Seenaknya

1477 Kata
“Jadi, disini tempat persembunyianmu?” Viona berdehem, berusaha menutupi rasa paniknya. Terlebih, Biantara sudah berdiri tepat di hadapannya. “Saya tidak bersembunyi, Pak,” formal Viona, tidak berniat basa-basi. Biantara tersenyum miring, tidak melepaskan tatapan dari wanita itu. “Kalau bukan bersembunyi, apa namanya? Kamu mengundurkan diri tanpa sepengetahuanku dan menghilang begitu saja.” “Saya sudah melakukan proses pengunduran diri sesuai prosedur. Saya sudah menghubungi pihak HRD. Saya juga sudah menyerahkan surat pengunduran diri itu di meja Bapak untuk Bapak tandatangani.” Viona masih bisa menjawab tanpa gentar. “Tapi, kamu—” “Mama kenal sama Om ini?” Semua perhatian, sontak tertuju kepada Dhio yang bertanya polos, menyela Biantara. Mata jernihnya menatap sang Mama dengan penuh rasa penasaran. Viona tersenyum kepada anaknya. Tapi, sebelum dia benar-benar mengalihkan pandangan, dia sempat melihat wajah terkejut Biantara yang tiba-tiba mengeras. “Em, iya, sayang. Dulu, Bapak ini adalah atasan Mama waktu masih di Jakarta. Jadi, Dhio harus sopan sama beliau.” suara Viona berubah lembut. “Dia anakmu, Viona?” Tanya Biantara, suaranya terdengar tidak santai, tapi juga tidak menggebu-gebu. Viona terpaksa memasang senyum palsu. “Benar, Pak. Dhio anak saya. Em, saya dengar dari Intan, adik saya, kalau Bapak yang menabrak Dhio. Sebelumnya, saya minta maaf karena—” “Kamu sudah menikah?” Viona mengerjap sebentar. Gugup, tapi berusaha ia netralkan secepat mungkin. “Ya. Saya sudah menikah.” suaranya cukup tenang. “Maaf.” Suara perawat yang sejak tadi berada di antara mereka, merebut atensi semua orang, tapi tidak dengan Biantara. Lelaki itu tetap menghunus tatapan kepada Viona yang sudah berubah sikap, lebih ramah memperhatikan sang perawat. “Jadi, kita pindahkan pasien ke ruang VVIP sekarang, Pak?” Tanya perawat itu lagi, memasak. Biantara butuh waktu dua detik untuk menjawab perawat itu. Hanya saja, pandangannya masih terpaku kepada Viona. “Ya. Lakukan sekarang!” Perawat itu mengangguk. Dia mulai menyiapkan Dhio, seraya menunggu temannya yang baru datang membawa kursi roda. “Em, maaf, Sus.” Ucap Viona tiba-tiba. Menghentikan gerakan dua perawat disana. “Apa anak saya perlu dirawat dulu? Apa tidak bisa langsung pulang saja?” “Ee…” “Dhio harus mendapatkan perawatan yang tepat.” Sela Biantara sebelum perawat itu menjawab. Bahkan, salah satu dari mereka baru saja hendak membuka mulutnya. Viona hanya menoleh singkat, tapi kembali lagi kepada perawat itu. “Apa saya boleh tahu detail kondisi anak saya, Sus? Em, maksud saya, apa sekarang saya bisa bertemu dokter yang menangani Dhio?” “Aku sudah berbicara dengan dokter yang menangani Dhio, Viona.” Lagi, Biantara yang menjawab, sama sekali tidak memberikan kesempatan dua perawat itu menjelaskan. “Aku akan bertanggung jawab penuh atas Dhio. Jadi, sampai Dhio benar-benar pulih, kamu harus terima kalau aku mengusahakan perawatan yang terbaik untuk Dhio. Itu adalah bentuk tanggung jawabku karena kesalahan yang kubuat.” * * “Gue nggak nyangka ketemu Viona disini, Bi.” Biantara menoleh ke belakang, mengalihkan pandangannya dari pemandangan balkon kamar hotel yang mereka sewa. “Cari tahu siapa suami Viona, Jo!” Jonathan mengangkat satu alisnya remeh. “Buat apa?” Biantara tidak menjawab, tapi cukup mampu membuat Jonathan tersenyum miring. “Oke, gue tahu lo pernah ada ‘something’ dengan Viona.” Jonathan menggunakan dua tangannya untuk mengisyaratkan tanda kutip. “Tapi, itu dulu, Bi. Dan sekarang, kalian bukan apa-apa lagi. Apalagi, lo udah punya Angel sekarang.” Biantara membuang nafas berat. “Gue cuma mau tahu.” Lelaki itu terdengar frustasi. “Kenapa? Lo masih penasaran sama dia, begitu? Ingat ya, Bi. Viona itu cuma partner tidur lo dan lo udah bayar dia. Sorry, mungkin ini terdengar sadis, tapi lo harus ingat, Tante Karina tidak bisa banyak pikiran.” * * “Astaga, Pak. Anak saya lagi sakit. Saya juga jarang izin selama ini. Masa saya izin mau nemenin anak saya di rumah sakit aja nggak boleh?” Viona mencak-mencak dalam sambungan telepon karena Raka malah memarahinya saat dia izin tidak masuk kerja hari ini. Bagaimana Viona tidak gampang emosi? Dia itu sudah shock saat bertemu Biantara hingga membuatnya pusing semalaman karena ketakutan yang dia buat sendiri. Eh, sekarang, pagi-pagi sudah diajak debat oleh Raka. “Tapi, Vi. Kerjaan disini itu banyak yang harus kamu tangani. Tuh lihat! Pekerjaan di atas mejamu udah numpuk.” “Kenapa bukan Bapak aja yang ngerjain? Itu juga sebagian pekerjaan Bapak. Kalau Bapak seperti ini, saya resign aja.” “Eh, jangan ngambek gitu dong, Vi.” Suara di seberang sana terdengar membujuk. “Saya capek ditekan sama pekerjaan terus, tapi gajinya segitu-gitu aja. Apalagi ini, tahu anak saya di rumah sakit, tapi saya masih disuruh masuk kerja.” “Baiklah…” Sepertinya, Raka mulai mengalah. “Kalau kamu mau nemenin anakmu, ya sudah boleh. Tapi, kalau saya panggil tiba-tiba, datang ya, Vi.” “Buat apa? Buat minta keringanan sama vendor-vendor yang invoice nya belum dibayar?” Sindir Viona. “Bukan. Tapi, katanya hari Pak Biantara ingin bertemu hari ini.” “Ya sudah, nanti Bapak kabari saja kalau emang sudah waktunya. Tapi, kalau untuk pekerjaan yang masih bisa ditangani yang lain, saya nggak akan datang.” “Ck. Iya-iya, Vi. Sebenarnya, yang atasan disini siapa? Saya atau kamu? Kenapa lebih galakan kamu?” Raka terdengar merajuk. “Maaf, Pak. Tapi, saya sudah muak sama kelakuan Bapak. Bapak yang selalu berulah, tapi saya terus yang berusaha menyelamatkan. Padahal, sebenarnya udahin aja sih, Pak, kantor Bapak itu. Semua bisa dijual buat pasangon kami.” “Ish, kamu ini kejam banget sih, Vi. Gini-gini, perusahaan kita juga udah nampung kamu pas hamil besar disaat semua orang nggak nerima kamu kerja.” “Ck. Nggak usah ungkit itu. Oke, kita damai saja. Saya malas berdebat sama anda.” Raka malah terdengar tertawa. “Kamu lucu, Vi. Kamu selalu kesal kalau saya ingatkan waktu itu.” “Baiklah, saya tutup teleponnya, Pak. Dan jangan hubungin saya selain untuk meeting sama investor Bapak.” Deg. Tiba-tiba, Viona teringat sesuatu karena perkataannya sendiri. Tunggu! Kalau nggak salah, nama investor yang akan datang itu Biantara kan? Lalu, Raka bilang, kemarin dia membatalkan janji karena menabrak orang. Seketika, Viona menatap anaknya dengan tatapan yang hanya dia sendiri yang tahu artinya. Ketakutan, kepanikan dan…. “Ma.” Viona mengerjap. Dia seperti baru tersadar dari alam lain. Wanita itu memastikan ponselnya sudah dimatikan atau belum terlebih dahulu, sebelum menjawab panggilan Dhio. “Ya, Nak? Kamu mau sesuatu?” tanya Viona lembut, senyumnya juga penuh ketenangan. “Sampai kapan aku bobo disini?” Viona mendekati Dhio, kemudian duduk di ranjangnya, memeluk anak itu. “Nanti, kalau Mama udah bicara sama dokter ya, Nak. Mama mau tahu dulu keadaan Dhio.” “Tapi, kakiku nggak terlalu sakit, Ma. Kak Beni itu juga sakit kayak aku tapi dia di rumah aja.” Viona semakin melebarkan senyumnya. Bangga karena anaknya pintar sekali. Meskipun hanya melihat sekitarnya, tapi dia sudah mampu membandingkan sesuatu. “Iya. Nanti, Dhio juga cepat pulang kok. Sabar dulu ya, Nak. Baru juga semalam kita disini.” Dhio menundukkan kepalanya. “Tapi, aku mau bobo sama Dino, Ma. Aku juga mau main game.” “Game apa yang kamu mau, Boy?” Perhatian ibu dan anak itu, langsung tertuju kepada sosok berjas gagah yang baru masuk ke ruang perawatan Dhio. Jujur saja, jantung Viona berdetak lebih cepat karena kejutan itu. Tapi, masih lebih besar rasa panik yang tiba-tiba muncul saat Biantara ada di antara mereka. “Game di handphone ku, Om,” jawab polos anak itu. Biantara menatap Viona setelah meletakkan buah dan cake di atas meja. “Kamu sudah memberi anak sekecil ini gadget, Vi?” Viona melengos sebal. “Bukan urusan Bapak. Saya sedang mendidik anak saya sendiri.” Biantara menghela nafas panjang. Kemudian, dia beralih kepada Dhio. “Ya sudah, kalau Mamamu sudah mengizinkan, nanti sepulang kerja, Om bawain kamu tablet buat main game sepuasnya.” Ekspresi antusias Dhio berbanding terbalik dengan ketidaksukaan Viona. “Beneran, Om? Tablet yang seperti punya Kak Beni kan? Dulu, Kak Beni juga dibelikan tablet waktu kakinya sakit. Jadi, tablet itu baru boleh dimiliki pas kita sakit kaki ya, Om.” Biantara menatap Viona yang sama sekali tak mau menatapnya. “Nanti biar Tante Intan ambilin handphone Dhio aja ya.” Bujuk Viona. “Tapi aku mau tablet, Ma. Tablet yang bisa buat main game.” Viona menyentak nafasnya kasar. Mau tak mau, dia menghunus tatapan tajam kepada Biantara. “Tolong, Pak. Saya tahu Bapak ingin bertanggung jawab sama Dhio. Tapi, Bapak nggak bisa seenaknya seperti ini. Dhio itu anak kecil. Masih terlalu sulit untuk mengerti keadaan. Anak sekecil ini, pasti ngeyel kalau udah dipamerin sesuatu. Dan itu artinya, Bapak sudah merusak pola asuh saya.” “Pola asuhmu kepada Dhio sudah rusak sejak awal, Vi. Seharusnya, kamu yang paling berperan buat dia, bukan gadget sampai dia kecanduan.” Viona mengeraskan rahangnya. Ingin sekali dia mengatakan banyak hal untuk Biantara. Tapi, dia tahan demi apa yang sudah dia sembunyikan selama ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN