bc

TENTANG HUJAN YANG KAMU CERITAKAN

book_age16+
20
IKUTI
1K
BACA
HE
love after marriage
drama
sweet
lighthearted
city
childhood crush
photographer
like
intro-logo
Uraian

“Dia mencintai hujan. Aku membencinya. Tapi di antara rintik yang jatuh, kami saling belajar mencintai hidup… dan satu sama lain.”.

Bagi Takumi, dunia tak lagi berwarna sejak kecelakaan itu merenggut segalanya, rasa percaya, bahkan kemampuannya melihat warna. Ia hidup dalam bayang-bayang trauma dan diam yang tak pernah benar-benar tenang. Namun segalanya mulai berubah ketika ia bertemu dengan gadis aneh yang mencintai hujan… dan hanya muncul ketika langit menangis.Gadis itu tak menceritakan tentang dirinya.

Tapi dari cara ia bicara tentang hujan—dari suara rintiknya hingga aroma tanah basah—Takumi merasa seolah ia sedang mendengar kembali melodi yang pernah hilang dari hidupnya. Setiap pertemuan mereka di bawah langit kelabu membawa warna-warna baru yang perlahan menghapus kelam di dalam dirinya.Namun, semakin sering mereka bertemu, semakin jelas bahwa gadis itu menyimpan rahasia yang tak bisa diungkapkan sembarangan, tentang waktu yang terbatas, dan tentang alasan ia mencintai hujan lebih dari siapa pun.

Apa yang sebenarnya dibisikkan hujan kepada mereka?Dan apakah cinta bisa benar-benar menyembuhkan... bahkan jika waktu tak berpihak?Sebuah kisah menyentuh tentang kehilangan, harapan, dan dua jiwa yang menemukan kembali makna hidup melalui rintik-rintik yang tak pernah sama.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: "Dunia Tanpa Warna"
Pagi itu, Takumi Sato membuka mata pada dunia yang sama—hitam, putih, dan abu-abu. Dua tahun sudah berlalu sejak warna-warna terakhir meninggalkan hidupnya, namun setiap bangun tidur masih terasa seperti kehilangan yang segar. Apartemen minimalisnya di Shibuya merefleksikan kondisi jiwanya: steril, kosong, tanpa kehangatan yang dulu pernah memenuhi ruang-ruang hidupnya. Cahaya matahari pagi menyusup melalui tirai putih, menciptakan gradasi abu-abu di lantai kayu yang dipoles mengkilap. Takumi duduk di tepi tempat tidur queen size yang terlalu besar untuk satu orang, menatap tangannya yang pucat—atau setidaknya begitulah yang ia bayangkan. Ingatan tentang warna kulitnya yang kecokelatan, hasil dari bertahun-tahun berburu cahaya matahari untuk karya fotografinya, kini hanya tersimpan dalam memori yang semakin kabur seiring waktu. Dulu, tangan ini bisa menangkap keajaiban dunia dalam warna-warni yang memukau mata. Apartemen seharga 200 juta yen ini dulunya adalah surga kecilnya. Dinding-dinding yang kini terlihat putih polos dulu dipenuhi karya fotografinya—landscape yang vibrant, portrait yang hangat, street photography yang penuh kehidupan. Sekarang, dinding-dinding itu kosong, hanya menyisakan bekas-bekas paku dan lubang kecil yang mengingatkan pada masa lalu yang lebih bahagia. Kamera Nikon D850 kesayangannya tergeletak di meja kerja yang terbuat dari kayu oak solid, tertutup debu tipis seperti artefak museum yang dilupakan. Di sampingnya, deretan lensa mahal—85mm f/1.4, 24-70mm f/2.8, 70-200mm f/2.8—semua peralatan yang dulu menjadi perpanjangan dari mata dan jiwanya. Takumi mengamatinya dengan tatapan kosong, seperti menatap mayat dari dirinya yang dulu. Tidak ada lagi alasan untuk menyentuhnya. Bagaimana mungkin seorang fotografer landscape yang dulu terkenal dengan kemampuannya menangkap nuansa warna langit senja, gradasi biru laut, dan kehangatan golden hour bisa berkarya dalam dunia monokrom yang dingin ini? Ritual pagi dimulai dengan kopi hitam yang pahit—ia sudah lupa bagaimana rasanya kopi dengan gula aren yang dulu ia sukai karena warnanya yang kecokelatan. Di dapur yang serba putih dan stainless steel, ia membuat sarapan sederhana: roti tawar dengan selai yang tidak bisa ia bedakan rasanya karena semua terlihat sama dalam mata yang buta warna. Suara dering ponsel memecah keheningan yang menindas. Nama "Kenji Nakamura" berkedip di layar dengan font yang kontras. Sahabatnya sejak kuliah di Tokyo University of the Arts, sekaligus editor senior di majalah fotografi ternama "Shutter Japan" tempat karya-karyanya dulu sering memenuhi halaman cover. "Takumi, aku punya assignment yang sempurnya untukmu," suara Kenji terdengar antusias di ujung telepon, seperti biasa tidak mengenal kata menyerah. "Tidak." Jawaban Takumi keluar tanpa pikir panjang, refleks seperti antibodi yang menolak virus. "Kau bahkan belum mendengar detailnya—ini tentang serial dokumenter landscape Tokyo yang sedang berubah. Publisher siap membayar 50 juta yen untuk proyek ini." "Aku bilang tidak, Kenji." Takumi beranjak ke ruang tamu, langkah kakinya bergema di lantai parket yang kosong. Hening sejenak. Takumi bisa membayangkan ekspresi frustrasi di wajah sahabatnya yang keras kepala—alis tebal yang bertaut, bibir yang mengerucut, gesture yang sama sejak mereka berusia dua puluh tahun. "Dengar, ini sudah dua tahun. Kau tidak bisa terus-menerus mengurung diri seperti ini. Bank account-mu juga tidak akan bertahan selamanya." "Aku bisa dan aku akan." Takumi membuka kulkas besar yang hampir kosong—hanya berisi air mineral Evian, beberapa kotak bento convenience store yang sudah hampir expired, dan vitamin yang tidak pernah ia minum. "Assignment ini tentang hujan musim spring yang akan dimulai minggu depan. Editorial spread untuk edisi April. Bayangkan—cherry blossom yang basah hujan, refleksi lampu neon di genangan air, potret romantis Tokyo yang—" "TIDAK!" Kali ini suara Takumi menggema di apartemen kosong, lebih keras, lebih final, lebih putus asa. Kata 'hujan' saja sudah cukup untuk membuatnya merasa sesak napas, seperti tenggelam dalam trauma yang tidak pernah kering. "Kau tahu aku tidak bisa. Jangan pernah menyebut kata itu lagi." Keheningan yang lebih panjang kali ini. Kenji menghela napas perlahan—napas orang yang sudah kehabisan ide untuk membantu sahabatnya yang tenggelam. "Baik. Tapi Takumi... kau tidak bisa lari dari hujan selamanya. Tokyo tidak akan menghentikan hujannya hanya untuk traumamu. Dan... Mio meneleponku kemarin." Nama adik perempuannya membuat jantung Takumi berdegup tidak teratur. "Apa yang dia bilang?" "Dia khawatir. Kau tidak pernah membalas pesannya, tidak pernah pulang ke Kyoto untuk mengunjunginya. Dia bilang seperti kakaknya sudah mati." Percakapan berakhir dengan nada yang pahit. Takumi melempar ponsel ke sofa kulit hitam mahal yang jarang ia gunakan. Mio—adik satu-satunya yang masih peduli padanya, yang masih mengirim foto-foto kehidupannya sebagai guru TK di Kyoto. Foto-foto yang tidak bisa ia nikmati karena semua terlihat sama dalam matanya yang rusak. Sore harinya, dalam keputusasaan yang sudah mencapai puncak, Takumi melakukan sesuatu yang sudah lama ia tunda. Dengan langkah berat, ia membuka lemari penyimpanan khusus di sudut apartemen—ruang kedap udara tempat ia menyimpan semua hasil karya fotografinya selama sepuluh tahun berkarir. Ratusan foto berukuran 50x70 cm, hasil cetakan terbaik dengan kertas fine art paper yang mahal, dibingkai dengan frame museum quality. Setiap foto adalah saksi bisu dari perjalanan hidupnya sebagai fotografer yang pernah disebut majalah Time sebagai "The Rising Star of Asian Photography." Tangannya bergetar saat menyentuh foto pertama—pemandangan Gunung Fuji saat matahari terbit, diambil dari danau Kawaguchi pada musim gugur tiga tahun lalu. Langit yang dulu berwarna jingga keemasan yang memukau, awan yang berlapis-lapis dalam gradasi pink dan purple, refleksi gunung yang sempurna di permukaan air yang tenang. Kini, dalam matanya yang buta warna, foto masterpiece itu tidak berbeda dengan foto hitam-putih biasa. Namun ingatannya masih bisa merasakan kehangatan warna-warna itu, masih bisa mengingat bagaimana rasanya ketika ia menekan shutter pada moment yang perfect, ketika alam semesta seolah berkonspirasi untuk menciptakan keajaiban. Satu per satu, ia mengeluarkan semua foto dengan gerakan yang semakin tidak terkendali. Sakura merah muda di Kyoto yang difoto dengan teknik macro, setiap kelopak terlihat seperti sutra yang halus. Laut biru Okinawa dengan gradasi turquoise yang hypnotic. Dedaunan musim gugur berwarna merah menyala di Nikko, seperti api yang membeku dalam waktu. Lavender field di Hokkaido yang purple dan dreamy. Semua keajaiban warna yang pernah ia abadikan, semua jiwa yang pernah ia tuangkan dalam setiap frame, kini hanya terlihat seperti dokumen medis—dingin, tanpa emosi, tanpa kehidupan. "Untuk apa menyimpan keindahan yang tidak bisa kulihat lagi?" Suaranya serak, berbisik pada apartemen yang kosong. Dengan gerakan yang tiba-tiba, didorong oleh amarah dan frustrasi yang sudah tertahan selama dua tahun, ia mulai merobek foto-foto itu. Yang pertama—potret sunset di Enoshima yang pernah memenangkan World Press Photo Award. SRET! Suara kertas fine art yang mahal sobek memenuhi apartemen yang sunyi. Satu, dua, sepuluh, dua puluh. Tangannya bergerak seperti mesin perusak, menghancurkan bertahun-tahun kerja keras dan dedikasi. Air mata mulai menetes—tidak ia sadari kapan tangisnya dimulai. Setiap sobekan kertas seperti merobek jantungnya sendiri, tapi ia tidak bisa berhenti. Foto landscape Bromo yang diambil dari helikopter—SRET! Potret geisha di Kyoto yang membutuhkan izin khusus selama enam bulan—SRET! Street photography di Shibuya crossing yang iconic—SRET! Setiap karya yang pernah membuatnya bangga, setiap achievement yang pernah membuatnya merasa hidup, hancur dalam amarah yang destruktif. Tetangganya di sebelah mungkin mendengar suara tangisan dan teriakan yang menyayat hati, tapi Takumi tidak peduli. Ia sudah tidak peduli dengan apapun selain kekosongan yang menggerogoti jiwanya dari dalam. Foto terakhir yang ia pegang dengan tangan yang gemetar adalah potret dirinya sendiri di cermin, yang diambil Kenji tiga tahun lalu di solo exhibition pertamanya di galeri seni ternama di Ginza. Takumi muda berusia 25 tahun dengan mata yang berbinar penuh harapan, tersenyum lebar sambil berdiri di antara 30 karya terbaiknya yang dipajang. Hidupnya dulu penuh warna, penuh harapan, penuh mimpi yang terasa bisa diraih. Pria dalam foto itu terasa seperti orang asing—seseorang yang ia kenal dulu tapi sudah mati dua tahun lalu dalam kecelakaan yang menghancurkan segalanya. Ia menatap foto terakhir itu dalam waktu yang terasa seperti eternitas, air mata menetes di atas kaca frame, sebelum akhirnya meletakkannya kembali ke dalam kotak dengan hati-hati. Satu-satunya foto yang tidak ia robek malam itu—bukan karena tidak ingin, tapi karena sudah tidak memiliki kekuatan untuk menghancurkan sisa terakhir dari identitasnya. Di luar, hujan mulai memercik pelan di kaca jendela besar yang menghadap skyline Shibuya. Suara yang familiar, suara yang selalu membuatnya panik. Takumi berlari ke kamar mandi, mengunci pintu, menutup telinga dengan handuk tebal, berharap suara hujan akan hilang dari dunianya. Tapi dalam kegelapan kamar mandi yang dingin, ingatannya justru terbawa kembali ke malam itu—malam 15 Maret 2023, ketika ia pulang dari shoot di Kamakura, ketika hujan turun dengan deras, ketika mobilnya BMW yang ia cintai tergelincir di jalan yang licin, ketika dunia terbalik dalam slow motion, ketika benturan keras di kepala mengubah segalanya selamanya. Hujan. Selalu hujan yang merenggut segalanya. Hujan yang mencuri warna dari hidupku. Ia tertidur di lantai kamar mandi yang dingin, dengan genangan air mata yang mengering di pipinya dan serpihan ratusan foto yang berserakan di ruang tamu—bukti fisik dari dunia berwarna yang telah hilang selamanya, dan bukti dari keputusasaan seorang pria yang sudah kehilangan alasan untuk hidup.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.6K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
3.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.2K
bc

TERNODA

read
201.5K
bc

Kali kedua

read
221.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook