“Ra?” Aira menoleh, ia menghentikan langkahnya menuju gerbang rumahnya. “Kenapa?” “Udah ya, udah aja enggak usah usahain si Langit lagi.” Ucap Sifa dengan nada serius. Aira mengerutkan dahinya. “Kenapa lo? Tumbenan banget.” Sifa terdiam. “Enggak usah aja, percuma. Gue juga udah males dengernya, ditambah lagi dia enggaka da haragain lo sama sekali kan.” Aira mengangguk pelan. “Gue tahu kapan gue harus berhenti atau lanjut yaa.” Sifa berdecak pelan, “Iya itu emang terserah lo sih, gue Cuma ngingetin aja.” Aira mengangguk. “Makasih ya, Sif.” Sifa menganggukkan kepalanya. “Gue balik ya.” “Hati-hati.” Sifa membunyikan klakson motornya, lalu memutar balikkan motornya dan pergi. Sepeninggalan Sifa dari rumahnya, Aira langsung melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia s

