadanya itu.
“Sudah saya bilang, mereka sedang mengalami musibah. Mereka ingin bertanggung jawab dulu sama yang ditabrak. Bukan berarti sengaja membatalkan pertemuan dengan kita.”
“Baiklah… terserah Bapak aja. Kalau begitu, saya boleh keluar kan? Sudah selesai kan acara menunggunya?” Viona masih memasang wajah tengilnya.
“Hem ya. Keluar sana! Dasar karyawan nggak sopan!” Kesal Raka. Namun dia tak bisa melakukan apapun kepada Viona karena dia masih sangat membutuhkan wanita itu.
Biar bagaimanapun juga, perusahaan kecilnya itu masih berdiri sampai sekarang karena kegigihan Viona.
Sampai di ruangannya yang sempit, Viona membanting tubuhnya di atas kursi putar. Dia menghela nafas berat, sambil menggelengkan kepalanya.
Ya, mungkin dia adalah orang pertama yang berani menyepelekan Raka. Dia juga orang yang tidak percaya jika ada investor yang mau berbaik hati menjadi pendonor di perusahaan mereka. Secara, tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari Sagara Nusa Kreasi itu
Intinya, perusahaan itu sekarang hanya bekerja untuk gaji mereka sendiri.
Sebelum kembali menyalakan laptopnya, Viona menyempatkan diri membuka ponselnya barangkali ada hal penting yang terlewatkan gara-gara menunggu sang investor.
Dan benar saja, Viona mengerutkan keningnya saat matanya melihat 17 panggilan tak terjawab dari Intan—sepupunya yang membantunya mengasuh Dhio selama gadis itu belum mendapatkan pekerjaan.
Sebelum Viona berniat menelepon balik sepupunya itu, dia masih sempat melihat satu pesan dari orang yang sama, yang seolah ingin cepat-cepat dia buka apa isinya.
Rupanya, begitu Viona membaca pesan itu, matanya langsung membelalak dengan tangan menutup mulutnya sendiri yang menganga, seolah tak ingin percaya.
Intan: Mbak, kalau udah nggak sibuk, cepat kesini ya. Dhio ketabrak mobil di depan minimarket karena lari-larian. Sekarang, kita di rumah sakit Citra Sejati.
“Dhio, tunggu Mama, Nak. Mama akan segera kesana.”
Tak bisa dicegah, air mata Viona mengalir begitu saja.
*
*
“Dhio! Kamu dimana, Nak?” Suara Viona saat membuka salah satu ruang perawatan yang Intan sebutkan di dalam pesan tadi, menjadi pusat perhatian beberapa orang di dalam sana.
Pasalnya, di kamar itu tidak hanya Dhio pasiennya. Ada dua pasien lagi dengan penunggu masing-masing, yang kini melihat kepanikan Viona.
“Mama!” Teriak Dhio tak kalah heboh.
Melupakan jika mereka bisa saja mengganggu ketenangan pasien lain, Viona langsung menghampiri anaknya yang sedang bersandar di ranjang pasien.
“Kamu nggak apa-apa, Dhio?”
Viona langsung memeluk anaknya, kemudian memeriksa tubuh Dhio yang seperti tidak terjadi apa-apa itu.
Ya, itu yang Viona lihat dari anaknya secara kasat mata. Bocah itu masih ceria, bahkan tanda-tanda menangisnya sudah tidak ada.
“Tulang kering Dhio ada yang retak, Mbak.” Intan di sampingnya, mengeluarkan suara. “Kayaknya karena benturan pas jatuh tadi. Soalnya, Dhio nggak ditabrak betulan. Yang punya mobil langsung berhenti meskipun akhirnya tetap nyenggol Dhio.”
Viona membuka selimut anaknya. Dan benar saja, kaki kanan Dhio sudah diperban putih yang di dalamnya diberi bidai sederhana untuk menyangga tulang.
“Kata dokternya, ini nggak terlalu parah, jadi nggak perlu digips. Dan tulang anak-anak biasanya lebih cepat menyatu dibandingkan tulang orang dewasa.”
Viona menghembuskan nafas panjang. Meskipun dia juga paham itu, tapi masih ada sesuatu yang dia pikirkan.
“Terus, orang yang nabrak Dhio tanggung jawab nggak, Tan?”
Ditanya seperti itu, Intan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Tanggung jawab sih, Mbak. Mereka yang bawa kita kesini. Bahkan sekarang mereka lagi mengusahakan kamar perawatan yang bagus buat Dhio. Cuma, kalau kita minta pertanggung jawaban, kayaknya nggak pantes deh, Mbak.”
Intan nampak sungkan. “Soalnya, yang salah kan Dhio. Dia lari-larian di halaman minimarket karena mau lihat ondel-ondel. Eh, nggak tahunya ada mobil yang baru masuk halaman minimarket sampai Dhio ketabrak.”
Gadis itu menunduk merasa bersalah setelahnya.
“Maaf, Mbak. Aku salah. Aku udah kasih tahu Dhio dan aku juga udah ngejar Dhio. Tapi, karena barang belanjaanku banyak, aku kewalahan. Tahu-tahu, Dhio udah ngacir pas aku buka pintu.”
Viona mengusap wajahnya kasar. Kemudian, dia menepuk bahu Intan dengan helaan nafas lebih lirih.
“Oke, Intan. Nggak apa-apa. Yang penting, Dhio juga masih baik-baik aja. Semoga, cedera kakinya cepat sembuh.”
Intan mengangguk mengiyakan.
“Tapi, Tan. Kalau misalnya, cuma patah tulang atau retak begini, apa harus dirawat segala? Boleh nggak sih Dhio dibawa pulang aja kayak tetangga sebelah itu?”
“Sebenarnya, dokter juga nggak terlalu menyarankan Dhio dirawat, Mbak. Apalagi, udah ditangani dokternya langsung. Tapi, yang nabrak kekeh mau tanggung jawab sampai Dhio sembuh.”
Intan mencondongkan tubuhnya, berbisik di dekat telinga Viona.
“Kayaknya yang nabrak orang kaya, Mbak. Mana ganteng-ganteng lagi orangnya.”
Viona berdecak dengan bibir mencebik. “Kamu ini, Tan. Giliran orang ganteng aja cepet paham.”
“Tapi serius, Mbak. Kalau nggak percaya, kita lihat orangnya kalau nanti kesini.” Sedetik kemudian, Intan nampak antusias. “Nah, itu mereka.” Ucap gadis itu menunjuk dua lelaki yang baru saja masuk ruangan sambil berbincang serius dengan seorang perawat.
Deg.
Jantung Viona rasanya ingin melompat begitu matanya menangkap sosok itu. Sosok yang lima tahun belakangan dia hindari, demi menyembunyikan buah hatinya dan menyembuhkan luka perasaannya.
Ya, Viona tidak salah mengenali keduanya. Itu Biantara dan asisten pribadi setianya—Jonathan, yang dulu juga menjadi partner kerjanya.
Tapi sekarang, Viona merasa Tuhan begitu tidak adil? Setelah dia mati-matian melakukan itu semua, dia justru dipertemukan lagi dengan Biantara semudah itu.
Apalagi, apa katanya tadi? Intan bilang, mereka yang menabrak Dhio?
Di tengah riuh pikirannya yang dihantui rasa cemas dan ketakutan, tiba-tiba tatapan Viona beradu dengan Biantara, sampai dia merasa dunia berhenti beberapa saat.