Sampai di Indonesia, Lyssa sudah bulat dengan tekadnya. Rencana di otaknya dia susun serapi mungkin. Hanya saja, satu hal, Lyssa menjadi aneh. Dua minggu ini Lyssa selalu menghindar tiap Rainier mencoba. “Sayang, beneran nggak boleh?” tanya Rainier. “Aku ngantuk, Mas. Besok lagi saja.” Besoknya. “Sayang?” tanya Rainier. “Aku lagi nggak mood, Mas.” Rainier menghela napas. Lyssa sebelumnya selalu siap setiap Rainier minta jatah, tapi akhir-akhir ini, entah, Rainier tidak tahu lagi. Apa karena Evan kemarin? Apa Lyssa menyesal sudah memilihnya? Mungkin Lyssa bersedih karena Evan akan menikah? Aneka pikiran-pikiran negatif berkecamuk di otak Rainier, tapi Rainier tak menyerah, dia coba hubungi istrinya lagi. “Break siang nanti mampir ke kantor ya?” kirimnya. Lyssa sih harusnya paham, Rain

