Dungeon

1563 Kata
Gelap, lembab dan juga sepi. Semua itulah yang aku rasakan begitu masuk ke dalam sini, cahaya yang ada hanya berasal dari tumbuhan aneh yang menempel di dinding gua dan hanya mengeluarkan cahaya yang tak begitu terang. “Apa ini memang di dalam Dungeon? Tapi kenapa tidak ada apa-apa disini?” ucap ku kebingungan. Dari beberapa komik yang aku baca saat masih sekolah, seharusnya di dalam Dungeon terdapat monster-monster yang menempatinya. Namun mengapa hanya aku seorang di sini dan tak ada satupun monster yang aku lihat. Aku pun memutuskan untuk berjalan masuk lebih dalam ke Dungeon ini untuk menemukan makhluk yang menempatinya, dengan penuh hati-hati dan waspada penuh agar siap dalam setiap kemungkinan yang akan terjadi. Setelah beberapa menit melangkah, aku mulai mendengar suara-suara kecil. Kritt... Kriiit... Kriiitt.... Suara-suara ini berasal tepat dari depan ku berdiri namun karena keadaan gua yang gelap aku menjadi tak tau makhluk apa yang membuat suara tersebut, keringat ku mulai berjatuhan dan kaki ku mulai gemetar karena merasa ketakutan. Dengan semua keadaan ini aku memberanikan diri untuk berjalan maju sembari memegangi pedang ku dengan gemetaran. Tiba-tiba dari dalam kegelapan muncul cahaya merah yang berbentuk mata kecil dengan jumlah yang amat sangat banyak, mata itu menatap tajam ke arah ku yang mana membuat ku semakin ketakutan. Aku menghentikan langkah ku kemudian menggantinya dengan langkah mundur perlahan agar tak membuat gerakan tiba-tiba. Dalam langkah ku tiba-tiba aku teringat dengan alasan ku kesini, jika aku ketakutan dengan makhluk-makhluk ini maka bagaimana aku bisa bertahan jika nanti aku masuk ke dalam dunia yang Game master buat. Aku menghentikan langkah ku kemudian mengambil sebuah kerikil dan dengan sekuat tenaga melemparkannya ke arah kata-kata itu berada. “Haa!!” Kriit... Kritt... Krit.... Suara-suara itu mulai terdengar semakin keras dan juga di ikuti dengan berhamburnya kelelawar yang berwarna merah dari depan ku, aku mencoba berlindung agar tak terkena tabrakan dari kelelawar-kelelawar ini namun yang membuat ku kesulitan bukanlah jumlah mereka yang banyak ataupun tubuh mereka yang dua kali lebih besar daripada kelelawar biasanya. Melainkan adalah suara yang mereka buat, suara yang begitu nyaring sehingga membuat telinga ku kesakitan. “Argghhhhh!” “Bagaimana bisa mereka mengeluarkan suara sekeras ini!?” ucap ku berusaha menutup erat kedua telinga ku. Mungkin jumlahnya yang amat banyak adalah alasannya namun aku tak peduli itu, untuk saat ini aku berusaha menutup erat kedua telinga ku sembari meringkuk di belakang batu dan berharap agar mereka semua menghilang. Selang beberapa menit, kelelawar-kelelawar itu pun leyap tak tersisa dari sini. “Akhirnya ini berakhir,” ucap ku sembari bernafas lega karena kelelawar-kelelawar itu sudah tak ada. Aku pun kembali berdiri dan memungut pedang ku yang aku jatuhkan saat kelelawar-kelelawar itu berhamburan barusan, namun di saat-saat akan mengambil pedang ku. Suara dentuman yang cukup keras mulai terdengar, suara itu juga berasal dari depan ku saat ini yang mana juga tempat kelelawar-kelelawar barusan. Aku dengan cepat mengambil pedang ku dan bersiap untuk kemunculan makhluk yang mengeluarkan suara barusan. Dum... Dum... Dum.... Suara itu semakin lama terdengar semakin keras mendekat ke arah tempat ku berdiri saat ini, dari dalam kegelapan muncullah seekor kelelawar besar dengan satu sayap dan taring yang mencuat keluar. Kriiiiiiitt.... Kelelawar itu mengeluarkan suara yang begitu menyakitkan bagi telinga ku sehingga aku kembali memegangi keduanya. “Aku rasa ini yang dinamakan dengan Bos mosnter,” pikir ku sembari memegangi kedua telinga ku. Tiba-tiba kelelawar ini bergerak dengan cepat ke arah ku sembari menyambarkan cakarnya ke tubuh ku, aku yang saat itu tengah dalam keadaan tak siap akhirnya terkena serangannya sehingga menyebabkan luka cakaran tepat di d**a ku. “Argggghh!” Rasa sakit dan perih yang tak pernah ku alami sebelumnya mulai terasa dari luka yang ia buat, dengan ini aku sadar bahwa semua yang ada di sini benar adanya. Jika aku mati disini maka tak akan ada kesempatan kedua lagi dalam mengulang kehidupan, seluruh syaraf dalam tubuh ku berteriak agar aku terus maju dan mengalahkan sosok makhluk yang ada di depan ku saat ini. Sadar bahwa kelelawar ini akan kembali menyerang, aku dengan segera mengambil ancang-ancang dan bersiap untuk menyerang baliknya. Aku memperhatikan arah cakaran nya dengan seksama agar bisa menghindar dan memperoleh momentum untuk menyerang balik. Swuusssshh.... Aku berhasil menghindari serangannya dengan cara melompat mundur, di saat ia menyerang aku menyadari bahwa ada titik lemah yang mana mungkin akan sangat mematikan jika aku dapat melancarkan serangan. Dalam setiap serangannya, kelelawar ini pasti merenggangkan tangannya sekuat mungkin yang mana dadanya terbuka lebar. Dengan kata lain disaat ia akan menyerang maka area jantungnya tak terlindungi, titik itulah yang menjadi incaran ku saat ini. Namun masalahnya untuk saat ini adalah kecepatannya yang melebihi diri ku, oleh karena itu aku harus dengan tepat membuat serangan fatal dalam kesempatan yang pas juga. Aku pun bergerak dengan cepat sekuat tenaga ku agar menjadi terkecoh saat berusaha menyerang ku. “Lebih cepat...” “Lebih cepat lagi...!” “Aku tak akan mati di tempat ini!!” Setiap detik saat melawan makhluk ini, kepekaan ku semakin terasa tajam. Aku bisa memahami bagaimana pola ia menyerang dan juga saat ia akan mengeluarkan cahaya yang bising itu, semuanya bisa dipahami dengan jelas oleh ku di saat melawan ya ini. Di saat ia akan mengeluarkan suara yang begitu nyaring maka ia tak akan menggerakkan tubuhnya untuk menyerang, aku menunggu saat-saat itu dan segera menyerangnya balik. “Ini!?” “Sekarang saatnya! Hyaaaaahhhhh!!” Aku menyadari bahwa ia akan membuat suara itu lagi, tepat di saat-saat itu aku langsung berlari secepat mungkin dan menghunuskan pedang ku tepat di jantungnya. “Marilah binatang biadab!!” Aku menanamkan pedang ku sedalam mungkin pada jantungnya dengan harapan agar ia mati dengan cepat, tubuhnya menggelepar berusaha melepaskan pedang ku dari dadanya. Aku berusaha tetap menancapkan pedang ku dan membuatnya tetap di dadanya meskipun cakaran nya mengenai tubuhku saat ia berusaha melepaskan diri. “Matilah! Matilah! Martlah! Matilahhhh!!” “Matilahhhhhhhh!” Emosi ku meluap dan aku memperkuat tekanan dari pedang ku agar menancap semakin dalam, bahkan gagang pedang yang terbuat dari kayu juga remuk dari saking kuatnya ku remas. Beberapa saat kemudian, kelelawar ini berhenti bergerak dan terkapar lemas dengan pedang yang masih menancap di dadanya. “Hahh...hahh...hahh....” “A... Aku berhasil membunuhnya!?” Aku tak percaya bahwa aku berhasil membunuh makhluk di luar nalar manusia, tak memerlukan bantuan orang lain saat membunuhnya. Meskipun tubuh ku penuh dengan luka, meskipun tubuh ku