bc

Istri Berandal Dokter Seksi

book_age18+
6
IKUTI
1K
BACA
HE
age gap
arranged marriage
heir/heiress
bxg
kicking
bold
brilliant
genius
city
like
intro-logo
Uraian

"Apa yang Lo harepin dari pernikahan ini? Malam pertama? Nggak usah ngimpi! Sampai kapanpun itu nggak akan pernah terjadi. Asal Lo tau, gue nggak cinta sama Lo! " -FLORA-"Saya tahu. Mungkin bukan sekarang waktunya. Sekarang kamu belum mencintai saya, tetapi saya yakin, saya bisa membuat kamu jatuh cinta pada saya, Sayangku." -DEWA-"Ih, amit-amit! Pede banget Lo!" -FLORA-###Flora berteman akrab dengan dunia bebas. Hal itu membuat kedua orang tuanya cemas. Mereka lantas menjodohkan gadis itu dengan seorang dokter, anak dari sahabat mereka. Lelaki itu bernama Dewa. Secara kebetulan, Dewa memiliki perasaan terhadap Flora, dan dia bertekad untuk meluluhkan hati gadis brandal itu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Setelah Pernikahan
Acara resepsi pernikahanku baru saja selesai. Bersamaan dengan itu, aku langsung dibawa ke rumah suamiku. Rasanya penat sekali setelah menghabiskan banyak waktu duduk di pelaminan menyambut tamu-tamu yang datang. Aku langsung berganti pakaian, dan berniat untuk keluar rumah. Menemui teman-temanku yang sudah stand by di arena balapan. Kalian pasti heran, bukan? Mengapa aku justru langsung pergi setelah resepsi selesai? Ya, karena ini bukan pernikahan yang aku inginkan. Kebiasaanku yang selalu menghabiskan waktu di luar rumah membuat ayah dan ibuku memutuskan untuk menjodohkan aku dengan anak dari sahabatnya yang seorang dokter, namanya Dewa. Aku juga heran, kenapa lelaki sesempurna Dewa mau menikah denganku. Dia tampan, mapan, berwibawa, dan juga seksi. Walaupun begitu aku tidak merasa "wah" karena berhasil menikah dengannya. Buktinya sekarang, aku memilih berkumpul dengan teman-temanku dibandingkan harus menghabiskan malam pertama dengan lelaki itu. Malam ini aku memakai kostum yang biasa aku gunakan saat menghadiri balapan. Celana, baju, jaket, serba hitam. Tidak lupa dengan sepatu, dan sarung tangan dengan warna senada. Rambutku yang tidak begitu panjang aku biarkan tergerai. Aku berjalan mengendap-endap ke arah luar, berharap suamiku tidak mengetahui gerak-gerikku. Aku yakin, dia pasti akan protes dengan apa yang aku lakukan. Memang haknya, sih. Tetap saja aku tidak suka dia membatasi kebebasanku. Sayangnya perhitunganku salah. Lelaki yang lebih tua dariku itu ternyata sedang duduk di ruang tamu. Dia masih menggunakan jas lengkap. Mendengar langkahku, dia langsung menatapku dengan tatapan mengintrogasi. "Mau ke mana, Flo?" tanyanya dengan nada ingin tahu. Kenapa dia ingin tahu? Kemana aku ingin pergi, itu terserah aku, bukan? Apa karena dia berstatus suamiku, jadi dia ingin mengetahui semua yang aku lakukan? Menyebalkan! "Gue mau ke mana itu urusan gue. Lo nggak usah banyak nanya, deh!" jawabku ketus. Aku ingin menunjukkan padanya kalau dia tidak bisa mengaturku seenaknya. Memangnya dia siapa? Suami? Ya, dia suamiku, tetapi dia tetap tidak boleh mengaturku seenaknya. "Saya suami kamu, apa kamu lupa?" tanyanya. Ya mana mungkin aku lupa, baru beberapa jam kami mengucapkan janji pernikahan. Hal yang sepertinya akan aku sesali seumur hidup. "Gue inget Lo suami gue, terus kenapa? Jangan coba-coba atur gue, gue nggak suka." "Saya cuma nanya, kamu mau ke mana? Tinggal jawab saja apa susahnya, sih?" Astaga! Ini manusia satu super bawel. Rasanya aku ingin menyumpal mulutnya dengan roti supaya diam. Dia tidak ada bedanya sama ayah. Selalu saja ingin tahu ke mana aku pergi. "Gue mau ke acara balapan, nonton temen gue." Aku menjawab pertanyaannya masih dengan ketus. Buat apa bermanis-manis dengan dia, toh aku juga tidak menganggapnya suamiku. "Pulang jam berapa?" "Lo mau tau banget gue pulang jam berapa? Nggak perlu nungguin gue pulang. Ntar kalo Lo udah tidur, gue bisa numpang tidur di rumah temen." "Tidak bisa. Kamu harus pulang sebelum jam sebelas, Flo. Kamu lupa, kita baru saja menikah?" "Ya terus kenapa? Lo mau gue sama Lo malam pertama, gitu? Please, nggak usah ngimpi! Gue ogah ngelakuin itu sama Lo!" Membayangkannya saja aku belum pernah. Setidaknya, aku bisa melewati malam pengantin dengan seseorang yang aku sukai, tetapi ini masalahnya aku menikah dengannya karena perjodohan. Membayangkan berada dalam satu ranjang tanpa busana dengan orang asing itu membuatku geli. "Bukan untuk itu. Saya hanya mau kamu menurut dengan perintah saya. Pokoknya sebelum jam sebelas, kamu harus sudah sampai di rumah. Saya tidak mau mendengar alasan apapun." "Gila! Acaranya jam segitu lagi seru-serunya. Masa iya gue pulang di tengah-tengah acara. Nggak asik banget deh!" Aku mencoba protes. Biasanya setelah acara balapan kami akan mengadakan pesta kecil-kecilan. Bagaimana mungkin aku pulang di waktu yang tidak tepat? Pokoknya aku harus bisa mendapatkan izin dari dia. Tidak diizinkan pun aku akan tetap nekat. "Sebelum jam sebelas, atau kamu tidak saya izinkan pergi?!" Dewa membentakku. Aura dominannya keluar. Padahal aku sudah berusaha untuk mengeluarkan semua keberanianku, tetapi melihatnya seperti ini membuat nyaliku ciut juga. Oke, aku punya ide. Sepertinya sekarang aku lebih baik mengiyakan permintaannya, daripada harus berdebat. Nanti aku malah terlambat hadir ke acara itu. "Oke, oke. Gue pulang jam setengah sebelas." Aku menunjukkan wajah pasrah. Supaya dia yakin kalau aku serius dengan ucapanku. Bahaya kalau sampai Dewa mengadu ke ayahku. Beliau bisa marah besar. "Bagus. Jangan matikan ponsel kamu. Pastikan kamu menjawab saat saya melakukan panggilan." Buset! Ternyata menikah sama Dewa malah seperti bunuh diri. Padahal aku pikir dia tidak akan seketat ayah. Sekali lagi pemikiranku tentang dia salah. "Iya, iya. Bawel!" Aku menyahut seraya melangkah ke arah pintu keluar. Segera aku ke garasi untuk mengambil motor kesayanganku. Motorku memang sudah ada di sini, karena ini kesepakatanku dengan ayah. Aku mau menikah dengan Dewa, asalkan motorku juga ikut dibawa ke rumahnya. Ngomong-ngomong soal rumah, Dewa membeli rumah ini dengan hasil keringatnya sendiri. Aku tidak tahu pasti bagaimana dia bisa sekaya ini di usianya yang sekarang. Karena kami memang belum ada pendekatan. Perkenalan kami cukup singkat, dan langsung dinikahkan. Intinya aku belum tahu banyak tentang dia. Soal visual, jangan tanyakan lagi. Dia lelaki yang tampan, dengan tubuh atletis. Dari luar jasnya saja sudah kelihatan kalau Dewa memiliki tubuh yang seksi. Aku bahkan sempat melihat beberapa pasang mata terpana ke arahnya. Begitu juga denganku, aku juga mengagumi dia secara fisik. Hanya saja untuk saat ini aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Aku langsung meluncur, keluar dari area rumah Dewa. Malam ini, aku ingin menikmati kebersamaan bersama teman-temanku. Setelah beberapa hari aku terpaksa harus diam di rumah mempersiapkan pernikahan. Seandainya saja pernikahan ini terjadi dengan orang yang aku cintai, pasti suasananya akan berbeda. Sayang sekali, aku tidak bisa memilih dengan siapa aku menikah. Bagaimana akhir pernikahanku dengan Dewa, aku juga tidak tahu. Bisa jadi suatu saat aku bisa mencintainya, atau justru sebaliknya. Aku tidak terlalu peduli soal itu. Kalian mau tahu kenapa aku mau menikah dengan Dewa? Ini semua karena penyakit ayah. Aku baru tahu kalau ayah memiliki penyakit jantung yang kronis, dan dokter bilang ayahku tidak boleh terlalu banyak pikiran. Walaupun aku berandalan, aku tetap tidak mau kehilangan ayah. Makanya aku bersedia menikah dengan Dewa. Aku sudah berusaha untuk menggagalkan rencana perjodohan kami dengan mengajak Dewa bekerjasama, tetapi dia malah memintaku untuk mengikuti saran orang tua kami. Dengan kata lain, Dewa sama sekali tidak keberatan menikah denganku. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, lelaki sesempurna dia tidak seharusnya menikah denganku. Sungguh aneh, bukan?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook