Setelah Langit melajukan motornya, Aira berusaha tenang di belakang. Ia terus-menerus memikirkan ucapannya tadi dengan Alika. Aira benar-benar khawatir kalau di perjalanan pulang mereka hanya diam saja hingga sampai tujuan, benar-benar menjengkelkan jika hal itu benar-benar terjadi.
Aira membuka resleting tas selempangnya, ia berniat mengambil ponselnya. baru saja resletingnya terbuka dan tangannya terlurur untuk mengambil ponsel, gerakannya tiba-tiba berhenti.
“Ra, makasih ya..”
Aira sedikit terlonjak kaget, ia langsung mengangkat kepalanya yang semula menunduk. “Hmm?”
Aira sengaja hanya menjawab dengan sebuah gumaman, ia tidak mau salah. Ia benar-benar memastikan kalau ucapan itu memang berasal dari laki-laki yang ada di depannya.
“Maaf ngerepotin lo.” Ucapnya lagi.
Kali ini Aira benar-benar yakin kalau tadi ia tidak salah dengar dan tidak salah orang, Sudut bibirnya tertarik membentuk lekukan senyum, ia benra-benar salah tingkah sekarang.
“Enggak kok..” Balas Aira berusaha menutupi dirinya yang sedang girang kepanasan.
“Tadi naik apa?” Tanyanya lagi membuka obrolan di sela-sela perjalanan.
“Naik mobil.”
“Enggak ada kegiatan, Ra?”
Aira refleks menggeleng . “Enggak ada.”
“Tadi berangkat jam berapa dari rumah?”
“Jam 10 deh kayaknya, Lang.”
Langit mengangguk saja, Aira tahu ia juga jadi bingung membuka obrolan dengan topik apa jika dalam situasi seperti ini.
Aira juga memilih diam setelah itu, entah ke depannya nanti Langit akan membuka obrolan lagi atau tidak.
*
“Enggak usah repot-repot, nanti gue haus tinggal ambil sendiri.” Ucap Aira pada Sifa yang baru datang sambil membawakan minum untuk Aira.
Sambil menaruh gelas berisi minuman, Sifa melirik Aira yang terlihat tak sabar untuk bercerita. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, teman sepertinya ini sangat langka. Aira benar-benar mendatangi rumah Sifa di saat ia benar-benar ingin bercerita, ia tak mau jika hanya bercerita di telpon. Jika keadaannya memungkinkan Aira pasti menemui Sifa.
“Kenapa sih?” Tanya Sifa yang baru saja duduk di hadapannya.
Aira lagi-lagi tertawa, sudah datang tiba-tiba lalu memburu-buru Sifa. Sekarang ketika ditanya ia justru tertawa.
“Kenapa ih? Jangan dulu ketawa.” Protesnya yang juga penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Aira.
“Ih sumpah ya, gue enggak nyangka banget.”
“Iya kenapa? Lo ketawa dulu deh, kalau udah puas baru cerita.” Ucap Sifa lalu ia meneguk minuman yang juga ia bawa untuknya.
Aira mengatur napasnya lebih dulu, bersiap-siap untuk bercerita. Ia menunggu Sifa menyelesaikan minumnya, barulah ia akan memulai sesi ceritanya.
“Jadi, gue balik diantar sama Langit kan.” Mulainya tanpa menghilangkan ekspresi wajahnya yang bahagia.
“Hah? Demi apa sih?” Tanyanya kaget, Sifa benar-benar tak menyangka kalau Langit mengatarkan Aira pulang.
Aira mengangguk cepat. “Iya.”
“Pantes aja lo kesenengan begitu.”
“Terus, gue kan bilang tuh dari awal sama Alika. Gue takut kalau di jalan akhirnya diem-dieman gitu doang. Iya buat apa juga? Kesannya kayak Cuma menghargai gue datang buat dia dan dia anter balik.”
Sifa mengangguk. “Iyaa, terus?”
“Awlanya dia emang ajak gue ngobrol, ya kayak basa-basi nanya doang gitu.” Jelasnya lagi.
“Tapi, pas dia tanya sama lo itu lo tanya balik?”
Aira menggeleng dengan polosnya. “Enggak.”
“Lah? Lo tengil banget.” Protes Sifa.
“Emang kenapa?”
“Lo udah di kasih peluang malah diem aja, yang ada lo kayak enggak asik nantinya. Udah dia dingin sama cuek, terus lo juga enggak ada usaha sama sekali gitu buat mulai dan manjangin orbolan.”
“Gue bingung, Sif. Biasanya deket sama yang berisik, yang bawel dan sekarang malah sama yang dingin.”
Sifa menghela napasnya. “Justru karena dia beda, ya kalau dia jadi bawel sama lo itu artinya dia suka sama lo. Ngehargain lo gitu maksudnya.”
“Gue belum beres kan, udah lo tanya-tanya aja.” Kesal Aira pada Sifa.
Sifa justru tertawa melihat Aira yang kesal sekali. “Sabar, kesel mulu. Lanjutin aja.”
“Iya udah terus diem kan tu enggak lama sih, terus dia kayak buka obrolan lagi gitu bahas-bahas random. Tapi, kayak disitu udah mulai saling tanya sama saling jawab. Dan lo tahu enggak sih? Sampe bis yang sebenernya enggak penting buat diomongin tuh dia omongin dong.”
Sifa terus memperhatikan Aira yang sednag bercerita. Ia menyimak, bahkan ekspresi Sifa juga yang ikut bahagia dengan apa yang Aira ceritakan kepadany.
“Seru sumpah, bener banget yang gue lihat di jalan pas dia sama Andara. Ternyata emang anaknya se asik itu, Cuma ya dengan cara dia sendiri sih.”
Sifa manggut-manggut. “Iyaa gitu, jadi enggak semua orang disama ratain. Enggak bisa dan enggak akan pernah bisa.”
“Terus si Alika bawel banget, mminta dia buat mampir dulu sebentar. Gila enggak sih lo?”
“Wah sumpah?”
“Iya, gue mau enggak mau dong ajakin dia ke rumah gue buat mampir.” Setelah bercerita, Aira meraih minumannya dan mulai meminumnya.
“Terus dia lama di rumah lo?”
“Enggak juga, karena emang kayak enggak enak juga kali ya.” Tebak Aira.
“Yang penting lo udah selangkah lebih maju deh.”
Aira mengangguk setuju, bohong kalau ia tidak senang hari ini. Setidaknya apa yang ia pikirkan sebelumnya tidak terjadi dan Langit meresponnya dengan sangat baik.
“Udah kontekan dong?” Tanya Sifa.
Aira menghela napas, lalu menggeleng pelan.
“Kok belum?”
“Kan hp nya masih rusak.”
“Oh iya, nanti deh kayaknya nanti juga dia chat lo.” Ucap Sifa berusaha membuat Aira berpikir postif.
“Iya sih, udah gitu tahunya bukan rusak. Emang dia enggak minat aja sama gue.”
Sifa berdecak, ia berdesis kesal. “Baru gue kasih motivasi biar enggak lihat orang tuh negatif terus. Udah kambuh lagi aja.”
Aira terkekeh di hadapan Sifa. Kalau tidak dengan cara ini, Aira akan sangat lebih mudah untuk disakiti atau dikecewakan oleh perasaannya sendiri. Jadi, lebih baik ia membuat ekspetasi yang jelek dan jika berakhir baik itu akan membuat rasa senangnya berlipat. Sebaliknya, jika Ira sudah menaruh ekspetasi yang tinggi, ia akan mengalami sakit karena realitnya dijatuhkan.
“Gue Cuma enggak mau skait hati aja.” Bela Aira.
“Iya, tapi tetep aja udah mikir aneh tetep juga sakit hati. Ada juga kalau emang lo pegang prinsip itu lo enggak akan tuh uring-uringan karena sakit hati.” Sindir Sifa sambil meliriknya dengan tatapan sinis.
“Ah udah lah.” Balas Aira sambil tertawa.
“Tunggu aja nanti juga bahagia.”
Aira mengangguk setuju dengan apa yang Sifa ucapkan. Setelah menyelesaikan orbolan mereka langsung beralih ke topik yang lain.
*
Setelah meletakkan sendal, kakinya menginjak lantai dingin berawarna putih. Lalu, berjalan mendekati pintu dan mengetuknya sekali sebelum ia masuk.
“Assalamualaikum.” Ucapnya setelah masuk ke dalam.
“Eh? Waalaikumsalam. Gimana turnamentnya?” Tanya wanita paruh baya yang sedang duduk di ruang televisi.
“Kalah, Ma.” Jawabnya sambil tersenyum masam.
“Enggak apa-apa, pengalaman.” Balas wanita paruh baya itu.
“Pengalaman sekaligus dapet cewek baru, Mama.” Celetuk seseorang yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Siapa, Ka?”
“Itu si Langit, Ma.” Jawabnya sambil berjalan terus keluar menuju teras rumahnya.
“Ma, Langit ke teras dulu ya.” Pamit Langit pada wanita yang ia panggil dengan sebutan Mama.
Langit keluar, mendapati sahabatnya sudah duduk di bangku teras lebih dulu. “Maksud lo apa?”
“Enggak cerita ya lo sama gue, bener aja ada yang datang cewek buat lo.” Omelnya pada Langit tanpa menatapnya.
Langit tertawa. “Gue juga enggak tahu dia datang, ini gue ke rumah lo baru mau cerita.”
“Spik lo basi, Lang.” Balasnya lagi dengan nada kesal.
“Serius, An. Gue enggak tahu kalau dia datang sama Alika.”
Andara menoleh. “Iya gue penasaran kok bisa? Dianter balik lagi. Gue mau nyusulin lo tadi sama Hilman, mau gue kecengin ampe lo malu.”
“Enggak pernah chat juga, lagian kan hp gue rusak. Enggak akan ngira dia bakal datang juga.”
“Emang awalnya gimana? Enggak mungkin dong lo enggak ada kontak apapun terus dia mau datang.” Tanya Andara dengan penasaran.
“Jadi abis kemarin yang acara di sekolah itu, Alika datang nemuin gue dan nanya –nanya soal gue sama siapa sekarang, terus dia nnaya juga soal hubungan gue sama Karin.”
“Jawab lah, gagal move on gitu.” Ledek Andara dengan wajahnya yang dibuat so serius.
“Mulut lo ya, Andara.” Kesal Langit.
“Iya terus apa?”
“Iya gue jelasin gue udah enggak ada apa-apa, dan lagi sendiri juga. Dia bilang ada yang suka sama gue, itu hak dia lah menurut gue jadi gue oke-oke aja.”
Andara menggebrak meja yang membatasi mereka berdua. “Sumpah? Siapa yang suka sama lo?”
“Alika enggak bilang sama gue, tapi kayak ngasih ciri-ciri gitu sampai gue menemukan jawabannya. Gue mulailah follow sosial media dia, iya gue pengen tahu kan.”
Andara menggelengkan kepalanya. “Nyari tahu cewek tuh ya langsung, atau lewat temennya. Ini lewat sosial media, udah kayak jaraknya beda Pulau.”
Langit berdecak. “Lo nyela mulu deh.”
“Iya lanjut deh.” Balasnya sambil menahan tawa.
“Setelah gue follow, gue juga enggak ada lihat perubahan apa-apa sih. Kayak biasa aja seperti dulu dia belum suka sama gue. Alika juga bahas soal hp gue yang masih rusak, gue bilang gue mau nyoba buat deket sama itu cewek tapi nanti.”
“So ganteng lo, nanti diambil orang baru nyesel.”
Langit tidak peduli dengan celaan itu. Ia langsung melanjutkan ceritanya. “Pas pembagian rapot juga Alika bawa gue nemuin dia, dan foto juga sama dia.”
“Gimana menurut lo?” Tanya Andara yang sudah paham siapa wanita yang sedang ia ceritakan.
“Beda aja, gue lihat dia orasi tanpa ada rasa malu ya lancar aja gitu. Sedangkan di hadapan gue dia mati kutu.”
Andara menghela napas. “Gue pernah denger kalau dia susah move on dari Zaidan, mungkin berkat lo dia mau nyoba untuk melepas dan mengikhlaskan.”
Langut menaikkan bahunya. “Enggak tahu.”
“Iya coba lo kontek dia nanti, jangan sampai enggak. Mana tahu lo obat dan dia juga obat, iya kan?”
Langit mengangguk paham. “Bener apa yang lo bilang, gue bakalan nyoba.”
Andara tersenyum. “Lagian dia kayaknya sefrekuensi sama lo, dia bukan tipikal orang yang banyak waktu senggangnya ya kayak lo.”
“Gue coba dulu.”
“jangan main coba, kasihan anak orang kalau udah baper gimana.” Andara tak pernah bosan mengingatkan hal ini pada Langit. Ia khawatir setelah disakiti berulang kali, bahkan gagal move on. Andara tidak mau kalau Langit menyakiti perempuan lain untuk meluapkan perasaannya.
“Iya enggak.”
“Menurut lo dia gimana?”
“Iya baik-baik aja, tapi gue belum lihat. Relatif lah baik itu, cantik juga apalagi.” Jawab Langit dengan serius.
“Terus gimana bisa lo anterin dia?”
“Iya dia datang terus anter si Alika, terus foto tuh gue sama dia. Radit bilang kalau soal nganterin balik, yaudah gue lakuin. Enggak enak juga kalau enggak gue anter pulang sedangkan Alika balik sama Radit.”
Andara terdiam, ia seperti melupakan sesuatu. “Seinget gue mereka datang bertiga sama Arafah kan?”
Langut mengangguk ceoat. “Iya, kenapa?”
Andara mengerutkan dahinya. “Kalau iya, terus Radit balik sama Alika dan lo sama Aira. terus si Arafah sama siapa?”
Langit tertawa mendapat pertanyaan itu. “Sendiri naik ojek online.”
Mulut andara terbuka. “Hah?”
“Serius.”
“Kenapa enggak naik motor juga sih? Emang enggak dicariin tebengan?”
“Iya kan lo tahu, An. Anak-anak futsal yang jomblo Cuma beberapa. Bukan enggak mau nayri, enggak ada yang mau kata Radit.” Jawabnya sambil menahan tawa.
Andara tertawa mendengarnya. “Wah parah sih, body shaming banget lo pada.”
“Bukan gue, tapi Radit sama anak-anak yang enggak mau ditebengin.”
“Emang lo udah nyari?”
Langit menggeleng. “Enggak nyari, udah ada kesimpulannya juga enggak sih, An?”
“Ini sih lebih parah, terus ngapain si Arafah diajak? Dia nonton siapa emang?”
“Gue enggak tahu dia nonton siapa, kayaknya Cuma nemenin aja. Lagian kan emang anaknya suka banget ikut.”
“Enggak gitu juga.” Balas Andara sambil menatap geram kepada Langit.
“Udah berlalu juga ah, gue juga enggak tahu apa-apa.”
“Iya, tahunya Cuma soal si Aira doang.” Ledeknya lagi.
Langit menahan senyumnya. “Apaan sih?”
“Sama siapa Langit nih sekarang?”
Langit refleks menoleh ke pintu. Mama Andara tengah berdiri di sana sambil menatap ke arah mereka berdua.
“Ada Ma, anak satu sekolah juga. Tadi pulang bareng.” Jawab Andara dengan cepat.
“Enggak dapet juara juga dapet cewek ya, Lang.”
Langit tertawa. “Mama ada-ada aja nih, temen aja Ma.”
“Iya enggak apa-apa, kalau pacaran juga ajak ke sini double date sama Andara. Biar kalau kamu main ke sini terus ada Hilman juga enggak masalah.”
“Kan emang enggak masalah, Ma.”
“Kasihan aja lihatnya Mama, Andara sama Hilman bercanda kamu malah main Hp.”
Andara tertawa puas. Ia benar-benar menyetujui apa yang diucapkan Mamanya itu. “Bener banget sih, Ma.”
“Tunggu aja, Ma. Nanti bawa pasangan kok.” Jawab Langit dengan tenang.
“Mama tunggu tuh.” Ucap Mama Andara sebelum masuk ke dalam.
Sudah sedekat itu hubungan Langit dengan Andara, bersahabat dan benar-benar diusahakan sekedar sahabat. Langit yang sering berkunjung ke rumah Andara, dan sebaliknya. Hal ini sudah sangat lumrah untuk mereka berdua. Mereka berusaha tidak mendengar apa yang orang bilang, selagi bisa konsisten dengan status mereka saat ini. Orang-orang akan diam dengan sendirinya.