Wajah Riski yang tertunduk. Terangkat. “Aku pulang dulu, ya. Aku takut anak dan suamiku mengkhawatirkan keadaanku,” ucap Nuri. Penuh dengan kehati-hatian. “Ayo aku antar.” Riski memaksakan diri untuk tersenyum. “Tidak perlu. Aku bisa mencari taxi di depan sana.” Nuri menunjuk jalan raya. Riski segera berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Nuri. “Ayo aku antar. Sekalian mengambil ponselku di rumah. Untuk membayar transplantasi ginjal ibu.” Dahi Nuri mengernyit dalam. Tidak mengerti apa maksud perkataan Riski. “Aku sudah menyiapkan uang untuk transplantasi ginjal tersebut. Akan tetapi Tuhan berkata lain. Ibu pergi sebelum sempat melakukannya. Bukan berarti aku batal untuk memberikan uang itu padamu. Mungkin ini cara Tuhan untuk menutunmu kepadaku. Karena Tuhan tahu, aku sanggup da

