“Sabrina di mana, Sayang?” Bayu merangkul pinggang Nuri. “Itu lagi dandan, Sayang, kenapa?” tanya Nuri heran. Seraya menunjuk putri kecil mereka yang sedang duduk di depan meja rias. “Aku ingin berbicara sesuatu denganmu. Jadi, Sabrina kita titip sama Yuli dulu, ya.” Menggendong Sabrina, dan menitipkannya kepada Yuli, yang telah menunggu di depan pintu kamar mereka. Saat Bayu menyerahkan Sabrina, ia bisa mendengar teriakan Yuna dari dalam kamar. Dan tentu saja ia tahu apa yang diinginkan oleh istri mudanya itu. “Jangan coba-coba untuk membuka pintu kamar itu. Kalau kamu tidak ingin dipecat. Dan jangan sekali-kali berpikir untuk ikut campur seperti kemarin. Kamu mengatakan kepada ibuku, jika istriku tidak bisa hamil!” tegas Bayu. Sebelum menutup pintu kamarnya dengan kasar. Perkat

