Papanya Dhio?

1797 Kata
“Bapak ngapain disini?” Tak hanya Biantara, Dhio yang sedang duduk manis di sofa bed depan televisi, menoleh ke arah Viona yang baru saja masuk rumah. “Mama!” Teriak anak itu antusias. Langsung mengulurkan tangan, minta dipeluk seperti biasanya. “Mama kenapa pulang malam?” Tanya Dhio lagi, saat Viona memeluknya. Viona meregangkan jarak, menatap anaknya dengan wajah menyesal. “Maaf, sayang. Pekerjaan Mama banyak banget tadi. Jadi, Mama harus selesaikan yang penting-penting dulu.” “Baiklah… selama Mama nggak nginep-nginep lagi, aku nggak apa-apa. Tapi, aku sedih kalau Mama harus nginep-nginep sama teman-teman Mama.” “Nginep?” Orang yang sejak tadi terlupakan, kini baru mereka ingat lagi. “Iya, Om. Mama suka nginep kalau ada acara.” Yang menjawab Dhio. “Benarkah? Acara apa?” Lelaki itu nampak penasaran. “Kamu sering ditinggal Mamamu menginap?” Dhio mengangguk polos, sementara Viona mendengus kesal. “Bapak lupa kalau perusahaan tempat saya bekerja bergerak di bidang jasa?” ketus wanita itu. “Memangnya, seorang sekretaris harus melakukan itu?” ekspresi Biantara begitu meremehkan. Viona tak ingin terlalu menanggapi. Wanita itu mengambil donat yang baru dia beli, kemudian membukanya. “Mama bawain Dhio donat. Dhio mau makan sekarang?” Wanita itu sudah tersenyum lagi, tidak seperti saat berbicara dengan Biantara. “Aku mau coklat, Ma. Yang ini! Yang ini.” Seru bocah kecil itu. Viona mengambilkan satu yang ditunjuk Dhio kemudian memberikan kepada anaknya. “Nah, ini tissue nya. Jangan di lap di sofa dan di baju.” Dhio menurut. Kemudian, mulai menggigit makanan manis itu. “Tunggu, Ma!” Dhio menghentikan gerakan Viona menutup box donat. “Om Bian belum ambil donatnya. Tadi, Om Bian udah beliin Dhio buku cerita seru banyak sekali. Lihat, Ma! Aku akan gantian kasih Om Bian donat.” Sedikit menyentak nafasnya, Viona terpaksa memberi pengertian Dhio. “Pak Biantara sebentar lagi akan pulang, Nak. Lihat! Ini sudah jam 7 lewat.” “Tapi, kata Om Bian, Om Bian mau bobok disini, Ma.” Belum apa-apa, Dhio sudah nanar karena kecewa. Viona mengelus rambut anaknya, memberikan sentuhan ketenangan seperti biasanya saat anak itu ngambek. “Dengar ya, Dhio. Pak Biantara itu bukan keluarga kita. Dan kalau Pak Biantara sampai tidur disini, bisa-bisa kita dimarahin sama Pak RT.” “Kenapa Pak RT marah, Ma?” Meskipun kecewa berat, tapi Dhio masih menanggapi. “Karena ada orang asing di rumah Dhio.” “Tapi, kita kenal sama Om Bian.” “Iya. Tapi tetap saja bukan anggota keluarga. Dan itu nggak boleh. Kalau Pak RT tau, Dhio sama Papa pasti dimarahin sama Pak RT.” “Kamu mengajarkan anakmu kebohongan sejak kecil, Vi?” Suara Biantara memecah interaksi ibu dan anak itu. Keduanya sama-sama menoleh, tapi dengan tatapan berbeda. “Siapa yang bohong, Om?” Bingung bocah empat tahun itu. Viona mengeraskan rahangnya dengan kesal. Sepertinya, dia sudah tidak bisa memaklumi lelaki itu lagi. “Mamamu yang bo—” “Kita bicara di luar, Pak.” Potong Viona benar-benar sudah muak kepada lelaki itu. Jangankan sikap ikut campurnya, kehadirannya saja, Viona tidak suka. Sialnya, bukannya menjawab Viona, Biantara malah berbicara kepada Dhio. “Om ngobrol dulu ya sama Mama. Nanti, Om temani Dhio baca buku cerita lagi. Tadi, masih banyak kan yang belum dibaca?” Dhio mengangguk polos. “Tapi, jangan di luar ngobrolnya, Om. Nanti Om ketahuan Pak RT, terus aku sama Mama dimarahin.” Biantara justru menatap Viona dengan tatapan penuh arti. Hanya saja, Viona langsung melengos karena ia tahu Biantara sedang mengejeknya karena Dhio salah persepsi. “Baiklah, Vi. Sepertinya lebih baik kita bicara di meja makan saja.” Viona bangkit dengan kasar. Kemudian, mendahului Biantara masuk ke ruang makan yang bersatu dengan dapur. “Hebat ya, Pak. Bapak sudah kenal ruangan di rumah saya.” Sindir wanita itu. Biantara tersenyum, menarik salah satu kursi disana. “Jangankan cuma rumah sekecil ini. Pemiliknya saja, aku sudah pernah mengenalnya dengan sangat baik, LUAR DALAM.” lelaki itu sengaja memberikan penekanan. Viona sedikit melengos, tapi tak ingin menunjukkan kekalahan. “Sepertinya, ada hal serius yang harus kita bicarakan, Pak Bian.” Biantara hanya menantang dengan wajah tengilnya. “Saya tahu niat Bapak ingin bertanggung jawab sama anak saya. Tapi, saya rasa sudah cukup tanggung jawabnya, Pak. Kami tidak akan menuntut apa-apa lagi kepada anda.” Viona mengangkat dagu. “Tapi, aku bukan tipe orang yang suka lepas dari tanggung jawab. Aku akan pastikan Dhio bisa berjalan lagi dengan normal.” “Tidak perlu! Saya bisa menjaga anak saya sendiri. Dan saya tidak suka orang lain ikut campur dalam pengasuhan saya kepada Dhio.” Biantara mengangguk, tapi Viona yakin itu bukan tanda setuju. Ya, benar. Itu tanda menilai. “Sayang sekali, Vi. Pengasuhan kamu buruk sekali. Padahal, Dhio anak yang pintar.” Viona mengeraskan rahangnya, menahan kesal. “Bukan urusan anda soal cara mengasuh saya. Dan seharusnya anda tidak perlu mengurusi itu. Saya rasa sekelas Pak Biantara tidak akan punya waktu untuk mengurusi orang lain. Apalagi, saya tahu dari Pak Raka, investor kami sedang mengejar waktu karena akan kembali ke Jakarta.” Biantara mengepalkan tangannya di atas meja, tak kentara. Sepertinya, dia merasa Viona sedang mengusirnya secara halus. “Sudah saya bilang, saya ingin bertanggung jawab sama Dhio.” “Dan tanggung jawab anda hanya sebatas cedera yang dialami Dhio, Pak,” pungkas Viona pongah. “Bukan hal yang lain-lain.” “Tapi, aku kasihan sama Dhio. Anak sekecil itu sudah kamu tinggal bekerja siang malam, bahkan sampai menginap.” Entah apa maksud Biantara mengatakan itu, tapi Viona sama sekali tak menyukai ekspresi mengejek Biantara. “Lebih kasihan lagi kalau saya tidak bisa menafkahi anak saya dengan baik. Buktinya, meskipun saya bekerja, saya masih punya waktu untuk Dhio.” “Kalau kamu sampai menginap? Kamu biarkan dia tidur sendirian, begitu?” Viona tersenyum sinis. “Saya tidak tahu apa maksud Bapak ikut campur urusan kami. Tapi, demi Tuhan, saya tidak suka cara Bapak.” “Kamu tidak suka kepada orang yang mengingatkanmu, Viona? Kamu pikir, kerja sampai menginap itu baik untuk perempuan seperti kamu?” Viona benar-benar hampir hilang kesabaran. “Terserah Bapak mau menilai saya apa. Saya tidak sayang anak kek, atau saya apa kek. Tapi, tunggu sampai Bapak benar-benar terjun dalam perusahaan kami. Dan Bapak, akan tahu apa maksud Dhio.” Biantara mengangguk-angguk lagi. Tangannya mengetuk-ngetuk meja penuh arti. “Oke….” kata lelaki itu. Sumpah demi apa, Viona kesal luar biasa kepada Biantara. Dia merasa lelaki itu menyepelekan penjelasannya. “Maaf, Pak Bian. Ini sudah malam.” Kata Viona pada akhirnya. Ingin mengakhiri semuanya. “Kenapa memangnya? Ini belum jam 8.” Biantara menatap sekilas jam di pergelangan tangannya. “Adab tamu yang baik itu, tahu kapan waktu bertamu.” “Oh, kamu mau mengusirku, Vi?” “Ya.” Viona tak butuh basa-basi. “Biar saya tunjukkan pintu keluarnya kalau Bapak lupa.” Biantara tersenyum miring. “Kamu benar-benar tidak tahu diri, Vi.” Viona mengerutkan keningnya, tanda bertanya. “Seharusnya, kamu berterima kasih karena aku sudah memberi kalian modal.” “Ralat, Pak. Anda hanya sedang berinvestasi. Bukan memberi kami uang cuma-cuma.” “Kamu masih sama, Vi. Kamu masih cerdas seperti dulu.” Viona menghela nafas panjang. “Ya. Saya memang cerdas. Satu-satunya kebodohan saya adalah menanggapi anda dulu dan sekarang.” Biantara bergeming, mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. * * “Om Bian kok nggak kesini-kesini lagi ya, Ma?” tanya Dhio saat sarapan pagi. Sudah beberapa hari sejak pengusiran paksa oleh Viona kala itu, Biantara tidak nampak batang hidungnya lagi. Sialnya, sekesal apapun Viona kepada Biantara, wanita itu tetap menduga-duga dimana keberadaan Biantara. “Mungkin, Om Biantara udah kembali ke rumahnya, sayang. Kan rumah Pak Biantara nggak disini.” Ya, Viona memang sudah menebak kalau Biantara kembali ke Jakarta—kepada keluarganya dan kepada istri tercintanya, Angel. “Oh, begitu? Kalau kesini lagi kapan, Ma?” Viona menggelengkan kepalanya dengan senyum setulus mungkin. “Maaf, sayang. Mama nggak tahu. Soalnya, urusan di perusahaan Mama juga sepertinya sudah selesai.” “Di perusahaan Mama? Kok Dhio bingung? Sebenarnya, Om Bian teman Mama disini apa di Jakarta?” “Ah, Mama pasti belum cerita sama Dhio. Pak Biantara memang atasan Mama di Jakarta dulu. Tapi, Om Bian juga baru saja jadi investor di perusahaan Mama yang sekarang.” “Oh…” anak itu mengangguk meskipun, tidak paham sepenuhnya. Bahkan, Intan yang baru datang saja sampai tertawa melihat Dhio sok tahu. “Uluh… uluh… ponakan Onty sok tahu banget.” Ledek gadis itu. “Aku emang tau, Tante. Masa gitu aja nggak tahu?” “Kalau tau, ayo coba bilang sama Onty, investor itu apa?” Dhio sontak mengerungkan wajahnya. “Aku belum tahu itu apa. Nanti kalau aku udah kelas satu, pasti aku tahu.” Bocah itu sedikit mencak-mencak, karena diledek. “Udah, Intan…” peringat Viona. “Sarapan dulu sana! Nih piringnya.” Intan tersenyum manis, lalu menuruti Viona mengambil nasi goreng buatan wanita itu. “Mbak,” panggil gadis itu sebelum menyendok makanannya. Viona menoleh refleks kepada adiknya. “Kenapa? Kamu udah diterima kerja?” tebak Viona, sedikit antusias. “Enggak, Mbak.” Gadis itu malah tertawa kecil. “Aku masih males kerja. Ayah nyuruh aku kuliah tahun depan.” “Nah, itu bagus, Tan. Dan saran Mbak, lebih baik kamu mau nurut sama Pakde sekarang.” “Ya ya ya.” Malas gadis itu. “Tapi, bukan itu yang mau aku omongin.” “Terus?” Viona menyempatkan menatap Intan lagi setelah menyuap makanannya. “Sebenarnya, ada apa sih antara Mbak Vio sama Pak Biantara?” Viona berdecak, mencebik malas. “Kamu ini tanya apa sih, Tan? Nggak penting tau. Pak Biantara itu cuma investor baru di perusahaan Mbak.” “Tapi, kemarin yang terakhir kesini itu, Pak Bian sempet ngobrol sama Ayah sebentar tanya-tanya soal Papanya Dhio.” “Uhuk!” Viona sampai tersedak saking terkejutnya. Dia spontan mengambil air minum dan meneguknya. “Kok kamu baru bilang sama Mbak?” Viona nampak tak terima. “Ya aku pikir kan Pak Biantara cuma tertarik aja sama Mbak. Dia itu lagi nerapin ilmu ayam. Tapi, kalau aku lihat-lihat, Mbak Vio kesel banget tiap ada dia kayak ada sesuatu yang pernah terjadi.” “Terus, Pakde bilang apa sama Pak Biantara?” Wanita itu belum selesai paniknya. “Ya bilang seperti yang pernah kita rencanakan, Mbak. Kalau suami Mbak Vio meninggal saat hamil Dhio.” Viona langsung menghela nafas lega. “Syukurlah…” Melihat hal itu, Intan merasa semakin curiga. Tapi, gadis itu ragu-ragu untuk bertanya. “Em…. mbak.” Viona mengangkat wajahnya sekilas saja. “Maaf ya, Mbak. Bukannya aku ikut campur. Tapi, kok aku tiba-tiba kepikiran sesuatu. Jangan-jangan, Pak Biantara itu Papanya Dhio ya?” “Uhuk uhuk uhuk! Intan!!!! Jangan bicara yang tidak-tidak di depan Dhio!” Semprot Viona dengan suara tercekat karena terdesak dan tak sempat minum saking paniknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN