“Apa yang akan kau lakukan sekarang, hah?” hardik sang ibu di sela napasnya yang menderu. “Kau ingin diam saja? Menyaksikan penderitaan keluargamu sambil tertawa gembira? Kau ini tidak punya hati atau apa?” Adam terpejam meredam kemarahan. Masih tersisa sedikit kesabaran dalam dirinya. Ia sadar bahwa akal sehat tetap harus dipertahankan walaupun hatinya berserakan. “Kenapa kau diam saja? Jawab ibumu! Kau kira aku akan membiarkanmu lolos hanya dengan berpura-pura lugu? Semua ini kesalahanmu, Adam, kesalahanmu!” “Kenapa Ibu selalu menyalahkanku?” balas pria yang akhirnya menegakkan kepala. Mata merahnya tidak lagi menyembunyikan kesedihan. “Sudah jelas bahwa Ed-lah yang bersalah. Dia mencuri konsepku dan mengaku-ngaku bahwa hubungan kami telah membaik. Padahal, Ibu tahu sendiri bagaimana

