Dia Tertarik Sama Kamu

1642 Kata
* * “Bapak numbalin saya?” Viona protes setelah Biantara dan Jonathan pergi. “Ayolah, Vi. Siapa yang numbalin kamu? Tapi, kayaknya Pak Biantara tertarik sama kamu.” “Sama aja. Yang salah Bapak dan ini perusahaan Bapak. Kenapa malah saya yang suruh ngemis investasi dari dia?” Viona nampak sangat kesal. Bibirnya manyun, tangannya menyilang di depan d**a dengan kasar. “Tolonglah, Vi. Ini demi kelangsungan perusahaan kita. Gini-gini, perusahaan ini juga pernah kasih penghasilan yang layak saat semua orang menolakmu karena hamil.” “Ck. Mulai ngungkit lagi.” Decak Viona. “Bukannya gitu, Vi. Tapi, saya cuma mau minta tolong sama kamu. Setidaknya, demi teman-teman yang lain deh. Yang masih bergantung disini juga lumayan. Ada belasan orang yang kehilangan pekerjaan kalau kita tutup perusahaan ini.” Viona mendengus. Yeah, Raka memang paling tahu kelemahan Viona yang tidak enakan. “Bapak temani saya kalau Pak Biantara bikin janji nanti.” Kata Viona pada akhirnya. “Oke.” Raka menyanggupi. “Tapi, kalau Pak Biantara maunya kamu sendiri, gimana?” Gelagat Raka berubah aneh. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Viona. “Kayaknya, Pak Biantara suka sama kamu, Vi.” Bisiknya. “Bapak jangan mengada-ada! Denger orangnya, langsung dibatalin nanti kerjasamanya.” Viona memutar bola matanya malas. “Tapi, serius, Vi. Selama saya kenal sama Pak Bian di Jakarta dulu, beliau itu orangnya perfeksionis dan jarang bicara. Tapi, sekalinya bicara beliau itu sangat dominan. Terus kalau lagi acara kumpul-kumpul para eksekutif muda, beliau paling nggak suka dideketin cewek-cewek, entah itu cewek sewaan ataupun cewek-cewek bener. Beliau itu terkenal setia sama istrinya.” Ekspresi Viona berubah secara refleks. “Apa istri Pak Biantara cantik?” Entah kenapa, mulutnya ingin sekali bertanya itu. “Ya cantik lah, Vi. Dia itu model internasional. Sering dapet job di luar negeri. Tapi, kalau di dalam negeri, dia cuma nerima job-job elit aja.” “Oh…” bibir Viona membulat ringan. Benar, dia paham. Dia paham akan penjelasan Raka. Dia paham jika yang sedang Raka bicarakan adalah Angel, tunangan Biantara di masa lalu. Tapi, yang membuat Viona sedikit terkejut adalah kenyataan jika mereka sudah menikah. Ah, Viona lupa. Ini sudah sangat lama. Tidak mungkin kalau Biantara dan Angel sudah menikah. Apalagi, dulu kan Angel pulang ke tanah air karena akan menikah dengan Biantara. ‘Ya ampun, Viona… kamu ngarep apa dari hubungan mereka? Putus? Lancang sekali kamu.’ Viona menggelengkan kepalanya. Berusaha menolak rasa kecewanya sendiri. “Vi!” Viona mengerjap menatap Raka. “Kamu kenapa? Pusing?” Viona sedikit salah tingkah. “Em, enggak, Pak. Saya… ee, saya cuma lupa aja. Tadi, saya bilang nggak akan lama-lama sama anak saya. Anak saya lagi rewel, Pak. Soalnya tulang kakinya retak.” Viona berkilah. “Oke. Kamu boleh pulang. Tapi, kamu harus mau ya kalau Pak Biantara minta kamu bertemu. Percayalah, Vi. Aku baru sekali ini melihat Pak Biantara tertarik sama perempuan. Bahkan, sebelumnya Pak Biantara tidak pernah ingin tahu urusan orang, termasuk soal teman tidur rekannya. Tapi, dari tatapan dan cara bicaranya saja, saya bisa menyimpulkan kalau Pak Biantara itu tertarik sama kamu.” Jangankan Viona merasa bangga, senang saja, dia tidak. Justru, wanita itu meluruhkan bahunya pasrah karena sudah paham maksud Biantara. ‘Iya, tertarik. Tertarik buat mengerjaiku. Padahal, aku nggak salah apa-apa sama dia, selain resign nggak bilang-bilang.’ * * “Makasih, Om. Tabletnya bagus banget. Lebih bagus dari punya Kak Beni. Lihat! Aku juga bisa menggambar disini pakai pulpen.” Viona membuang nafas berat. Baru saja dia sampai di rumah sakit, tapi sudah disuguhi pemandangan interaksi antara Dhio dan Biantara yang terlihat akrab. Anaknya itu sedang memamerkan stylus pen kepada Biantara seolah-olah lelaki itu akan terkagum-kagum seperti dirinya. Sebenarnya, Viona malas bertemu dengan Biantara yang seolah sedang mengibarkan bendera perang kepadanya. Tapi, berhubung dia juga tak rela jika Dhio harus berlama-lama dengan Ayah kandung yang tidak menginginkannya, perempuan yang cukup lelah itu tak bisa untuk menunda masuk kesana. “Dhio.” Sapa Viona ceria, memasang wajah seperti tidak masalah ada Biantara disana. “Mama!” Teriak spontan anak itu. Khas sekali seorang anak kecil yang menunggu orang tuanya pulang. “Wah, anak Mama lagi apa? Lihat! Mama bawain spaghetti tuna kesukaan Dhio, sama buat Tante Intan juga.” Viona mengambil tempat berseberangan dengan Biantara. Memberikan barang bawaannya kepada Intan. “Mau! Mau, Ma! Aku mau. Aku suka spaghetti tuna.” Teriak anak itu. “Baiklah, kita makan sebentar lagi ya. Kata Tante Intan, Dhio baru selesai makan siang.” Memang benar, Viona mendapatkan kabar dari Intan jika Dhio baru mau makan siang karena merajuk ingin ibunya cepat pulang. “Ekhem!” Mau tak mau, perhatian Viona jatuh kepada Biantara yang berdehem penuh isyarat. Duduk di bangku penunggu pasien, di sebelah ranjang Dhio. “Selamat sore, Pak Biantara. Terima kasih sudah menjenguk anak saya.” sopan wanita itu, hanya basa-basi. Biantara hanya menatap Viona datar, seolah tidak menyukai cara Viona menyapa. “Mama, lihat! Om Bian beliin aku tablet.” Perhatian Viona tertuju kepada si kecil lagi. Nampak riang, benar-benar menunjukkan jika Dhio bahagia. “Wah, bagus sekali, Nak. Itu pasti harganya sangat mahal.” “Ini lebih bagus dari punya Kak Beni, Ma. Om Bian nggak bohong sama Dhio. Om Bian langsung beliin Dhio, nggak nunggu gajian dulu.” Viona melirik Biantara yang ekspresinya menyebalkan. Menaikkan satu alisnya, entah tanda kasihan atau mengejeknya. “Em, sayang. Tapi, kayaknya terlalu berlebihan kalau Pak Bian memberi Dhio itu. Bagaimana kalau Dhio kembalikan saja?” Viona berusaha memberikan pengertian anaknya. Sontak saja, Dhio berwajah murung. “Kok dikembalikan, Ma?” Viona tahu anaknya kecewa. Tapi, dia benar-benar harus melakukan itu. “Maaf, sayang. Tapi, nggak enak kalau kita menerima benda mahal itu dari orang asing. Nanti, kalau Mama gajian, Mama janji beliin Dhio yang mirip itu.” Dhio tidak menjawab. Dia hanya menunduk menunjukkan kekecewaan. Genggaman tablet di tangannya melemah, menandakan kalau anak kecil itu membiarkan benda itu tanpa peduli lagi. Sampai akhirnya, dengusan kuat Biantara terdengar dominan, mengalihkan atensi Viona. “Sepertinya, kamu tipe seorang ibu yang senang membuat anak kecewa ya, Vi?” Tentu saja Viona tak suka mendengar itu. “Maksud Bapak apa?” “Kamu tega merebut kebahagiaan anakmu sendiri hanya karena masalah sepele.” Viona mengerutkan wajahnya, menunjukkan ketidaksukaan. “Itu bukan sepele, Pak. Tapi, itu barang mahal yang seharusnya tidak Bapak kasih ke anak saya.” wanita itu mulai ngotot. “Memangnya kenapa? Saya memberi itu cuma sebagai hadiah. Lagipula, kamu memang sudah membiarkan anakmu bermain gadget kan?” “Ya, tapi—” “Mbak,” Sela Intan yang sejak tadi menyingkir, tidak ingin ikut campur. “Jangan berdebat di depan Dhio. Mungkin, kalian bisa bicara diluar dulu.” Sungkan gadis itu. Viona menghela nafas panjang. Merasa Intan benar, tapi juga masih berusaha menahan kesal kepada Biantara. “Kamu jaga Dhio dulu, Tan,” Putus Viona pada akhirnya, cukup mengisyaratkan apa maksudnya. Dan Biantara paham itu. Dia mengikuti Viona santai setelah mengusap puncak kepala Dhio sebagai tanda pamitan. Sampai di luar, Viona duduk di salah satu kursi tunggu depan ruang perawatan Dhio. Beruntung, di area itu cukup sepi karena memang kawasan VVIP adalah kawasan cukup tenang. “Jangan bilang, kamu sengaja ingin berbicara sama aku,” Ucap Biantara santai. Langsung mengambil tempat duduk tepat di samping Viona sampai wanita itu menggeser duduknya, selisih satu kursi. Dan Biantara tersenyum miring saat Viona melakukan itu. “Jangan terlalu percaya diri, Pak. Saya hanya ingin mengajari anak saya untuk tidak menerima barang apapun dari orang asing.” “Kamu menganggapku orang asing?” Viona memalingkan wajahnya tidak ingin menjawab apapun. Sebenarnya, dia sadar, jika dirinya sendirilah yang merasa ada masalah dengan Biantara, sementara lelaki itu biasa-biasa saja. Tapi, mau bagaimana lagi? Viona tidak bisa menahan perasaannya. “Kamu berubah, Vi. Seharusnya, sikapmu tidak seperti itu, karena kita pernah kenal di masa lalu,” kata Biantara lagi. Suaranya terdengar lebih lunak. “Ya, saya tahu. Bapak dulu atasan saya di Hadiwijaya grup. Tapi, sekarang kita bukan partner kerja lagi, Pak. Apalagi, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing yang berbeda.” Biantara tersenyum sinis. “Kamu lupa kita masih ada kerjasama dengan Sagara Nusa Kreasi?” Viona tak mampu menjawab lagi. “Kamu terlalu defensif, Vi.” “Bapak tidak pantas menilai saya seperti itu. Memangnya, kenapa saya harus bersikap defensif?” jawaban itu terdengar refleks. Biantara mengedikkan bahunya acuh. “Mungkin, kamu marah.” “Ya. Saya sedikit tidak terima karena Dhio sampai masuk rumah sakit gara-gara anda.” Biantara memasang senyum remehnya. “Kalau aku bilang itu salah Dhio, bagaimana? Anakmu yang lari-larian di tempat yang tidak seharusnya.” Viona mengerling kesal. “Kalau begitu, saya minta maaf atas kelakuan anak saya.” Biantara menggelengkan kepalanya entah karena apa. Ada senyum tipis penuh arti di balik senyum itu. “Baiklah, kamu boleh menyalahkanku karena Dhio sakit. Tapi, setidaknya biarkan aku menebus kesalahanku. Tidak perlu berdebat soal tablet yang aku beri. Itu bukan apa-apa. Aku hanya ingin bertanggung jawab, mengganti kebahagiaan Dhio yang biasanya bisa lari-larian kesana kemari, tapi sekarang harus bed rest dulu.” Tiba-tiba, Viona bangkit dari duduknya. “Ya sudah kalau begitu. Tapi, kami tidak menuntut apapun lagi dari anda. Sudah cukup tanggung jawabnya. Saya akan membawa Dhio pulang hari ini.” Ya, cukup, pikir Viona. Mungkin, seperti itu lebih baik. Biantara ikut bangkit dengan santai. “Oke, kalau itu maumu. Patah tulang memang bisa dirawat di rumah saja sambil jalan.” Lelaki itu juga tidak bermaksud mendebat. Viona mengangguk puas. “Sekali lagi, terima kasih, Pak.” Sayangnya, baru saja kakinya bergeser satu langkah, Biantara sudah menahannya lagi. “Berikan alamat rumahmu! Aku sudah berjanji akan bertanggung jawab sampai Dhio benar-benar sembuh.” Terpaksa, Viona berhenti tepat di depan Biantara. “Terima kasih atas tawaran anda, Pak. Tapi, saya harap Bapak mengerti kata-kata saya kalau kami sudah tidak menuntut apapun lagi sama Bapak.” “Oke….” Biantara masih santai. “Kalau kamu tidak memberiku alamatmu, aku bisa bertanya sama Raka.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN