Adam bergeming melihat Amber berbaring memunggunginya. Kesedihan terpancar jelas dari pundak yang gemetar itu. Berapa kali sang istri menyeka wajah, sebanyak itu pula hatinya dihujam oleh rasa bersalah. Ketika rasa itu tidak lagi tertahan, ia pun naik ke tempat tidur dan mendekap Amber dari belakang. "Sejak kapan istriku berubah jadi cengeng begini?" ledeknya sebelum membenamkan kecupan di pundak. "Kenapa kau di sini? Pergilah! Urus saja mantan kekasihmu itu. Dia lebih penting daripada aku," timpal Amber sembari menyikut lengan yang membungkus tubuhnya. Bukannya mundur, Adam malah menempelkan dagu di pundak wanita sensitif itu. "Kau jauh lebih penting, Precious. Karena itulah, aku di sini bersamamu." "Tapi kau ingkar janji. Kau membiarkan si Rambut Mencolok itu menggagalkan rencana b