mengeluarkan darah yang begitu banyak, meskipun aku merasa kesakitan dalam sekujur tubuh ku. Semua itu tak terlalu ku pedulikan karena aku cukup puas dengan kemampuan ku sendiri. Sebuah pintu tiba-tiba muncul dari dalam kegelapan yang mana mengeluarkan cahaya yang begitu terang meskipun tak dalam keadaan terbuka, aku berasumsi bahwa itu merupakan pintu keluar dari dalam sini dan akan selalu muncul ketika selesai mengalahkan Bos monster. Aku bersusah payah menyeret kaki ku menuju pintu itu, pandangan ku semakin buram seiring mendekatnya diri ku ke pintu. Aku membuka pintu ini secara perlahan dan di sambut dengan cahaya yang begitu terang dari dalamnya. “Selamat datang Spieler Ye Zhun!” ucap Symvoulos yang berdiri di depan pintu saat ini. Aku bernafas lega karena ini memanglah pintu keluar dari dalam Dungeon, aku berjalan perlahan keluar dengan sisa kekuatan yang ada. Begitu keluar sepenuhnya, kesadaran diri ku tak lagi kuat untuk menopang tubuh ku berdiri, aku langsung pingsan dan jatuh menggelepar di atas lantai ini. Brugghhh.... “Kau harus membayar atas kematian teman-teman ku disini!” “Bukan salah ku mereka mati, salah mereka karena lemah!” “Kalau begitu terimalah kematian mu di tangan ku!” “Hyaaaahh....” Di depan ku saat ini sedang ada dua orang yang tengah bertarung dengan sengit, salah satunya memegang belati di kedua tangannya dan salah satunya memegang pedang panjang. Kekuatan keduanya terlihat seimbang dan tak ada tanda-tanda pertarungan ini akan berakhir dengan cepat, di sekitar mereka terdapat tubuh manusia yang tergeletak serta monster-monster aneh yang tak pernah ku lihat sebelumnya. “Bukan pertama kalinya aku melihat ini!” Benar, aku melihat pemandangan ini berkali-kali saat tertidur ataupun saat tak sadarkan diri. Tanah yang berwarna merah akibat genangan darah dari orang-orang, bangkai manusia dan monster yang tak terhitung jumlahnya, serta langit berwarna merah yang sama sekali tak sedap untuk di pandang. Kedua orang itu tetap bertarung dengan sengit tak memperdulikan keadaan sekitar, yang lebih anehnya lagi adalah kedua senjata yang mereka pakai juga mengeluarkan cahaya. Belati yang ia pegang mengeluarkan cahaya biru yang terlihat sangat menyeramkan sedangkan pedang panjang orang itu mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan mata saat menatapnya. Ctiingg... Tass.... Orang yang memegang belati berhasil menerbangkan pedang milik lawannya dan ia dengan segera melompat ke lawannya dengan menegaskan belati nya ke arah leher dari lawannya, namun orang itu membalikkan serangan darinya dengan tangannya dan mengambil belati miliknya. Pada akhirnya orang yang memegang belati kalah dengan belati miliknya yang menancap di jantungnya saat ini. Pemandangan yang begitu menyedihkan menurutku namun pada saat inilah aku berhasil melihat akhir dari mimpi ini, tiba-tiba kedua orang itu mulai menghilang dan aku merasa seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam diri ku. “Jadi kau yang selanjutnya ya,” Tiba-tiba orang yang memegang belati berdiri di hadapan ku dengan senyuman yang begitu hangat di wajahnya, kedua tangannya masih memegang belati yang bercahaya dan saat ini ia seakan menatap ku. Aku berusaha berbicara dengannya namun suara ku tak bisa keluar dari mulut ku, ia tiba-tiba menarik tangan ku dan memberikan kedua belatinya kepada ku. “Berhati-hatilah dengan pilihan mu nanti,” “Aku harap kau bisa berhasil!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN