Sambil menghabiskan suapan mie ayam terakhir, Aira terus melihat keluar kelas. Ia merasa kalau Wilda tahu banyak soal Langit, bukan hanya sekedar apa yang ia katakan tadi.
Wilda adalah salah satu teman dekat Aira yang juga dekat dengan Langit, tapi tidak sedekat Alika. Aira tahu betapa terkejutnya teman-teman Aira ketika tahu Aira datang untuk Langit di hari lalu saat pertandingan. Bukan tidak boleh atau tidak pantas, hanya keluar dari konteks Aira sebelumnya.
"Lo bengong mulu." Tegur Sifa yang sedari tadi menunggu Aira menghabiskan makanannya.
Aira menoleh, sambil mengunyah pelan-pelan ia tersenyum tipis. "Lagi menikmati."
"Enggak usah dicariin, susah kalau orang enggak bisa hargain effort kita ya selamanya bakalan tetep kayak gitu." Ucap Sifa, seolah-olah tahu apa yang tengah Aira pikiran sekarang.
"Enggak nyariin." Jujur Aira, karena memang Aira menghindari adanya Langit di sekitarnya.
"Itu lo nyariin namanya." Balas Sifa tidak mau kalah.
"Iya gimana gue bisa lakuin apa yang disaranin, pas gue udah lakuin aja lo enggak percaya."
"Gimana mau percaya dari tadi lo makan liatin keluar mulu."
Aira menghela napas, ia kini merubah posisinya menghadap ke arah Sifa. "Gue mikirin omongan Wilda, tadi dia ke sini pas lo sama Leona ke Kantin."
"Ngomong apa si Wilda?"
Aira menggeleng pelan. "Ya gitu."
"Soal Langit kan?"
Aira mengangguk.
"Iya sama aja lo masih ngurus Langit, gue kan bilang biarin aja enggak usah dicari atau dipikirin." Ucap Sifa penuh emosi.
"Iya." Aira menyudahi perdebatan di antara mereka berdua sambil merapihkan bekas mangkuk yang sudah dipakai.
Aira tahu Sifa hanya tidak mau kalau Aira menghabiskan waktunya hanya untuk laki-laki yang tidak pernah bisa menghargai usaha perempuan. Sekalipun harusnya laki-laki yang lebih berusaha, perempuan juga punya hak untuk melakukan yang sekiranya memang ia mau dan membantunya.
"Gue ikut ke Kantin." Kata Aira sambil bangun dari kursinya.
"Ayo." Balas Sifa, ia berjalan mendahului Aira.
Sebenarnya terpaksa bagi Aira untuk pergi ke Kantin, ia berharap kalau di jalan ia tak bertemu dengan Langit.
Tapi ternyata salah, semesta terlalu bercanda jika kita meminta apa yang kita mau. Ketika Aira ingin bertemu dengan Langit, justru sulit sekali. Sekarang, Aira benar-benar tidak mau bertemu dengan Langit. Baru saja ia hendam memutar badanya membelok ke arah Kantin, pandangan matanya jatuh pada laki-laki yang tengah duduk sambil mengaduk-aduk es teh manis miliknya.
Refleks mereka melihat satu sama lain selama beberapa detik, setelah itu Aira yang menyudahi dan mengedarkan pandangannya ke arah lain.
"Santai aja." Bisik Sifa, ia memelankan ritme langkahnya untuk menyamai langkah Aira di belakang. Ia tahu sahabatnya itu tengah bingung, dan gugup karena ada Langit.
Aira menarik napasnya, berusaha menutupi kegugupan yang tengah menyelinap di dalam dirinya.
"Teteh, makasih yaa." Ucap Aira sambil menaruh mangkuk kotor yang ia bawa.
"Yuu sama-sama." Kata si teteh sambil tersenyum ke arah Aira.
Setelah itu mereka berdua berniat langsung kembali ke kelas, baru saja beberapa langkah menjauh dari Kantin. Suara seseorang menginterupsi langkah mereka.
"Ini atuh temenin." Celetuk salah satu laki-laki yang juga berada di sekumpulan Langit.
Sedangkan Langit hanya diam saja, sesekali ia tersenyum memandang sekilas ke arah Aira dan Sifa.
Aira tidak menghiraukan itu sama sekali, ia mengajak Sifa untuk berjalan lebih cepat dari sebelumnya.
*
"Ka, permisi ya." Aira refleks menoleh, mendapati seseorang yang ia kenal sebagai adik kelasnya.
"Oh iya." Balas Aira sambil tersenyum.
Aira tengah duduk di depan kantor, sambil menunggu Sifa yang sedang mencari Bu Ida untuk menyerahkan tugas.
Tak lama kemudian, Sifa datang dan duduk di sebelah Aira.
"Kesel banget." Gerutu Sifa yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Kenapa?"
"Berisik banget, gue lagi ngomong sama Bu Ida soal tugas. Dia malah berisik bercanda di dalem, caper banget." Sifa bercerita dengan penuh kekesalan.
"Siapa?"
"Itu adik kelas, rame banget bahas si Langit. Masih kecil juga banyak omong banget."
"Namanya." Ucap Aira yang sudah gregetan melihat Sifa yang bercerita setengah-setengah.
"Si Fadia."
Tak lama setelah Sifa menyebut nama itu, adik kelas yang Sifa maksud keluar dari ruang guru.
"Itu tuh yang berisik." sindir Sifa.
Aira kaget, adik kelas itu yang tadi berbicara dengannya. "Hah?"
"Iya itu namanya Fadia."
"Suka sama Langit?" Tanyanya dengan nada menggebu.
Sifa mengangguk cepat.
"Wah kalau tahu kayak gitu enggak akan kali gua ramah tadi."
"Hah? Ramah? Lo ngobrol?"
Aira mengangguk. "Iya tegur sapa doang sih. Tapi, kalau tahu saingan mah ngapain baik-baik."
Sifa menatap kepergian adik kelas itu. "Enggak akan bisa itu orang, hih kelakuan kayak anak kecil banget. Lo bayangin dia dalem berisik banget, terus cape ngode soal Langit."
"Kenapa lo enggak manggil gue sih?" Kesal Aira.
"Udah gue sindir, aman."
Aira mengacungkan jempolnya ke arah Sifa. Memang kalau soal seperti ini Sifa tidak ada tandingannya.
Setelah urusan mereka selesai, Aira dan dan Sifa langsung pulang.
*
"Pedes banget sih mulutnya, mentang-mentang kakak kelas." Ucap Diva.
"Iyaa, tapi dia temennya kak Langit." Balas Fadia.
"Yaelah kak Langit juga enggak akan terpaku sama dia kali. Santai aja." Kata Diva dengan wajah kesalnya.
"Seenggaknya jelek nanti gue di mata angkatan mereka. Dia berpengaruh lagian."
"Itu yang lo ketemu di luar juga kan temannya." Ucap Diva mengingatkan kejadian Fadia bertemu dengan Aira.
"Iya gue tahu, tapi enggak seribet Kak Sifa."
"Ya belum aja kali, karena enggak tahu juga apa yang mau diributin kan."
Fadia mengangguk pelan. "Enggak perduli ah mau gimana juga, terserah."
"Yaudah mendingan kita pergi ke lapangan aja, anak futsal lagi latihan."
Fadia mengangguk cepat. "Ayo."
Dibanding Aira, memang lebih dulu Fadia yang mendambakan seorang Langit. Yang sedari dulu memperhatikan Langit dari kejauhan. Tapi, hanya baru kali ini ia benar-benar secara terang-terangan menunjukkan perasaanya pada Langit.
"Heh pulang!" Ucap salah satu temannya pada Fadia.
"Lagi nunggu pacar latihan." Balas Fadia dengan percaya diri.
Temannya yang bernama Sofia itu lantas tertawa, ia mendekat ke arah Fadia. Lalu, ia masih tertawa bahkan kesulitan menahannya.
"Kenapa ih?"
"Yakin nunggu pacar lo?"
Fadia mengangguk cepat.
"Apa pacar orang?" Tanyanya dengan nada meledek.
Fadia mengerutkan dahinya. "Gue emang bukan pacarnya dia sih, tapi bukan berarti gue deketin pacar orang. Itu jelas banget beda konsep."
Sofia menggeleng-gelengkan kepalanya, ia benar-benar tak menyangka. "Udah dikasih tahu masih aja. Susah banget sih, bandel."
"Apaan sih, Fi?" Fadia benar-benar penasaran dan tidak paham dengan apa yang dikatakan Sofia pada dirinya.
"Heh Kak Langit tuh kemarin tanding didatengin pacarnya, lo malu dong ih masih nungguin pacar orang."
"Siapa?"
Sofia tertawa lagi. "Tuhkan katanya pacar, kok enggak tahu berita terbaru."
"Iya siapa?" Tanya Fadia tak sabar.
"Kakak kelas kali, Kak Aira."
Fadia terdiam. "Serius?"
"Orang lagi rame beritanya, bisa-bisanya lo enggak denger. Mangkannya buka mata sama telinga, jangan orang udah ada yang punya juga masih aja, bingung gue." Ucapnya dengan nada meledek.
Fadia langsung kesal, ia benar-benar tidak menyangka orang yang nantikan justru sudah bersama yang lain di saat ia benar-benar ingin menunjukkan perasaanya pada Langit.