Begitu membuka pintu, Amber terbelalak menatap kehampaan. Tidak ada seorang pun berlutut di sana. Yang ada hanya udara dingin dan hamparan salju di sekitar vila. “Adam?” panggilnya dengan suara bergetar. Pikiran buruk telah memenuhi kepalanya. Bagaimana kalau suaminya itu tidak sanggup mengatasi patah hati? Bagaimana kalau serangan paniknya datang? Atau yang lebih buruk, bagaimana kalau laki-laki itu nekat lagi? “Tidak! Adam tidak mungkin menyakiti diri sendiri,” desah Amber seraya mengusir ketakutan lewat gelengan kepala. Setelah menelan kepahitan, ia melangkah mengikuti intuisi. “Adam? Adam!” Malangnya, tidak ada seorang pun yang menyahut. Sembari terengah-engah, Amber terus memperhatikan sekeliling. Namun, sang suami tidak kunjung terlihat. Ia tidak tahu harus cemas atau lega karena

