Kobold King

1334 Kata
Monster adalah suatu makhluk yang menurut ku hanyalah khayalan biasa, namun sejak aku menerima dan mengikuti acara yang di adakan oleh Game master hal itu berubah. Makhluk menyeramkan yang saat ini ada di hadapanku adalah salah satu contohnya, mungkin saja mereka memang benar-benar ada karena dalam beberapa legenda juga di sebutkan beberapa makhluk aneh yang kadang di puja juga di takuti. Setelah beberapa kali melakukan perburuan di dalam Dungeon aku sadar akan satu hal, meskipun mereka mengerikan namun pemikiran mereka sebenarnya sangatlah simpel dan dapat ku mengerti. Mereka akan selalu menyerang siapapun yang menyerang daerah teritorial mereka dan itu merupakan respon yang wajar karena mereka tak memiliki akal. Berbeda dengan manusia yang memiliki pemikiran yang sulit di mengerti bahkan oleh sesama spesiesnya, manusia kadang bertindak sesuka hatinya hanya untuk mendapatkan pengakuan dan ketenaran untuk kepuasan diri semata. Oleh karena itu aku berpikir bahwa manusia adalah monster yang sesungguhnya. Brak....(suara lantai di pukul dengan keras) “Itu hampir saja!” Kobold king menghantamkan palu morning starnya tepat di saat aku mendekat ke singgasananya, beruntungnya aku menyadari pergerakan senjatanya karena jika tidak maka mungkin saja kepala ku sudah hancur saat ini. Groooaaaaa.... Kobold king ini mulai terpancing oleh ku saat ini dan ia mulai menatap tajam ke arah ku, aku mengangkat tangan ku kemudian melambaikan nya kepada kobold king sebagai sinyal agar ia mendekati ku. Meskipun aku sudah tau bahwa kobold king ini lebih kuat daripada aku saat ini tapi tak ada rasa ragu atau pun takut pada tubuh ku saat ini, aku merasa yakin bahwa aku bisa mengalahkan kobold ini. Bagh... Bughh... Bughh.... Krak.... Serangan demi serangan di keluarkan oleh kobold king demi mengenai tubuh ku, dengan tubuh besar dan berotot yang di milikinya setiap serangannya mampu menghancurkan lantai yang cukup keras dan juga akan langsung menghancurkan tubuh ku jika terkena. Serangan nya mengalir tanpa henti dan aku menghindarinya dengan mudah. Berkat tubuhnya yang lebih besar daripada aku, serangannya cenderung lebih lambat dari pada kelelawar di Dungeon E sebelumnya. Senjata yang ia gunakan juga membuat setiap serangannya bisa ku prediksi, sembari menghindari serangannya aku juga mencari kelemahan milik monster ini. “Sepertinya aku harus menyerang matanya!” Bagian tubuh yang mungkin adalah titik terlemah dan tak terlindungi dari setiap makhluk hidup adalah mata, aku memfokuskan diri untuk bersiap menyerang pada bagian itu karena sebelumnya serangan ku di tubuhnya tak bisa masuk terlalu dalam. Tubuh besarnya juga merupakan suatu kelemahan yang mana ia semakin mudah untuk di serang dan juga akan lebih cepat kelelahan, namun hal itu juga berlaku kepada ku yang mana selama ini hanya menghindari serangannya dengan segenap tenaga ku. Aku harus mengakhiri ini sebelum aku kelelahan. Gerakannya semakin lama semakin lambat, aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung mendekati tubuhnya. “Mata kemudian leher dan dilanjutkan pada jantungnya...” Itulah yang aku rencanakan, namun tepat di saat aku akan menyerangnya di bagian mata. Groaaaaaaaahhh...! Kobold ini tiba-tiba berteriak sekuat tenaga dan mengeluarkan gelombang kejut dari tubuhnya sehingga tubuh ku terpental oleh hal itu, aku segera bangun dan melihat apa yang kobold itu sedang lakukan. Grooaaaahhh....! Ia mengeluarkan aura merah yang menutupi seluruh tubuhnya, aku merasakan bahwa kekuatan dari Kobold king ini meningkat dua kali lipat daripada sebelumnya. Tubuhnya juga semakin membesar begitu juga dengan ukuran senjatanya. “Bukankah jika begini ia semakin... “ Aku merasakan hawa dingin yang begitu menusuk sehingga membuat ku merasa kesulitan untuk bernafas, hal seperti ini sebelumnya pernah ku rasakan. Benar, ini adalah perasaan buruk dimana mungkin jika aku tak bergerak maka aku akan mati. Aku melompat ke samping dan sejauh nya karena perasaan yang ku dapat sebelumnya, dan benar saja. Duaaaarrr.... Kobold king yang sebelumnya berjarak sekitar tiga puluh meter dari ku saat ini sudah menghantamkan senjatanya di tempat aku berdiri sebelumnya, pergerakan yang tak bisa di ikuti mata membuat semua kemungkinan buruk berkecamuk di otak ku saat ini. Kobold king itu membuat senyuman yang penuh percaya diri ketika tau aku berhasil menghindar dari serangannya. “Pantas saja kau percaya diri, jadi ini kartu AS mu?” Dalam segala aspek aku berada di belakang Kobold king ini, namun aku percaya diri dengan insting ku karena telah berkali-kali menyelamatkan ku dari kematian. Meskipun kobold king ini sangat lah kuat tapi aku selalu berkembang di setiap detik pertarungan, untuk saat ini aku bisa menghindari serangannya yang seperti tadi hanya dengan memprediksi nya namun aku tak bisa mengalahkannya hanya dengan hal itu. Aku bisa tau bahwa jika aku mendekat tubuhnya mungkin aku bisa melukainya, tapi aku tak yakin bisa melakukan itu tanpa terluka. “Tunggu! Bukankah aku bisa melakukan itu?” Aku mengeluarkan Immortality pass yang ku dapat dari Carla saat itu, jika tak salah ketika aku mengaktifkan ini maka aku tak akan bisa mati selama sepuluh hari dan juga selama berada di dalam Dungeon. Sepertinya ini merupakan waktu yang tepat untuk menggunakan kertas ini karena ini tak akan bekerja jika aku telah keluar dari zona ini. “Tak perlu ragu lagi!” Tiba-tiba di hadapan ku muncul sebuah layar notifikasi yang menanyakan apa aku ingin menggunakan Immortality pass ini. “Tentu saja!” Immortality pass ini kemudian mulai bersinar dan menghilang secara perlahan, layar notifikasi memberitahukan bahwa aku telah berhasil menggunakan Immortality pass. Dengan ini maka tak ada yang harus ku khawatirkan lagi. Aku segera berlari ke arah kobold king berdiri dan langsung menyerang bagian urat kakinya, sepertinya Immortality pass ini juga memberikan buff yang mana membuat kecepatan ku semakin meningkat. Crasshhh.... Aku berhasil menyerang kedua urat kaki milik kobold king yang mana akan membuat ia tak bisa bergerak secepat sebelumnya. Groaaaaaaaahhh.... Brruuaaaaaghh... Kobold ini menyerang ku di bagian kepala dengan menghantamkan palu morning starnya, akibatnya aku terlempar beberapa meter dan terlihat darah ku berceceran di mana-mana. Aaaaahhhhhh... Aaahhhh.... Aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepala ku saat ini, aku dengan jelas bisa merasakan kepala ku yang hancur akibat serangan kobold king barusan. Sakit yang tak tertahankan sehingga membuat ku berpikir mungkin kematian bukan pilihan yang buruk, kepalaku memang secara perlahan kembali ke keadaan seperti semula namun dalam setiap detiknya aku merasakan sakit yang luar biasa. Immortality pass memang mencegah Spieler untuk mati di dalam dungeon tapi tak mencegah Spieler merasakan rasa sakit sehingga ini adalah berkah sekaligus kutukan. Dalam satu menit penuh kepalaku berhasil kembali dalam keadaan semula, dalam satu menit itu juga aku merasakan sakit yang tak tertahankan. Aku berdiri dengan seluruh tubuh gemetar karena merasa trauma atas rasa sakit yang ku alami barusan, aku sadar memang ada harga yang harus di bayarkan agar aku tidak mati semudah itu. “A-Aku harus bertarung dengan cara ku sendiri.” Ku lihat kobold king itu saat ini tengah terduduk memegangi kedua kakinya yang barusan ku lukai, sepertinya ia tak bisa berjalan karena hal itu. Aku menarik nafas sedalam-dalamnya mencoba untuk tenang dan melupakan sejenak apa yang terjadi barusan, mata ku terfokus terhadap kobold king yang ada di hadapan ku saat ini. “Aku harus menyelesaikannya dengan cepat!” Aku menarik kedua dagger ku dan berlari dengan kecepatan penuh ke arah kobold king, ia menyadari pergerakan ku dan segera mengambil senjata miliknya. Tak memberinya kesempatan, aku segera memotong tangannya yang berusaha meraih senjata yang melukai kepala ku sebelumnya. Craasssshh.... Grooaaaaahh.... Aku menaiki tubuhnya dan langsung menancapkan dagger ku di atas kepalanya sekuat tenaga ku, Jleb... Groaaaahhh... Groaaaahhh... Kobold king ini menggeliat berusaha meraih tubuh ku yang saat ini sedang menancapkan dagger di kepalanya, dagger ku sepenuhnya tertancap ke dalam kepalanya namun ia masih tak menunjukkan tanda akan segera mati. Aku kembali menarik dagger ku dan kembali menancapkan nya di kepala kobold king ini, aku melakukannya berkali-kali agar ia segera roboh dan mati. “Matilah! Marilah! Matilah!” “MATILAH!!!” Kobold king ini berhenti menggeliat dan tubuhnya jatuh dengan lemas ke atas lantai dungeon, kepalanya mengalir darah segar dari bekas luka yang aku buat. Kedua tangan ku di penuhi oleh noda darah begitu juga dengan pakaian yang aku kenakan, kedua dagger ku patah akibat berlebihan dalam melukai kobold king barusan. Tubuh ku terasa lemas namun aku juga merasa puas karena telah berhasil mengalahkan monster ini. “Ini amis,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN