62. Sebuah Maaf

1105 Kata

Raven berdiri di depan pintu kamar rumah sakit dengan tangannya yang masih menggenggam erat jemari Maura. Ruangan di balik pintu itu terasa lebih dingin daripada koridor yang panjang dan sunyi yang baru saja mereka lewati. Di dalam sana terbaring sosok yang selama ini ia anggap sebagai salah satu sumber penderitaan dalam hidupnya. Ibu. "Raven, kita bisa melakukannya kapan pun kamu merasa sudah siap," Maura berkata pelan, menatap Raven dengan penuh pengertian. Raven mengangguk tanpa suara, lalu menarik napas panjang sebelum kemudian ia pun membuka pintu itu dengan perlahan. Begitu pintu terbuka, aroma khas antiseptik langsung menyerbu hidungnya. Di dalam ruangan itu hanya ada bunyi monoton dari mesin-mesin yang memonitor detak jantung dan pernapasan ibunya. Wanita yang pernah men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN