“Sudah berapa lama aku bertarung?”
“Jika begini terus maka aku yang akan di rugikan!”
Boneka kayu ini terus menerus menyerang ku dengan arah dan teknik serangan yang sama dengan ku, mungkin sudah hampir dua puluh menit aku melawannya namun sama sekali tak bisa mendaratkan serangan pada tubuhnya. Aku merasa benar-benar sedang melawan diriku sendiri baik itu dari teknik maupun ketahanan tubuh, mungkin saja jika aku tak melakukan latihan dengan Clara sebelumnya maka saat ini aku sudah merasa kelelahan setengah mati.
Namun seiring berjalannya waktu, aku pun paham mengenai tujuan asli dari latihan ini. Melawan boneka kayu yang memiliki teknik dan kekuatan yang sama dengan sendiri, atau bisa di bilang sedang melawan doppelgangger dari kita sendiri. Dengan kata lain aku hanya perlu melampaui kekuatan ku sendiri saat ini supaya bisa mengalahkan boneka kayu ini.
“Harus lebih cepat, lebih tajam dan lebih dalam lagi!”
“Aku akan mengalahkan diriku sendiri kali ini!!”
Seluruh tubuh ku terasa tiba-tiba terasa sangat ringan, aku bisa merasakan dengan jelas bahwa aku bisa bergerak lebih cepat daripada sekarang. Aku menghentakkan kakiku dengan keras ke atas lantai dan memotong jarak antara aku dengan boneka kayu dalam sekejap mata, dalam hitungan detik aku mendaratkan belasan sayatan tajam dari dagger ku kepada boneka kayu ini. Tak ada perlawanan dari boneka kayu di saat aku mendaratkan serangan tadi atau lebih tepatnya ia tak mengira akan hal itu.
Brughh... Krak... Krakk....
Prok... Prok... Prok... Prok....
Clara berjalan perlahan ke arah ku sembari bertepuk tangan, kepalanya mengangguk-angguk seakan mengatakan bahwa ia puas atas apa yang ia lihat barusan.
“Tak ku sangka kau bisa menggunakan Dagger sehebat itu, bahkan tak banyak Spieler yang memiliki Class assasin bisa menguasai keahlian ini. Apa kau yakin bahwa Class mu bukanlah Assasin?”
“Tidak, disini tertulis masih sama seperti sebelumnya.”
“Hmm... Karena aku juga tak tau akan hal itu maka mari lupakan saja tentang Class mu. Aku juga tak menyangka kau bisa memahami tujuan dari latihan ini dengan sangat cepat, kau lihat di sana. Orang itu telah mulai sebelum kita datang ke sini, bahkan sampai sekarang ia belum bisa mengalahkan boneka kayu itu!”
Aku menoleh kepada orang yang di tunjuk oleh Clara, orang itu bernafas dengan tersengal-sengal. Kepala dan tubuhnya penuh keringat, bahkan ada juga darah yang mengalir dari luka di bagian bahunya. Sepertinya ia mengalami kesulitan dalam melawan boneka kayu itu.
“Jika kau berpikir bahwa musuh yang terkuat berada di luar sana maka kau salah besar, musuh terkuat manusia adalah diri mereka sendiri. Jika kau tak bisa mengalahkan diri mu sendiri maka jangan harap kau bisa melawan musuh yang ada di hadapan mu,”
“Hmm... Bagus juga perkataan mu,”
“Itu bukan puisi tapi memang kenyataan,”
Clara tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan ku barusan.
“Yah... Dengan ini sudah tak ada yang bisa ku ajarkan lagi pada mu.”
“Sebenarnya aku ingin mengajari mu cara menggunakan sihir tapi sepertinya itu tak cocok dengan gaya bertarung mu,” tambah Clara.
“Jangan seperti itu, aku merasa sangat berterima kasih atas semua bantuan mu seminggu ini. Aku tak percaya dalam waktu singkat bisa menjadi sekuat ini, kau memang mentor yang sangat luar biasa.”
Benar, aku bisa seperti ini berkat latihan yang di berikan oleh Clara semingguan ini. Kekuatan ku saat ini tak bisa di bandingkan dengan saat aku menerima panggilan dari GM sebelumnya, bahkan peningkatan ini menurut ku sudah jauh dari yang bisa manusia biasa capai.
“Ho ho? Begitukah? Kalau begitu traktir aku minum jika kau memang merasa seperti itu!”
“Baiklah!”
Setelah itu aku bersama Carla pergi ke barat untuk menghabiskan waktu di hari ini, meminum minuman beralkohol dengan tujuan untuk merenggangkan punggung sejenak dan menenangkan pikiran dari hal-hal yang tak masuk akal beberapa minggu ini. Jujur saja selama ini aku masih memikirkan tentang kemana tujuan ku setelah ini, kembali ke bumi memang pilihan yang bagus agar aku bisa menata hidup kembali dengan benar di sana. Tapi, apa pergi ke dunia milik Game master adalah pilihan yang buruk.
“Tidak-tidak! Mengapa aku harus memikirkan hal ini?”
“Tentu saja kembali ke bumi adalah pilihan yang paling tepat!”
Tak....
Clara menghentakkan gelas minumannya ke atas meja dengan keras, wajahnya memerah dan matanya sudah terlihat tak kuat untuk terbuka.
“Hik... Apa yang kau katakan Ye Zhun Bodoh!? Hik....”
“Kembali ke bumi adalah pilihan yang paling bodoh setelah kau sampai disini! Hik...”
Terlihat jelas bahwa saat ini ia sedang dalam kondisi mabuk, toleransi alkohol tubuhnya tergolong tinggi. Ia bahkan tak sampai menghabiskan satu gelas minuman dan saat ini ia sudah mabuk sehingga mengucapkan kata-kata yang melantur.
“Kau sudah sangat mabuk Clara,”
“Ye Zhun, Camkan perkataan ku ini!”
“Kau akan merasa sangat menyesal ketika memilih untuk kembali ke bumi! Jika kau berpikir bahwa kau bisa memulai lagi di sana maka kau tak lebih buruk dari sampah”
Kata-kata yang begitu tajam namun tentu saja tak ku indahkan karena saat ini ia sedang dalam kondisi mabuk, mungkin saja ia memiliki kehidupan yang keras sebelum datang ke sini sehingga sangat tak ingin kembali ke tempat asalnya. Namun aku yakin pada pilihan ku ini bahwa semuanya bisa aku rubah saat aku sudah kembali nantinya.
Brughh....
Clara tiba-tiba menjatuhkan wajahnya ke atas meja, ia saat ini sudah tak sadarkan diri karena sudah terlalu mabuk. Namun hal ini juga merupakan sesuatu yang bagus karena jika ia pingsan maka ia tak akan bisa berkata-kata seperti sebelumnya.
“Permisi!”
Aku memanggil seorang Symvoulos yang kebetulan masuk ke dalam bar.
“Bisakah aku menyerahkan Clara padamu? Aku tak yakin membawa ia ke ruangan Spieler adalah pilihan yang benar dan karena itu aku memanggil mu”
“Tentu saja! Sebuah kehormatan bisa mengantarkan Nona Clara ke ruangannya”
“Terima kasih atas bantuan mu,”
Aku pun segera pergi dari bar untuk kembali ke ruangan ku, aku berharap untuk tak bertemu dengan Clara beberapa hari ke depan karena mungkin saja ia akan mengganggu ku.
Keesokan harinya dengan penuh percaya diri aku memasuki Dungeon tingkat E secara solo kembali, tak ada perlengkapan bantu lainnya kecuali dua dagger yang ku ambil dari latihan sebelumnya. Hasilnya, monster yang mendiami Dungeon tingkat E tentu saja tak bisa memanaskan tubuh ku. Aku berhasil menyelesaikan Dungeon ini tak sampai setengah jam lamanya, namun tentu saja aku tak ingin berhenti di sini.
“Mari tingkatkan kesulitannya kali ini,”
Tanpa banyak berpikir aku langsung masuk ke dalam Dungeon tingkat D secara solo tentunya, sebuah keputusan yang mungkin bodoh dan gila bila di lakukan oleh ku sebelumnya. Namun sekarang aku merasa bahwa aku bisa meladeni monster yang mendiami Dungeon ini.
Kikk... Kik... Kikkk....
Tak butuh waktu lama seekor monster berwujud serigala yang memegang pedang serta tameng di kedua tangannya, jika tidak salah monster ini dinamakan kobold.
Pasukan kobold ini tiba-tiba langsung berlari ke arah ku begitu menyadari kehadiran ku di sini, mereka berbondong-bondong mengangkat senjata berkaratnya ke arah layaknya orang yang baru memegang senjata. Tentu saja mengalahkan mereka semua adalah masalah yang mudah namun jika ada pasukan kobold maka ada Kobold king yang memimpin mereka disini.
Sing... Sing... Sing....
Tak butuh waktu lama tubuh-tubuh dari pasukan kobold inj pun bertebaran mati di atas tanah dengan darah yang mulai mengalir dari tubuh mereka, aku masih merasa tak puas dengan melawan sekumpulan makhluk lemah ini sehingga memutuskan untuk mencari Kobold king yang memimpin mereka.
“Apa ini ruangan Bossnya?”
Aku saat ini berada di hadapan sebuah pintu yang ku asumsikan sebagai ruangan dari tempat Boss monster berada, pemikiran ku bukanlah tanpa alasan karena pasukan-pasukan kobold itu semakin banyak seiring semakin dekatnya aku ke pintu ini. Mereka terkesan sedang menjaga pintu ini agar tak ada yang dapat sampai ke dalam sini.
Krieeeet....(pintu dibuka secara perlahan)
Begitu aku masuk ke dalam ruangan ini, tiba-tiba obor yang ada di dalam ruangan menyala seketika dan di hadapan ku terpampang jelas pasukan kobold yang sedang berbaris rapi dengan tombak serta perisai di tangan mereka seakan-akan bersiap untuk berperang. Di belakang mereka ada sebuah singgasana yang di duduki oleh Kobold berukuran besar dengan mahkota serta palu morning star di tangannya, ia menatap ku dengan tatapan sinis dan menunjukkan taringnya kepada ku.
“Hohh... Dia terlihat menantang ku,”
Mengatasi pasukan kobold ini mungkin bukanlah masalah meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak, tapi akan menjadi masalah jika Bossnya turun tangan sendiri. Aku bisa merasakan dengan jelas bahwa Kobold king ini memiliki kekuatan yang lebih kuat daripada aku saat ini, tapi di lihat dari gelagat yang ia lakukan sepertinya ia ingin mengetahui kekuatan ku terlebih dahulu.
Brak... Brak... Brak....
Pasukan kobold mulai bergerak secara bersamaan dengan mengacungkan tombaknya ke arah ku, aku segeda berlari dengan cepat ke arah mereka dan menghindari tombak yang mereka acungkan sedari tadi. Dengan sekuat tenaga aku memukul perisai kobold yang berada di paling tengah hingga ia terpental ke belakang dan menabrak kobold lainnya, formasi mereka pecah dan saat ini mereka panik akan serangan ku yang tiba-tiba.
Aku tak memberi mereka kesempatan dengan langsung mengeluarkan dagger ku dan menyayat mereka dengan itu, pasukan kobold yang panik tak dapat menghindari serangan ku dan mereka semua mati di tangan ku dalam waktu yang singkat.
Aku mengangkat dagger ku dan menunjuk Kobold king menggunakan itu.
“Selanjutnya Kau!”