Tidur denganku Malam Ini!

1888 Kata
* * Viona menatap bangunan di depannya cukup lama. Amanda Cafe. Nama itu tidak asing. Bahkan, hampir setiap hari di melewatinya berangkat dan pulang kerja. Tempat nongkrong kelas menengah ke atas yang biasanya jadi lokasi rapat santai klien-klien besar Amanda Cafe pagi itu belum terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang sedang sarapan dengan laptop terbuka dan setelan rapi. Aroma kopi pahit bercampur wangi roti panggang memenuhi ruangan. Viona mengedarkan pandangannya. Dalam waktu kurang dari satu menu, dia langsung menangkap sosok Biantara di sudut ruangan dekat jendela kaca. Lelaki itu duduk santai sendirian, jasnya dilepas dan digantung di sandaran kursi. Lengan kemeja digulung rapi. Secangkir kopi hitam mengepul di depannya dan sebuah croissant di atas piring kecil. Viona melangkah mendekat. “Selamat pagi, Pak.” Biantara mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya langsung mengunci, seperti biasa. Tatapan yang Viona sendiri takut mengartikannya. “Duduk,” katanya singkat. Viona menarik kursi, duduk tegak. Tas kerja diletakkan rapi di sampingnya. Ekspresinya profesional dan terkontrol. Ya, dia cukup tenang meskipun sebenarnya mood tidak terlalu baik. “Kamu mau pesan sesuatu?” Tanya Biantara. Gelagatnya cukup datar. “Terima kasih, Pak. Tapi, saya sudah sarapan.” “Oh, begitu?” Biantara mengangguk. “Aku pikir, kamu juga croissant dengan madu. Sejak kamu memberiku croissant dengan madu waktu itu, aku jadi menyukainya.” Viona melengos kecil. Entah kenapa, dia merasa Biantara sedang mencoba mengingatkannya dengan masa lalu. Ah, tidak. Tidak seharusnya Viona terlalu percaya diri seperti itu. Wanita itu berdehem kecil, berusaha bersikap professional. “Kalau Bapak ingin sarapan dulu, saya akan menunggu.” “Ya. Tentu saja. Kamu memang harus menunggu karena kamu membutuhkanku. Bukan begitu, Viona? Kecuali kalau kamu sudah tidak membutuhkanku. Pasti, kamu sudah resign sesukamu.” Deg. Viona seperti sedang ditampar kata-kata oleh Biantara. Lagi, dia terlalu percaya diri karena sudah lancang berpikir jika Biantara sedang bermaksud bernostalgia. “Hem. Terlalu keras kulitnya, tidak seperti buatanmu.” Biantara berbicara lagi setelah menggigit croissant miliknya. “Ini juga terlalu manis.” Setelahnya, lelaki itu meletakkan makanan itu seolah-olah tidak menyukainya. Viona sendiri hanya mengeratkan gigi-giginya, mencoba bersabar dan tidak terpancing oleh Biantara. Kemudian, lelaki itu menatap jam di pergelangan tangannya. “Satu jam lagi, aku ada acara lain. Jadi, gunakan waktumu sebaik mungkin untuk menjelaskan.” Kata Biantara. “Bisa saya mulai sekarang, Pak?” Viona ingin memastikan. “Ya. Lakukan!” Viona mengangguk kecil. Ia lantas membuka tablet miliknya, menampilkan presentasi yang bahkan belum sempat ia niatkan untuk Biantara secara khusus. Hanya sebuah file-file pilihan yang berisi kontrak bernilai besar. “Sagara Kreasi Nusantara fokus pada pemberdayaan UMKM kreatif—” “Aku tahu itu,” potong Biantara. Membuat Viona sontak merasa tak suka. “Kenapa kamu bertahan disana?” Viona sedikit lama berpikir, karena dia harus berhati-hati menjawabnya. “Karena saya bekerja di sana, Pak. Jadi, saya akan melakukan apapun untuk kelangsungan perusahaan tempat saya bekerja.” Biantara menyandarkan tubuh. “Padahal, kamu bisa bekerja di tempat lain. Dengan kemampuanmu itu, kamu bahkan bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik dari itu.” Viona mengatupkan rahang. “Kalau Bapak tidak tertarik, saya—” “Siapa bilang aku nggak tertarik?” Nada Biantara tenang, tapi menekan. “Tapi, Bapak justru menanyakan hal subjektif kepada saya.” Lelaki itu tersenyum miring. “Jangan terlalu percaya diri, Vi. Aku cuma mau tahu apakah perusahaan kalian benar-benar layak untuk aku beri sumbangan dana.” Sebenarnya, Viona cukup tersinggung dengan ucapan Biantara. Lelaki itu, sudah berulang kali menyebut ‘menyumbang dana’. Padahal, bukankah seharusnya itu adalah investasi? “Aku cuma mau tahu. Seorang Viona mau bertahan di perusahaan kecil dan memperjuangkannya, pasti karena perusahaan itu punya kelebihan kan?” lanjut Biantara lagi. Kalau boleh, Viona ingin sekali mendengus kesal. Tapi, karena dia masih butuh Biantara. Dia tak mungkin melakukan itu. “Ya. Anda benar sekali, Pak Bian. Perusahaan kami banyak nilai plusnya. Dari kontrak kerja yang kami dapatkan, biasanya kami akan mendapatkan keuntungan besar.” Viona terdiam sesaat. “Itu kalau tidak ada korupsi dari orang dalam.” “Wow! Kamu jujur sekali. Jadi, di tempat kecil itu ada koruptor?” Biantara sampai menepuk tangannya dua kali, seolah-olah itu adalah hal yang hebat. Viona jengkel, tapi tetap berusaha tenang. “Saya cuma tidak ingin Bapak menyesal dan di akhir menuntut kami macam-macam.” “Tapi, apa kamu nggak tahu kalau apa yang kamu sampaikan itu bisa membuat investor batal menyalurkan uangnya?” Viona menatap Biantara dengan berani. “Tidak masalah. Saya justru takut kalau di kemudian hari, orang-orang yang sudah percaya dengan perusahaan kami, menyesal.” “Baiklah… aku anggap kamu tidak sungguh-sungguh mencari simpatiku.” putus Biantara. Viona menghembuskan nafas sedikit kasar. “Saya tahu, sejak kemarin Bapak sudah tidak tertarik bekerjasama dengan kami.” Wanita itu menutup laptopnya begitu saja, kemudian mulai mengemasi barang-barangnya satu persatu. “Kalau aku nggak mau bekerjasama, aku nggak akan mengundangmu kesini.” “Maaf, Pak Bian. Saya tidak bisa menilai apa-apa. Saya hanya ingin jujur bagaimana kondisi perusahaan kami, karena pasti kalau sudah ada kerjasama antara kita nanti, mau nggak mau, anda atau perwakilan anda akan terlibat langsung di perusahaan kami.” Biantara bergeming, tapi belum melepaskan tatapan dari Viona. “Kalau begitu, saya permisi, Pak. Maaf, sudah mengganggu waktu anda yang berharga.” “Tunggu!” Gerakan Viona beranjak, terhenti seketika. Dia berdiri tepat di hadapan Biantara. “Aku bisa mempertimbangkan kerjasama kita. Tapi, kamu harus melakukan satu hal untukku.” “Apa itu?” Viona mengerutkan keningnya. “Tidur denganku malam ini.” Viona mengeraskan rahangnya guna menahan diri. Wanita itu menatap Biantara dengan berani, seolah-olah ingin meluapkan emosinya yang sudah memuncak. Sumpah demi apa, Viona ingin sekali melemparkan kopi panas milik Biantara ke wajah lelaki itu. Tapi, dengan tarikan nafasnya, dia berusaha tetap tenang. “Maaf, Pak. Kita batalkan saja kerjasama ini.” Viona benar-benar beranjak, mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Biantara. “Kamu naif, Vi. Kamu sok suci.” Viona menghentikan langkahnya. Bukan lagi emosi, tapi wanita itu rasanya ingin menangis saja. Tapi yang dia tunjukkan saat dia berbalik, hanyalah wajah datar, tanpa kekalahan. “Saya sadar, saya bukan orang suci. Tapi, setidaknya saya mau memperbaiki diri. Saya memang pernah jadi w************n untuk anda. Tapi, saya tidak akan membela diri saya kalau waktu itu saya dalam keadaan terdesak. Hanya saja, satu hal yang tahu. Saya menyesal sudah sejauh itu.” Viona berbalik lagi, tapi belum melangkah. “Selamat pagi, Pak Biantara. Selamat beraktivitas.” Setelahnya, wanita itu melangkah dengan heels nya yang tidak terlalu tinggi. Meninggalkan Biantara yang sedang terdiam, dengan ekspresi tak mampu dimengerti. * * Viona menarik nafas panjang untuk mengumpulkan keberaniannya sebelum mengetuk pintu ruang kerja Raka. Tentu saja, Viona sudah menyiapkan dirinya akan disemprot habis-habisan oleh Raka. Bahkan, dia juga sudah menyiapkan bahan bantahan, dan siap resign dari perusahaan sekarat itu kalau Raka menyalahkannya karena tak jadi memberikan investasi. Tok tok tok. “Masuk!” Suara dari dalam terdengar seperti khas seorang Raka yang mengentengkan segala sesuatu. Viona membuka pintu pelan, dan dia menemukan pemilik perusahaan itu sedang berdiskusi sesuatu dengan Dimas—rekan kerja Viona. “Em, Pak—” “Sini! Sini, Vi! Kita bicarakan sambil duduk,” potong Raka. Viona terpaksa menahan diri dulu untuk tidak berbicara. Dia mendekat, kemudian duduk di samping Dimas yang berhadapan langsung dengan Raka. “Maaf, Pak—” “Selamat ya, Vi,” potong Raka lagi. Viona sampai menaikkan satu alisnya, heran menatap uluran tangan Raka di depannya. Alhasil, dia hanya menatap bingung tangan itu. “Selamat buat apa ya, Pak?” Pikir Viona, Raka salah menduga mentang-mentang dia baru saja bertemu dengan Biantara. “Selamat karena kamu berhasil meyakinkan Pak Biantara untuk menjadi investor kita.” Alis Viona berkerut. “Maaf, Pak. Kayaknya, Bapak salah paham. Pak Biantara nggak setuju sama proposal kita. Em, bahkan saya belum menjelaskan apa-apa sama beliau.” “Kamu ini bicara apa, Vio?” Nah, kan. Viona mulai ketar-ketir melihat ekspresi Raka. Lelaki itu nampak tak suka dengan ucapan wanita itu. “Sa—saya bicara yang sebenarnya, Pak. Pak Biantara nggak mau jadi investor kita.” Meskipun gugup, tapi dia sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi. “Jangan bercanda kamu, Vi!” Suara Raka sedikit meninggi. “Kamu mau main-main sama saya?” Viona berkedip-kedip gentar. “Saya nggak bercanda, Pak. Saya—” “Saya tidak sedang berulang tahun. Jadi, kalau kamu mau mengerjai saya, simpan saja buat bulan depan.” Viona masih cengo. Dia menatap Dimas yang juga tengah menatapnya. Sayangnya, pertanyaan isyarat yang dia tunjukkan dengan wajahnya tidak ditanggapi oleh Dimas yang cengar-cengir. “Maksudnya gimana ya, Pak?” Viona mencoba menjelaskan. Khawatir sang atasan salah sangka terus kepadanya. “Kamu hebat, Vi.” Tiba-tiba, Raka bertepuk tangan jarang-jarang. “Pak Biantara mau berinvestasi 5 miliar untuk permulaan.” “Hah?!” Viona masih cengo. “Ya. Beliau bilang, beliau ingin melihat dulu prospek perusahaan kita setelah beliau memberi suntikan dana. Kalau semua berjalan baik, beliau mau berinvestasi lebih banyak lagi.” Mulut Viona masih menganga. Bukan karena jumlahnya, tapi karena kenyataan yang entah benar atau tidak. Sebenarnya, 5 miliar itu kecil untuk sekelas perusahaan mereka, meskipun hanya perusahaan kecil. Tapi, untuk kali ini, jumlah itu akan sangat membantu perusahaan. Hanya saja, jelas-jelas bukan itu yang membuat Viona menganga tak percaya. “Bapak serius?” “Ya.” Raka mengangguk mantap. “Tanya sama Dimas kalau nggak percaya. Kami langsung membahas proyek-proyek mana yang sebaiknya kita ambil.” “T—tapi, Pak. Tadi Pak Bian—” “Ya. Memang bukan Pak Bian yang kesini. Tapi, Pak Jonathan.” Viona tertegun. Kalau memang Jonathan ke perusahaan, lalu untuk apa dia tadi bertemu Biantara? Ah, iya. Viona hampir lupa. Pasti, Biantara memintanya bertemu hanya untuk mempermalukan dirinya saja. * * Viona meregangkan otot-ototnya, menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Pekerjaannya hari ini cukup padat, tapi dia juga merasa lega sekaligus sebab beberapa invoice yang tertunda sudah bisa ia tangani. Dia melirik jam di laptopnya. Sebentar lagi jam 6 sore, dan pasti Dhio akan bertanya-tanya kalau dia pulang malam. Memutuskan untuk menunda pekerjaannya sendiri karena Raka juga tidak mendesaknya, Viona menutup laptopnya, kemudian membereskan barang-barangnya. Sebelum sampai rumah, dia singgah dulu di toko cake and bakery untuk membelikan Dhio donat dulu. Setelahnya, dengan ojek online yang sejak tadi ia tumpangi, dia melaju ke rumahnya untuk bertemu dengan sang buah hati. “Makasih ya, Mas. Udah dibayar pakai aplikasi ya sekalian tipsnya.” Setelah tukang ojek pergi, Viona masuk ke dalam rumahnya. Tapi, ada yang aneh karena jam segini Intan masih membuka pintu rumahnya. “Mbak!” Belum selesai rasa penasaran Viona, tiba-tiba wanita itu dikejutkan dengan suara Intan yang memanggilnya, tapi dari arah belakang karena rumah Intan ada di depan rumahnya. “Loh, Tan—” “Ada Pak Biantara di dalem nemenin Dhio.” “Apa?!” pekik Viona terkejut. “Iya, dari tadi sore setelah Dhio mandi malahan, Mbak.” “Terus, kenapa nggak kamu temenin, Intan? Kalau Dhio kenapa-kenapa gimana?” Panik Viona. “Orang aku malah diusir sama Dhio. Katanya, Tante Intan pulang aja. Om Bian mau tidur disini sama aku.” Viona pias seketika. Sayangnya, belum sempat dia berkata-kata lagi, Intan nyeletuk lagi. “Aku lihat-lihat, Pak Biantara kayak suka sama Mbak Vio. Kalian udah kenal dari dulu kan? Kayaknya, Pak Biantara lagi menerapkan ilmu ayam deh, Mbak.” Viona mengerutkan keningnya tak suka. “Apa maksudmu?” “Nangkep anaknya biar dikejar Mamanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN