Tanpa melihat kesakitan Vanya, Sabrina tetap pada keinginannya untuk menikah dengan Gibran. Ia menutup telinga dan mata, tidak peduli sama sekali dengan keadaan Vanya yang kian hari makin memburuk. Vanya tidak pernah keluar kamar sama sekali karena merasa hidupnya tak lagi berguna. Hidupnya tak lagi berarti semenjak sang Ibu pergi untuk selama-lamanya. Dan rasanya semakin buruk ketika tahu Gibran dan Sabrina tetap menikah meskipun ia masih berduka. Tidak ada niat untuk menghentikan, Vanya tidak merespon sama sekali ketika sang ayah mengatakan besok adalah hari bahagia bagi Sabrina. Vanya hanya merespon dengan seulas senyum yang tak sanggup diartikan apa maksud dari senyuman tersebut. Namun, ada satu hal yang Vanya pastikan. Ia akan datang menghadiri pernikahan Sabrina dan Gibran. Ia

