“Jangan tegang seperti itu, semua akan baik-baik saja!” Yuna mengulas senyum. Untuk menenangkan Nuri. Sahabatnya itu terlihat tegang dan gelisah. “Aku baik-baik saja, Una. Justru aku mengkhawatirkan keadaan kamu,” sahut Nuri. Tentu saja ia khawatir dengan Yuna. Ia tidak ingin Bayu menceraikan Yuna saat anak yg dikandung sahabatnya itu lahir. Yuna memaksakan senyumannya. Ditengah rasa mual yang kini ia rasakan, harus menunggu Bayu dengan segala praduga. Walaupun Yuna telah ikhlas untuk pergi setelah anaknya lahir. Namun, tetap saja. Rasa ikhlas untuk melepaskan, sama besarnya dengan rasa sakit yang akan ia rasakan. Cukup lama Nuri dan Yuna duduk di ruang keluarga. Akhirnya Bayu muncul dan duduk di hadapan mereka berdua. Sungguh Nuri dan Yuna, sama-sama ingin memeluk pria yang begitu m

