Pelatihan

1587 Kata
Hah... Hah... Hah....” “Sudah berapa hari terlewati?” Nafas ku memburu tak beraturan begitu Clara memerintahkan ku untuk berhenti sejenak, latihan seperti ini memang terasa berat saat di awalnya namun ketika tubuh ku telah bisa beradaptasi maka sebenarnya ini merupakan olahraga biasa. “Ini masih berjalan satu minggu!” “Satu minggu ini terasa sangat lama karena di latih oleh mu,” Clara mengeluarkan senyumnya yang mengerikan dan menatap tajam ke arah ku. “Bukan aku yang meminta hal itu tapi kau sendiri kan!?” Aku tak bisa membantah perkataannya karena itu memang benar, aku memang meminta bantuan pada Clara agar ia melatih ku untuk menjadi kuat dalam kejaran waktu yang cukup sempit. Program latihannya benar-benar di luar nalar manusia, olahraga yang seharusnya bisa di jalani dengan mudah menjadi sesuatu yang layaknya neraka. PADA SAAT AWAL LATIHAN. “Untuk sekarang kau hanya perlu melatih stamina pada tubuh mu jadi kau tak perlu memikirkan senjata untuk saat ini!” “Hah? Apa maksudmu?” “Diaammm! Jangan pernah bertanya saat aku sedang melatih mu, sekarang larilah di lintasan ini sampai aku menyuruh mu untuk berhenti!” “Dan juga jangan pernah membuka layar status mu sampai aku menyuruhnya nanti!” Sebelumnya ia membawa ku di bawa olehnya ke sebuah stadion Olimpiade yang sangat megah dengan fasilitas yang sangat lengkap, di sini juga ada beberapa orang yang melakukan olahraga ringan atau pun sedang bermain bersama teman-temannya. “Cepat lakukan!” Clara kembali berteriak pada ku karena aku masih terdiam kebingungan akan sikapnya. Akhirnya aku pun berlari di lintasan yang telah di sediakan di sini, pada awalnya semua terasa biasa saja namun karena intruksinya adalah aku tak boleh berhenti sebelum ia menyuruh ku maka sudah hampir sepuluh kali aku memutari lintasan ini. Langkah kaki ku mulai gontai, d**a ku sesak serta nafas ku tak beraturan, pandangan ku semakin waktu semakin buram karena kelelahan berlebih. Akhirnya tubuh ku ambruk namun tak sampai pingsan seperti saat baru keluar dari dalam Dungeon. Brugh.... “Apa aku menyuruh mu berhenti?” “Ti... Tidak! Tapi kaki ku sudah tak kuat untuk ku gerakkan” “Apa boleh buat!” Clara tiba-tiba memukulkan tongkat miliknya dengan keras ke bagian punggung ku. Ctassss.... “Aaarghhh...! Apa yang kau lakukan?” Secara tidak sadar aku langsung melompat bangun dari atas tanah karena merasa kesakitan di bagian punggung, aku pun juga menyadari bahwa kaki ku yang sebelumnya sudah sangat kelelahan mulai kembali pada kondisi normal seakan tak terjadi sesuatu. Tubuh ku juga sudah terasa ringan oembali seperti sebelumnya seakan olahraga yang ku lakukan barusan tak pernah terjadi. “Apa ini ulah mu?” “Benar! Aku akan terus melakukan ini sehingga kau tak perlu istirahat ataupun tidur karena kita berpacu dengan waktu. Aku akan berhenti melakukan ini jika sudah merasa bahwa kau cukup kuat untuk ku biarkan,” Aku tak menyangka bahwa ia memiliki kekuatan seperti ini, sepertinya aku meminta tolong pada orang yang tepat. “Sekarang berganti kepada Push up!” “Siap!” Aku segera mengambil sikap push up dan menunggu aba-aba dari Clara, namun yang tak ku sangka adalah ia tiba-tiba naik ke atas punggung ku dan duduk dengan santai nya di saat aku akan melakukan push up. “Push up lah sampai aku menyuruh mu untuk berhenti!” “Melakukan push up tanpa beban saja sudah sangat kesulitan bagi ku dan sekarang kau malah naik ke punggung ku!” “Aku tak akan mengulang ini! Kau meminta bantuan ku jadi mari lakukan dengan cara ku, jika kau masih mengeluh ke depannya maka aku meninggalkan mu.” Ucapan yang begitu menusuk batin dan memang benar adanya, aku terlalu banyak mengeluh dan terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tak perlu. Pada akhirnya aku pun melakukan semua hal yang ia perintahkan, melakukan push up sampai kedua tangan ku mengeluarkan suara aneh, squad sampai tak sanggup lagi untuk berdiri dengan benar dan banyak lagi. Semakin hari waktu istirahat ku semakin pendek, aku juga sudah mulai terbiasa dengan latihan yang Carla berikan. Satu minggu telah berlalu tanpa terasa, latihan yang pada awalnya sangat berat berubah menjadi sesuatu yang amat sangat biasa layaknya menghirup udara saja. Carla yang sadar dengan hal ini langsung menyuruh ku berhenti melakukan aktivitas ini dan beristirahat sejenak. “Sekarang kita beralih pada latihan selanjutnya!” “Hmm? Kenapa tiba-tiba?” “Semua ini sudah tak ada gunanya jadi mari beralih ke latihan selanjutnya! Ye Zhuun buka layar status mu” Aku pun langsung melakukan apa yang ia minta, aku membuka layar status ku dan cukup terkejut dengan apa yang aku lihat saat ini. “I-Ini!?” “Bagaimana bisa?” Status strength, agility serta vitality ku meningkat jauh daripada sebelumnya. Aku juga mendapatkan beberapa skill baru yang mana di bagi menjadi skill aktif serta skill passive, entah aku harus senang atau sedih akan hal ini karena ada salah satu skill ku yang tak memiliki penjelasan. “Kenapa? Ada yang aneh dengan status mu?” “Iya! Status streng, agility dan vitality ku meningkat daripada sebelumnya. Aku juga mendapatkan beberapa skill baru,” “Itu wajar setelah kau melakukan latihan sebelumnya, untuk sekarang katakan pada ku apa Class mu karena itu juga akan menentukan untuk latihan yang selanjutnya.” Mata ku segera mencari apa yang Clara katakan pada ku, namun status yang menunjukkan class ku hanya dengan satu kata yaitu None. “Uhm... Disini hanya tertulis None,” Clara tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan segera mendekatkan tubuhnya kepada ku. “Kau bercanda!?” “Lihatlah sendiri jika kau tak percaya,” “Layar status hanya bisa di lihat oleh Spieler itu sendiri, yang bisa dilihat oleh orang lain itu namanya adalah layar notifikasi!” “Jadi begitu, tapi di sini memang hanya tertulis None. Memangnya apa itu Class?” “Class adalah suatu pembagian kemampuan pada setiap Spieler yang telah berhasil masuk ke zona ini, dengan adanya class maka akan menentukan bagaimana cara Spieler bertarung di masa depan saat memutuskan masuk ke dunia Game master.” Clara meneruskan penjelasannya kepada ku dengan serius. Pembagian class sendiri adalah Warrior, Tank, Mage, Priest dan yang terakhir adalah Assasin. Setiap Spieler hanya memiliki satu class dan kemampuannya itu hanya bisa di gunakan di dalam dunia Game master. “Aku tak pernah menemukan Spieler yang tak memiliki Class seperti mu! Sekarang aku bingung mau melatih mu seperti apa” Aku kemudian ter pikirkan dengan Skill baru yang ku miliki, Mastery Dagger Aura. Sebuah skill passive yang membuat ku bisa memberikan damage tambahan sebesar 45% saat menggunakan daggers, bahkan skill ini juga menambahkan 20 poin agility serta 15 poin strength saat aku menggunakan dagger. “Bagaimana jika kau melatih ku untuk menggunakan senjata?” “Hah? Kenapa?” “Aku sama sekali tak memiliki pengalaman menggunakan senjata di dalam hidup ku, jika kau mengajari ku itu maka akan sangat berguna saat aku kembali masuk ke dalam dungeon nantinya.” “Apa kau tak tertarik untuk belajar sihir? Aku bisa mengajari mu sihir karena class ku adalah mage” “Aku memang memiliki mana tapi tak berarti aku bisa menggunakan sihir,” Clara membuat wajah cemberut saat aku mengatakan hal itu kepadanya, sepertinya ia sangat ingin mengajari ku sihir karena itu terlihat jelas dari wajahnya. Namun untuk saat ini aku hanya ingin mempelajari caranya menggunakan senjata saja. “Hahh... Baiklah alasan mu masuk akal, ayo ikuti aku!” *** Clara membawa ku ke sebuah tempat yang berisikan beberapa boneka kayu, boneka kayu itu bukanlah boneka biasa karena mereka bisa bergerak serta mengeluarkan sihir. Ada beberapa orang yang sedang berlatih dengan boneka kayu itu menggunakan senjata yang sama. “Ayo pilih senjata yang kau ingin dan segera berdiri di hadapan boneka kayu di sana!” “Mungkin untuk awalnya lebih baik kau menggunakan pedang karena itu mudah untuk di gunakan,” Pemikiran yang sama seperti ku di saat akan masuk ke dalam dungeon untuk yang pertama kali, namun aku sadar bahwa pedang memang tak cocok dengan ku. Entah mengapa mata ku terus menatap pada dagger yang ada di hadapan ku saat ini, dagger itu seakan memanggil ku untuk di gunakan. Tangan ku pun bergerak mengambil dagger itu dan ketika tangan ku menggenggam dagger ini, aku merasa bahwa sudah menjadi satu dengan ku. Tangan ku terasa sudah sangat terbiasa dalam menggunakan dagger ini, aku seperti sudah sangat lama bisa menggunakan dagger ini sehingga aku sudah merasa sangat nyaman dengannya. “Aku memilih ini,” “Kau yakin? Kalau begitu cepat lawan boneka kayu itu!” Aku pun berjalan perlahan pada boneka kayu yang ada di dekat ku, di saat aku berdiri tepat di hadapannya boneka kayu ini pun juga mengeluarkan dagger dari tangannya. Clara yang sepertinya tahu akan hal ini hanya mengeluarkan senyum tanpa berkata apa-apa. Swuusshh.... Tiba-tiba boneka kayu ini mencoba menyerang ku namun berhasil ku hindari, jika saja ia aku tak menghindarinya maka mungkin saja sudah mengenai leher ku. “Kenapa boneka ini tiba-tiba menyerang?” “Apa kau bodoh? Dalam pertarungan asli tak ada yang namanya peraturan” “Yang ada hanyalah kalah dan menang!” Mendengar hal itu, aku pun segera waspada akan setiap serangan yang akan di lancarkan oleh boneka kayu ini. Namun karena ia tak kunjung menyerang maka aku memutuskan untuk menyerangnya terlebih dahulu, tapi boneka kayu ini sepertinya juga ikut menyerang begitu aku bergerak sehingga aku harus menghindarinya dan mengganti alur serangan milik ku. Ctang... Cting.... Dagger kami saling beradu satu sama lain berkali-kali saat mencoba mendaratkan serangan ataupun menangkis serangan masing-masing, aku sama sekali tak bisa memprediksi serangan boneka ini karena cara ia menyerang sama dengan ku. “Ini sama seperti melawan diri ku sendiri!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN