Suruh Dia Merayuku!

1121 Kata
* * “Maaf ya, sayang. Mama harus pergi sebentar. Kalau pulang nanti, Mama cuma mau nemuin calon investor penting buat kantor Mama.” “Huhu… Dhio ikut, Ma.” Belum apa-apa, Dhio tak mau ditinggal. Tidak seperti itu biasanya. Sejak kecil, Dhio dua tinggal di daycare karena Viona harus bekerja. Hanya sampai umur Dhio satu tahun, dia titipkan ke Budenya—ibunya Intan. Setelahnya, Dhio tinggal di daycare sampai Viona pulang kerja hingga beberapa bulan yang lalu. Sekarang, saat Intan sudah lulus sekolah dan tak mau melanjutkan kuliah, dia lebih memilih menjaga Dhio dulu sampai Dhio tidak tinggal di daycare lagi. Mungkin, karena dia sedang sakit, makanya anak itu rewel tidak mau ditinggal. “Tapi, Dhio belum boleh keluar. Dhio disini sebentar sama Tante Intan ya.” “Dhio nggak suka disini, Ma. Dhio mau pulang aja. Dhio mau di rumah sama Tante Intan aja kalau Mama kerja.” Viona menghela nafas panjang. Sepertinya, ini bukan perkara sakitnya. Tapi, Dhio tidak suka di rumah sakit. “Kalau begitu, begini saja ya, Dhio. Sekarang, Mama pergi dulu. Cuma sebentar kok. Habis itu, Mama balik kesini lagi terus bilang sama dokter kalau Dhio biar rawat jalan aja.” Tangis bocah tampan itu tiba-tiba reda. “Apa boleh, Ma?” Dari matanya, nampak binar penuh harap yang memohon. Entah kenapa Dhio tak suka tinggal disana. Padahal, ruang perawatan itu cukup nyaman dibandingkan kelas sebelumnya. “Kita coba ya. Mama janji akan usahakan Dhio pulang aja, biar seperti Kakak Beni.” Dhio menarik dua sudut bibirnya, membentuk lengkungan manis. “Oke kalau gitu, Ma. Mama nggak apa-apa pergi kerja dulu. Aku akan menunggumu disini sama Tante Intan.” Viona tersenyum. Antara sedih tapi juga bangga sekaligus. Bangga karena anaknya begitu bisa mengerti dirinya yang memperjuangkan semuanya sendiri, tapi juga sedih karena tidak bisa mencurahkan perhatian lebih kepada Dhio. “Maafin Mama, sayang. Mama janji akan cepat kembali.” Lirih Viona sebelum mengecup kening anaknya. Lantas dengan perasaan bersalah, Viona membawa langkahnya meninggalkan rumah sakit, menuju tempat kerjanya. Drrrttt drrrttt drrrttt. Baru juga wanita itu mendapatkan ojek, sebuah panggilan sudah berdering di ponselnya. “Sabar, Pak. Ini juga udah jalan.” Kata Viona tanpa basa-basi. “Tapi, Vi. Pak Biantara sudah di lobby gedung. Pokoknya, usahakan cepat kesini.” “Iya, Pak. Iya… ini saya suruh tukang ojeknya ngebut.” Dan benar saja, tanpa memperdulikan penampilannya yang tidak tepat untuk bekerja, Viona meminta tukang ojek online yang dia pesan untuk mempercepat laju motornya. Beruntungnya, pakaian Viona masih bisa dianggap sopan, meskipun bukan pakaian formal untuk bekerja. Sampai di gedung tempat perusahaan kecilnya beroperasi, Viona langsung naik ke lantai lima. Lantai itu adalah lantai yang disewa Raka untuk operasional perusahaannya. Itupun hanya beberapa ruangan saja. “Perusahaan macam apa ini? Kenapa sempit sekali? Kamu bilang, perusahaanmu punya banyak job dengan klien. Tapi, saya lihat perusahaan kamu ini bahkan tidak layak untuk beroperasi lagi.” Deg. Viona yang baru saja hendak membuka ruang meeting, berdebar karena mendengar teriakan itu. Meskipun dia bukan pemilik perusahaan yang sudah sekarat itu, tapi mendengar calon investor meragukan mereka, Viona ikut sakit. “Perusahaan ini masih banyak terikat kontrak dengan klien, Pak. Masih banyak yang menggunakan jasa kita. Tapi, ya itu. Kami kekurangan biaya operasional.” “Berarti, mekanisme yang dipakai perusahaanmu tidak baik. Seharusnya, perusahaan jasa seperti ini tidak harus punya banyak modal karena pasti klien akan membayar di muka.” “Benar, Pak. Tapi, karena sedikit kesalahan, kami mengalami banyak kerugian.” “Kesalahan apa?” Sebelum Raka menjawab pertanyaan itu, Viona langsung membuka pintu dengan gerakan cepat. Wanita itu khawatir, Raka tidak bisa memilah ucapannya. “Maaf, saya terlambat.” Tatapan ketiga orang disana, langsung tertuju kepada Viona. Tapi rupanya, Viona justru mendapatkan kejutan menarik saat itu juga. Kini, wanita itu tengah beradu tatap dengan orang yang sudah ia kenali sejak bertahun-tahun lalu. “Em, selamat siang, Pak. Maaf, saya terlambat. Saya masih ada urusan di rumah sakit.” Viona lebih dulu mengalihkan pandangannya. Membungkuk sopan, untuk menghormati mereka bertiga. Ya, mereka adalah Biantara, Jonathan dan juga Raka. “Masuklah, Vi. Tamu kita sudah menunggu.” Ujar Raka. Viona mengangguk, kemudian mengambil tempat, tepat di samping Raka. “Perkenalkan, Pak. Ini sekretaris saya. Tapi, kami bekerjasama dalam hal apapun. Lebih tepatnya, meskipun Viona ini jabatannya sekretaris, tapi dia juga menghandle banyak hal.” Viona membungkuk sekali lagi sebagai tanda perkenalan. “Saya mohon, harap maklum karena dia telat hari ini. Masalahnya, anaknya sedang di rumah sakit, Pak. Kasihan, dia ini single mother karena suaminya meninggal saat dia hamil tua.” Biantara dan Jonathan saling menatap dengan tatapan penuh arti. Sedangkan Viona menyesali perkataan atasannya itu karena membahas masalah pribadi. Memang, dulu saat Viona mengemis pekerjaan kepada Raka, itu yang dia katakan kepada lelaki itu. “Berarti, dia tidak cukup kompeten mengerjakan pekerjaannya?” Biantara menaikkan satu alisnya, mencoba memancing situasi. “Ee, sudah saya katakan sebelumnya, Pak. Dia memang single mother. Tapi, dia mampu bekerja dengan baik, bahkan dia bisa menangani yang bukan job desk nya.” “Misalnya?” Raka menatap Viona. Dia sedikit kebingungan dengan arah pertanyaan Biantara. “Maaf, Pak Bian. Saya kurang paham maksud Bapak.” Biantara menarik nafas, seolah-olah meremehkan dengan Raka. “Pekerjaan apa yang bisa dia lakukan selain job desk nya? Apa itu termasuk menjadi simpananmu?” Raka salah tingkah. Sementara Viona terkejut sampai wajahnya mengeras seketika. Ya, dia tahu kalau Biantara sedang mengejeknya. “Hehehe. Maafkan saya, Pak Bian. Saya memang bukan laki-laki suci. Tapi, saya tidak bermain dengan orang yang sudah punya anak. Saya ini, sukanya single.” Bisik Raka, tapi jelas didengar oleh semua orang. Biantara menatap Viona dengan senyum yang entah artinya apa. “Kalau begitu, suruh sekretarismu merayuku.” Viona sudah mengerutkan keningnya tak suka, dan siap memaki Biantara, tapi tiba-tiba lelaki itu berbicara lagi. “Maksudku, suruh dia menjelaskan kelebihan perusahaan kalian bagaimanapun caranya agar aku tertarik menyumbang di perusahaan tidak layak ini. Jujur saja, aku tidak menyukai penjelasanmu.” Tegas Biantara kepada Raka. Raka yang merasa diremehkan sebenarnya kesal. Tapi, jujur saja dia tidak bisa melakukan apa-apa karena dia memang membutuhkan suntikan dana itu. “Baik, Pak. Viona akan menjelaskan kepada anda. Mungkin, anda akan tertarik kalau melihat data-data perusahaan kami.” “Oke…” Biantara mengangguk setuju. Kemudian, Raka menoleh kepada Viona. “Cepat buka file-file mu, Vi. Tunjukan semua kerjasama kita dengan klien berikut keuntungannya.” “Baik, Pak.” Viona menyanggupi. Namun, saat tangan lentiknya hendak membuat laptop miliknya, Biantara sudah mencegah lebih dulu. “Aku tidak ingin mendengar penjelasan itu sekarang. Aku sedang sibuk. Aku ada janji dengan seseorang di rumah sakit. Mungkin, besok kita bisa membuat janji lagi. Tapi, aku tidak suka melakukan pertemuan di ruangan sempit ini.” Viona mendengus tak kentara. Kurang lebih, dia paham apa maksud Biantara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN