Apa Bapak Tidak Punya Pekerjaan?

1272 Kata
* * “Kalian tinggal disini?” Tanya Biantara, seraya menatap ke arah samping kirinya. Lelaki itu tengah duduk nyaman di dalam sedan mewah, bersama Jonathan yang menyetir di samping kenannya. Sementara di bagian jok belakang, ada Viona, Dhio dan juga Intan. Benar, Dhio benar-benar keluar dari rumah sakit, dengan diantar oleh Biantara. “Iya, Om. Itu rumahku.” Teriak Dhio, memecah kesunyian. “Kalau yang depan ini rumah Tante Intan sama Nenek Laras. Rumah Kakek Nano juga.” Biantara menoleh ke belakang. Tersenyum ramah kepada Dhio yang menjelaskan. “Em, Pak. Terima kasih sudah mengantar Dhio pulang.” Viona membuka obrolan. “Kalau Bapak mau pulang, bisa langsung lurus saja, nanti berputar ke gang sampingnya. Soalnya, kalau harus memutar disini, pasti susah.” Biantara tersenyum miring. “Apa tidak ada air putih sebagai tanda terima kasih?” Viona menatap Intan yang juga tengah menatapnya sebentar. “Maaf sebelumnya, Pak. Lain kali saya antar tanda terima kasih kepada Bapak. Tapi, kalau sekarang, sepertinya nggak bisa. Disini nggak ada tempat parkir luas. Disini cuma perumahan subsidi. Kalau Bapak parkir disini, akan mengganggu pengguna jalan lain.” Biantara memperhatikan sekelilingnya. Ada beberapa tetangga Viona yang memiliki mobil, tapi memang dikurung di dalam pagar yang dibangun sampai got depan khas perumahan kelas subsidi. “Apa disini nggak ada lapangan?” Tanya lelaki itu lagi. “Adanya cuma yang di depan tadi, Pak. Tapi, itu taman kompleks buat mainan anak-anak.” “Ck. Sempit sekali disini. Fasilitasnya juga buruk.” Komentar Biantara. “Makanya, Pak. Disini nggak cocok buat mobil bagus Bapak. Nanti, kalau ada anak main sepeda takutnya keserempet.” Viona sedang mengompori. “Apa rumahmu tidak tempat parkirnya?” Biantara benar-benar tidak menyerah. Dia memperhatikan rumah Viona yang pagarnya hanya berupa pintu kecil saja. “Mobil Bapak yang nggak bisa masuk.” Viona tersenyum nyengir. Pura-pura tak enak hati, tapi dalam hatinya bersorak menang. “Baiklah… kalian berhasil mengusirku kali ini. Padahal, aku sudah berbaik hati mengantar kalian pulang.” Dalam hal Viona berkata, ‘Siapa yang minta? Kan situ yang maksa.’ “Om.” Tiba-tiba Dhio memanggil Biantara. “Yes, Boy. Kenapa? Lain waktu Om akan kesini lagi tanpa mobil. Om janji akan bawakan kamu mainan bagus.” “Aku mau, Om. Tapi, bukan itu.” Anak itu menggeleng kecil. “Lalu?” “Kakek Nano suka parkir mobil di tanah kosong sana kalau malas masukin mobil ke rumah.” Tunjuk Dhio ke sebuah arah depan. Sedetik kemudian, Biantara tersenyum tengil seraya menatap Viona yang nampak menyesali ucapan anaknya. * * “Ayo, Om! Kesini! Kesini! Awas ada musuh!” Viona menghela nafas panjang karena melihat interaksi Dhio dan Biantara yang sedang main game bersama. Percayalah, ponsel mahal Biantara yang isinya penting-penting itu, harus diisi dengan game pertarungan yang cukup terkenal di kalangan pecintanya. “Tenang, Dhio. Om akan lindungin kamu.” Lelaki itu begitu fokus menggerakkan jarinya di atas layar ponsel, seperti Dhio. Matanya juga tak pernah berpaling dari sana kecuali saat dia melirik Viona seperti ini. Tentu saja, Viona salah tingkah bercampur kesal, apalagi saat senyuman Biantara benar-benar menyebalkan. “Bapak nggak ada kerjaan ya?” Tanya Viona. Sudah terlalu malas bersopan santun. “Ini saya lagi sibuk.” Jawab Biantara. Langsung, persis seperti lelaki yang memang sudah fokus kepadanya sejak awal. Tidak seperti laki-laki lain yang harus hah-hoh saat diajak bicara kala sedang bermain game online. “Maksud saya kegiatan lain selain disini. Dhio harus istirahat.” Biantara mengangkat wajahnya. Menghentikan gerakannya di atas layar ponsel. “Mainnya sudah ya, Dhio.” kata lelaki itu. “Nggak mau! Ayo, Om. Lagi! Nanti Om afk.” Biantara mengangkat alisnya seolah-olah menunjukkan jika Dhio tak mau berhenti. Viona menatap anaknya yang nampak serius. “Dhio, nanti lagi ya main game nya. Kalau Dhio nggak nurut sama Mama, nanti tabletnya Mama balikin sama Pak Biantara.” “Ish, Mama nggak asyik. Padahal, ini masih seru.” “Ya sudah kalau begitu. Kalau game itu lebih seru dari Mama, Mama kerja aja.” Viona bangkit cepat dari duduknya, dan seketika itu Dhio meletakkan tabletnya. “Iya, Dhio udah nggak main. Tapi, Mama jangan kerja dulu hari ini. Besok aja kerjanya.” Biantara tersenyum penuh arti menatap interaksi Viona dan anaknya. Tapi, mulutnya tetap diam, seraya menilai dengan matanya. “Ya sudah, sekarang Dhio istirahat dulu. Boleh tidur dulu sebelum makan malam tiba.” Dengan bibir cemberut, Dhio mengangguk. “Tapi, aku mau bobok disini aja, Ma.” Memang, mereka sedang duduk santai di kasur lesehan di samping sofa tamu. Menghadap langsung ke arah televisi yang sedang menyala. “Ya sudah. Nggak apa-apa. Nanti, Mama bangunin kalau waktunya makan.” Menurut, Dhio merebahkan tubuhnya begitu saja. Viona dengan telaten menyelimuti anaknya dan menyamakan posisi anaknya yang belum bisa bergerak leluasa. “Dhio sudah mau tidur, Bapak bisa pulang sekarang.” Ucap Viona, belum beranjak dari tempatnya. “Kamu senang sekali mengusirku, Vi.” Biantara tak pernah marah. Tapi, senyum penuh arti itu selalu terasa menindas tanpa bentakan. “Saya khawatir mengganggu pekerjaan Bapak.” Biantara menunjuk Jonathan yang duduk di sofa dengan laptop menyala di depannya. “Pekerjaanku sudah ada yang menghandle.” “Tapi, Bapak bisa mengganggu aktivitas saya.” “Aktivitas apa? Kamu mau mandi? Masak? Atau bersih-bersih? Aku sudah biasa menunggunya.” Viona melengos, tak mau menanggapi. Terlebih, setiap berbicara, senyum Biantara terasa mengancamnya. “Kalau begitu, saya tidak perlu menemani Bapak.” Terlihat kesal dan menggebu-gebu yang ditahan, Viona bangkit. Dia berniat masuk kamar, tak mau peduli lagi dengan Biantara. “Mana foto pernikahanmu?” Tak hanya Viona yang menghentikan kegiatannya membuka pintu kamar karena mendengar pertanyaan itu. Tapi, juga Jonathan yang terpaksa mengalihkan perhatiannya. “Bukan urusan Bapak.” Jawab ringan Viona tanpa menoleh. “Baiklah… padahal, aku cuma ingin bersimpati saja karena suamimu sudah meninggal saat kamu hamil.” Viona tak menjawab. Dia memilih melanjutkan membuka kamarnya dan masuk begitu saja. Wanita itu benar-benar muak kepada Biantara. Beruntungnya, Biantara tahu diri. Lelaki itu memberi instruksi Jonathan dan berpamitan dengan Dhio yang belum benar-benar tidur. Tapi, Viona tetap tak mau menemui Biantara sampai lelaki itu benar-benar keluar dari rumahnya. * * “Mama masuk kerja hari ini?” Tanya Dhio memperhatikan pakaian kerja sang Mama yang sedang menyiapkan sarapan untuknya. “Iya, sayang. Maaf ya… Mama harus kerja,” jawab Viona dengan wajah menyesal. “Coba aku punya Papa ya, Ma. Pasti, Mama nggak perlu kerja lagi. Jadi, Mama bisa nemenin aku setiap hari.” Viona menghentikan gerakan tangannya meletakkan omelette di atas roti panggang. Dia menatap Intan yang tengah berwajah sendu karena ucapan Dhio. “Sarapan sama Tante Intan ya, Nak. Mama siap-siap dulu.” Viona mengalihkan pembicaraan. Wanita itu meletakkan teflon di atas kitchen set begitu saja, kemudian berjalan ke kamarnya. Meskipun Viona tidak bercerita apa-apa, tapi Intan tahu, kakak sepupunya itu pasti sedih mendengar celotehan Dhio setiap membahas Ayah. Dan benar saja, Viona menangis di kamarnya tanpa suara. Tapi, seolah sudah biasa, wanita itu hanya mengusap kesedihan di pipinya, lalu bersikap biasa lagi seperti biasanya. Untuk mengalihkan mood buruknya pagi ini, Viona cepat-cepat mengemasi barang-barangnya yang akan ia bawa bekerja, termasuk ponselnya. Namun, sebelum benda pipih itu benar-benar masuk ke dalam tasnya, benda itu sudah bergetar lebih dulu, menandakan sebuah notifikasi pesan. Raka: Vi, langsung ke tempat Pak Biantara aja. Beliau bilang, beliau mau ketemu sama kamu dulu sebelum kembali ke Jakarta. Viona mengerutkan keningnya. Ada banyak tanya di dalam benaknya tentang perintah itu. Tapi, sebagian dari pertanyaan yang belum sempat terjawab tadi, langsung dijawab oleh pesan selanjutnya dari orang yang berbeda. 08228858XXX: Aku tunggu di Amanda Cafe. Jelaskan apa kelebihan Sagara Kreasi Nusantara, agar aku bisa mempertimbangkan harus menyumbang uang di sana atau tidak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN