Tephie sedikit risih karena banyak mata yang memperhatikannya. Klien Ardi memang mayoritas Pria sehingga saat ini Tephie benar menjadi pusat perhatian sama seperti yang dipikirkan Ardi.
Sebuah lengan kokoh menggamit pinggang Tephie, sedikit kaget namun Tephie langsung menormalkan ekspresinya.
"Pak Ardi, saya kan asisten Bapak, masa deket begini berdirinya" bisik Tephie dengan wajah polos,
Ardi mendekatkan mulutnya ke telinga Tephie, "boleh jauh, tapi.. kamu mau jadi santapan tuh singa-singa lapar?" Ardi balik berbisik, Tephie merinding melihat 'singa lapar' yang Ardi maksud. Tephie menggeleng pelan dan patuh berdiri didekat Ardi dengan rangkulan Ardi dipinggangnya yang masih belum lepas.
Berada sangat dekat dengan Ardi membuat Tephie grogi, sangat jelas tercium olehnya parfum milik Ardi yang membuatnya semakin gugup. Tephie akui Ardi memiliki aura memikat yang kuat, ia yakin diluar sana banyak wanita yang mengantri untuk berada diposisi Tephie saat ini, disamping Ardi dengan jarak yang sangat dekat.
"Malam Tuan Conner" sapa seorang wanita yang menurut Tephie dandanannya mirip tante-tante, penampilannya sangat s*****l, bisa diterka kalau wanita ini ingin menggoda Ardi.
'Baru dipikirin udah datang wanita-wanitanya' Batin Tephie.
Ardi hanya melirik sekilas pada wanita itu lalu kembali menikmati jus ditangannya yang tidak merangkul Tephie. Wanita itu melirik sinis pada Tephie yang terlihat sangat dekat dengan Ardi.
"Lo asistennya Pak Ardi kan?" tanya wanita itu dengan nada sinis,
Tephie mengangguk bingung, dan Ardi masih cuek.
"Lo pelet apa Pak Ardi sampai nempel gitu sama lo?" sindir wanita itu yang membuat Tephie bingung. Tephie melihat Ardi dan wanita itu bergantian,
"Pelet apaan mbak?" tanya Tephie polos,
"Alah ngga usah belaga lugu lo, gue tau lo udah pelet Pak Ardi makanya dia mau deket sama lo yang cuma asisten gini" wanita itu semakin sinis,
Tephie kesal namun mencoba bersabar karena akan bahaya baginya jika ribut disini, bisa jadi akan dapat nilai E di mata kuliah Ardi.
"Kenapa lo diem??! takut udah ketahuan?" nada suara wanita itu semakin meninggi membuatnya menjadi pusat perhatian para klien yang hadir, Tephie kesal bercampur malu karena ulah wanita itu, tanpa wanita itu sadari Ardi mulai terusik dengan sikapnya.
"Maaf nona yang terhormat, apa anda tidak malu menjadi pusat keributan disini?" akhirnya Ardi membuka suara dengan nada dinginnya, wanita itu diam, "tolong jangan ikut campur urusan saya dan asisten saya, bukan urusan anda"
Ardi membawa Tephie pergi meninggalkan wanita itu yang sudah menampilkan ekspresi kesal bercampur malu.
"Ku pikir kamu akan menyerangnya seperti menyerang mahasiswa waktu itu"
"Ya dan tidak lulus dimata kuliah Bapak?" sahut Tephie sebal, Ardi tersenyum miring. Keduanya berjalan bersisian keluar dari ruang pesta menuju ke kamar mereka karena malam sudah semakin larut dan Tephie serta Ardi tentunya sudah ingin beristirahat.
....................
Keesokan paginya Tephie tak terlihat di kamar hotel, tempat tidurnya juga sudah sangat rapi, Ardi langsung menghubungi ponsel Tephie untuk menanyakan keberadaan asistennya tersebut.
"Di mana kamu?" tanya Ardi begitu Tephie menjawab panggilan darinya,
"Di pantai Pak, ada apa Pak? apa ada urusan penting?"
"Tidak, semua sudah beres, tunggulah-"
tuuut tuuuutt..
Tephie menatap layar ponselnya dengan wajah bingung, "tunggu apaan?" gumamnya, dimasukannya kembali ponselnya ke dalam saku dan lanjut berjalan menyusuri pantai yang cukup ramai.
Tiba-tiba sebuah benda dingin menyentuh pipi Tephie, sempat kaget saat tahu siapa yang melakukannya,
"Pak Ardi? bikin kaget aja" Tephie mengelus dadanya, Ardi memberikan ice cream cone yang masih terbungkus rapi pada Tephie dan diterima dengan senang,
"Ada apa Pak?" tanya Tephie sambil menikmati es krim pemberian Ardi. Ardi menatap Tephie sekilas lalu mengalihkan pandangan pada manusia-manusia yang asik bermain di pantai.
"Ngga apa, hanya ingin jalan-jalan, toh sore ini kita sudah akan pulang" jelas Ardi, Tephie mengangguk paham lalu lanjut berjalan menyusuri pantai diikuti Ardi.
Sorenya Ardi dan Tephie sudah dalam pesawat untuk terbang kembali ke Jakarta karena urusannya di Bali sudah selesai.
"Kerjamu bagus juga, bagaimana kalau kamu menjadi asisten tetap saya? tenang saja tidak akan secara gratis dan tidak ada hubungannya dengan kuliah" tawar Ardi begitu Tephie akan masuk ke apartemennya.
"Tapi kan saya masih harus fokus kuliah dulu Pak?" Tephie sedikit ragu dengan tawaran Ardi, meski baginya cukup bagus menambah tabungannya.
"Kamu bisa pertimbangkan dulu" Ardi segera berlalu menuju kamar apartemennya tanpa menunggu respon dari Tephie.
.................
"Elah Phie kalau menurut gue sih tuh tawaran rektor bagus banget, kapan lagi lo dapat penghasilan sendiri coba?" ujar Lea yang sedang main di apartemen Tephie malamnya, setelah Tephie menceritakan tawaran Ardi padanya.
"Gitu ya Le? jadi gue bilang ke Pak Ardi kalau gue terima gitu tawaran dia?" tanya Tephie,
Lea mengangguk sekilas, "tepat sekali"
Tephie berpikir sejenak lalu kembali menatap sahabatnya, "oke deh nanti gue bilang".
"Asik lah ya tidur sekamar dengan rektor ganteng, gue yakin deh kalau cewe-cewe kampus tahu bisa heboh gila" Lea terkekeh setelah menggoda Tephie,
"Kalau lo ngga bocorin ngga akan tahu Leot!" sewot Tephie, Lea hanya cengengesan ngga jelas,
"Emang lo ngga ada rasa apa gitu sama Pak Ardi Phie? secara dia sering nolong lo waktu diganggu kak Dimas, trus kalian selama 2 malam berada diruangan yang sama" tanya Lea penasaran, Lea memang rajanya kepo kalau udah berhubungan dengan Tephie atau cowo keren.
"Kepo lo" Tephie menoyor lengan Lea, "gue tau diri juga kali Pak Ardi siapa gue siapa"
"Hello Stephanie, lo itu juga nantinya bakal jadi pengusaha besar dari perusahaan bokap lo, sama aja kan dengan Pak Ardi?"
Tephie menggeleng, "gue ngga tertarik, mungkin Edo nantinya yang akan handle"
Tephie memang ngga berniat meneruskan perusahaan Papanya, Alan tahu itu dan tidak memaksa, Edo lah yang akan menggantikan Tephie jika sudah siap nanti walau nantinya sementara waktu Tephie akan memegang sampai adiknya, Edo, benar-benar sudah siap.
"Jadi lo mau pegang apaan ntar Phie?"
"Pegang tangan suami gue nanti Le" Tephie terkekeh, sedangkan Lea manyun menanggapi kelakaran Tephie. Lea yakin ada hal yang ingin Tephie kerjakan nantinya karena ia tahu bagaimana sahabatnya ini.
"Ya udah tidur gih, besok ada jam kuliah pagi kita" titah Lea seperti ibu-ibu, Tephie menurut karena tidak ingin jiwa emak-emak Lea keluar jika dibantah nantinya, bisa bahaya soalnya kalau jiwa ke-emak-an Lea keluar, kadang Tephie berpikir Lea sudah cocok menjadi seorang Ibu, Ibu tiri maksudnya, soalnya kalau udah serius galaknya muncul.
"Siap Mak" Tephie langsung masuk ke dalam selimutnya dan tak butuh waktu lama untuk terlelap ke alam mimpi, Lea pun menyusul Tephie untuk tidur dan terbang ke alam mimpi.
***