Orang itu tiba-tiba menghilang dari pada hadapan ku dan seketika belati yang ia berikan tadi juga ikut sirna, belati itu sirna namun aku dengan jelas melihat bahwa cahaya yang berasal dari belati itu masuk ke dalam tubuh ku secara perlahan. Aku tiba-tiba merasakan panas di sekujur tubuh ku seakan terbakar oleh api biru yang menyala-nyala.
“Aaarghhhh!”
Aku bangun dan berteriak sekuat tenaga sehingga tersentak dari tempat tidur ku saat ini, di hadapan ku saat ini sudah tak ada pemandangan bangkai-bangkai manusia maupun monster melainkan sebuah ruangan kecil yang berisikan beberapa perban serta obat-obatan lainnya. Aku menyadari bahwa yang barusan ku alami itu hanyalah mimpi belaka dan saat ini aku tengah berada di ruangan yang menurut ku adalah tempat dimana orang sakit atau terluka di rawat.
Drap... Drap... Drap... Drap....
Dari luar ruangan terdengar suara langkah kaki orang yang cukup cepat menuju ke arah sini.
Brak....
Pintu tiba-tiba di buka dengan keras dan saat ini tengah berdiri seorang perempuan yang memakai baju layaknya suster di rumah sakit.
“Spieler Ye Zhun! Apa kau tidak apa-apa?”
Suster itu menanyakan keadaan ku dengan suara yang cukup lantang dan nafas yang tersengal-sengal, ku yakini ia berlari dengan cepat kesini begitu mendengar aku berteriak barusan.
“Kau berteriak sangat keras barusan, apa yang membuat mu begitu?”
Karena menurut ku yang ku lihat di dalam mimpi adalah hal yang tak harus ku ceritakan pada orang-orang, maka aku memilih untuk tak menceritakannya pada suster ini.
“Maafkan aku,”
“Aku mengalami mimpi buruk sehingga berteriak sekeras tadi,”
Suster itu menatap ku dengan kebingungan dan akhirnya bernafas lega karena memastikan bahwa tak ada hal buruk yang menimpa ku, ia pun berjalan mendekat ke arah ku untuk memeriksa keadaan ku saat ini.
“Uhm... Mengapa aku berada di sini saat ini?”
“Kau pingsan begitu keluar dari Dungeon tingkat E,”
Ingatan ku saat ini cenderung sama-sama sehingga tak bisa mengingat dengan jelas apa yang sudah menimpa ku sebelumnya, namun untuk saat ini yang membuat ku khawatir dan terkejut bukanlah hal itu. Melainkan adalah penglihatan ku yang terasa sangat aneh, aku merasa bahwa penglihatan ku saat ini bisa menembus apapun yang menghalangi. Tak hanya itu, aku juga merasa bahwa kepekaan ku terhadap sekitar juga meningkat drastis.
“Sepertinya kau sudah baik-baik saja sekarang, beruntungnya kau hanya mengalami luka-luka yang tak cukup parah sehingga kami bisa menyembuhkan mu dengan cepat.”
“Seandainya kau kehilangan anggota tubuh mu saat berada di dalam Dungeon maka aku tak bisa meregenerasi anggota tubuh mu yang hilang itu, setidaknya dengan tingkatan ku sekarang aku tak bisa melakukannya.”
Aku sudah tak terkejut lagi mengenai perkataan dari suster ini mengenai kemampuannya, semua yang ada di sini sudah jauh dari nalar manusia dan untuk saat ini aku sudah bisa beradaptasi dengan benar. Sihir, senjata magis, monster dan lain-lain seperti sudah menjadi makanan sehari-hari di sini.
“Apa aku sudah boleh kembali ke kamar ku?”
“Tentu saja, dan aku ingatkan untuk tidak memasuki Dungeon seorang diri kembali nantinya! Mungkin kau bisa selamat dari sana karena itu adalah Dungeon tingkat rendah namun jika kau berada di Dungeon tingkat tinggi maka bisa ku pastikan dengan kekuatan mu saat ini kau akan mati seketika,”
Ucapan yang sungguh benar, begitu melewati satu Dungeon aku menyadari peran dari anggota party. Dengan adanya party maka perburuan di dalam Dungeon akan berlangsung kondusif dan lebih mudah karena saling menjaga satu sama lain, keputusan untuk masuk ke dalam Dungeon seorang diri untuk kekuatan ku saat ini memanglah keputusan yang bodoh.
“Terima kasih untuk sarannya!”
Aku pun keluar dari ruangan ini dan berjalan menuju kamar ku sendiri, sembari terus memikirkan tentang arti dari mimpi yang aku alami. Di sepanjang jalan aku kerap mendengar bisikan dari orang-orang yang ada di sekitar, entah apa yang membuat mereka mengatakan itu namun yang jelas semua itu mengganggu ku.
“Bukankah dia orang yang menyelesaikan Dungeon tingkat E secara solo?”
“Aku melihatnya penuh luka saat di bawa oleh para Symvoulos ke ruang perawatan,”
“Sungguh gila dan nekat perbuatannya itu!”
Aku tak bisa menyalahkan perkataan dari orang-orang ini karena semua itu benar adanya, bisa ku pahami sendiri bahwasannya tindakan ku salah dan terlalu nekat. Tapi dengan itu aku juga bisa mengetahui kemampuan ku sendiri.
Aku berusaha untuk mengabaikan perkataan dari orang-orang ini dan terus berjalan menuju ruangan ku namun,
“Hawa dingin ini!?”
Tiba-tiba aku merasakan hawa dingin yang begitu menusuk di arah tengkuk ku, aku merasa bahwa ada sesuatu yang berbahaya sedang mencoba menyerang ku dan jika aku tak mengambil tindakan maka bisa jadi nyawa ku adalah taruhannya.
Aku membalikkan tubuh ku dengan cepat dan segera menerkam apa yang saat ini ada di hadapan ku, aku dengan segera berhasil menangkap sebuah tangan kecil yang memegang sesuatu dalam genggamannya. Seorang perempuan yang membawa tongkat kayu di tangannya sedang berusaha menyerang ku dari belakang, perempuan yang sekilas tak asing bagi ku dan merupakan orang yang aku cari beberapa hari ini.
“Apa maksudnya ini Clara?”
Aku menggenggam erat tangan Clara yang saat ini mencoba menyerang ku.
“Hmm... Kau memang melebihi ekspetasi ku Ye Zhun!”
“Tenanglah... Aku hanya mengujimu,” sambung Clara.
Perlahan aku melepaskan tangan Clara karena yakin bahwa ia tak memiliki niat lain selain menguji ku, namun mengapa ia melakukan itu adalah sesuatu yang sama sekali tak ku mengerti.
“Ku lihat keadaan mu cukup parah saat keluar dari dalam Dungeon,”
“Padahal itu hanya tingkat E tapi mengapa kau sampai seperti itu? Monster jenis apa yang kau hadapi di dalam sana?”
Clara menatap tajam ke arah ku sembari menunjukkan senyum sungging di wajahnya.
“Itu kelelawar yang mengeluarkan suara berisik,”
“Telinga ku sampai sekarang masih sedikit sakit karenanya,”
Raut wajah Clara tiba-tiba berubah menjadi serius dan sedikit mengeluarkan keringat, ia secara perlahan berjalan maju dan memegangi kedua bahu ku.
“Jangan bilang kalau bossnya memiliki satu sayap saja?”
“Hmm? Apa kau tau mengenai monster itu?”
“Jika aku tak salah nama monster itu adalah Hypersonic vampire bat, mereka bukanlah monster yang kuat tapi bossbya itu adalah masalah lain.”
Aku mencoba tak menanggapi dengan serius perkataan dari Clara karena ia sering mempermainkan ku, seperti saat ini contohnya. Ia mengatakan dengan serius mengenai boss monster yang ku hadapi namun menurut pendapat pribadi ku sendiri monster itu tak terlalu kuat.
“Berhentilah bercanda, makhluk itu tak sekuat menurut mu!”
“Tidak-tidak! Aku sama sekali tak bercanda. Jika kau menghadapinya dengan party mu maka aku akan percaya bahwa kalian bisa membunuhnya tapi kau melakukan perburuan itu secara solo! Aku tak tau kau itu terlalu kuat atau gila!?”
Tatapan matanya menunjukkan bahwa ia saat ini sedang serius dengan perkataannya, namun semua itu menurut ku tak penting karena semuanya sudah terlewati.
“Cukup sudah bercanda nya, sekarang aku memerlukan bantuan mu!”
“Hahh... Kau ini, apa yang kau inginkan?”
Setelah keluar dari dalam Dungeon aku menyadari apa yang kurang dari diri ku sekarang, aku perlu melatih tubuh ku dengan benar sebelum kembali masuk ke dalam Dungeon serta aku juga harus melatih kecakapan ku dalam menggunakan senjata. Otak memang sangat di perlukan ketika bertarung namun jika hanya mengandalkan satu hal saja maka kemungkinan aku akan menang juga akan semakin tipis, dengan adanya faktor lain yang bisa aku gunakan saat bertarung maka itu juga akan mengangkat kesempatan untukku supaya bisa menguasai pertarungan.
“Aku ingin kau melatih ku!”
Setelah aku mengatakan itu kepada Clara, ia tiba-tiba mengeluarkan senyum penuh makna seakan memang menunggu untuk aku mengatakan hal itu. Entah bagaimana aku bisa mengetahui bahwa ia memiliki niat tersendiri namun bukan hal yang bisa merugikan untuk ku.
“Apa kau serius dengan yang kau katakan? Spieler Ye Zhun?”
“Tentu saja! Waktu ku tak banyak jadi mari kita lakukan secepatnya”
Meskipun nantinya aku memutuskan untuk tak memasuki dunia milik game master, aku yakin bahwa semua yang ku dapatkan di sini juga akan bisa berguna nantinya di kehidupan ku sebelumnya. Aku juga bisa memperbaiki hubungan ku dengan tunangan ku yang telah ku buat kecewa sebelumnya, mungkin kami nantinya bisa mengulang kembali dari awal sehingga menghilangkan rasa kecewa yang sebelumnya ada.
“Baiklah jika begitu keinginan mu! Tapi ingatlah bahwa aku tak akan bersikap lunak pada mu”
“Bahkan jika kau muntah darah atau pun menangis sekeras-kerasnya, aku tak akan peduli dengan hal itu!”
Wajah Clara menunjukkan ekspresi yang mengerikan sehingga membuat bulu kuduk ku berdiri, namun untuk saat ini sikapnya yang seperti inilah yang ku butuhkan. Tak ada sesuatu instan, semuanya harus melalui proses sehingga bisa sempurna.
“Lakukanlah sesuka mu!”
Sejak saat itu aku menerima pelatihan intensif dari Clara, berkat menjalani latihan dari Clara juga aku bisa tahu apa julukan yang di berikan oleh para Symvoulos lainnya pada Clara.
“Jelmaan iblis!”