Selama acara berlangsung Aira tak pernah absen untuk memperhatikan Langit, laki-laki yang mengenakan kemeja hitam itu sungguh terlihat berbeda dari yang lain. Ia jarang sekali terlihat tertawa lebar seperti yang lain, tapi sekalinya tersenyum maka siapapun yang melihatnya akan ikut tersenyum. Sama halnya dengan Aira sekarang, ketika ia melihat Langit tersenyum dari kejauhan senyum itu seolah menghipnotisnya untuk ikut menarik bibir membentuk lekukan senyum. Jujur ia memang belum mengenal Langit begitu banyak, bahkan ia saja tidak tahu bagaimana Langit memperlakukan perempuan. Tapi, di balik itu semua Iara selalu yakin pada laki-laki yang memperlakukan Ibunya dengan baik maka akan sama halnya dengan ia memperlakukan perempuan. “Diliatin mulu, samperin dong ajak foto.” Lamunannya buyar s

