KEGAGALAN
BAB 1. KEGAGALAN
"Berhenti! Hentikan!" Teriakan pria dari balik pengeras suara yang tersemat di telinga kiri tak membuatnya bergeming.
"Good bye!"
Suara tembakan meletus. Gadis dengan rambut lurus sepinggang itu berbalik meninggalkan seorang pria yang sudah terkapar bersimbah darah di lantai.
"Dia memang pantas mendapatkannya,” bisiknya pelan. Ricci melompati dek kapal kemudian merapatkan topi sembari menyentuh pelan alat kecil di telinganya. Ricci berjalan santai seolah tak terjadi apa-apa di tengah malam yang pekat.
Malam itu adalah malam kesekian kalinya Ricci melawan perintah Lauv. Pria yang selalu bersamanya saat menjalankan misi. Bukan tanpa alasan, setiap orang yang dihabisi Ricci memanglah penjahat kelas kakap yang telah melakukan ribuan kejahatan lainnya. Dia memang bukan pahlawan, tapi tetap saja dia ingin berbuat sesuatu. Selain karena memang itu pekerjaannya.
Dia menoleh ke belakang. Kapal itu sudah berlayar cukup jauh dan menghilang bak ditelan kabut. Misinya malam itu selesai.
****
Ricci mengenakan gaun putih yang berhiaskan berlian di bagian pinggangnya, tak lupa dengan mahkota mini yang bertengger cantik di atas kepalanya. Dia berdiri di depan cermin besar menatap lamat-lamat dirinya yang tampak begitu anggun.
“Wah, ternyata kau cantik juga dengan gaun ini,” puji Lauv sambil menutup kedua mulutnya dengan kedua tangan.
Ricci memutar badannya sambil memasang senyum masam.
“Hei! Ada apa dengan raut wajahmu? Kau harus tersenyum cerah di hari bahagiamu ini! Pengantin macam apa yang terlihat murung di hari pernikahannya.”
Ricci membuang muka mengabaikan Lauv lalu duduk di kursi penganti berwarna putih yang sudah dihiasi berbagai macam bunga.
“Jangan bilang kau masih memikirkan misi itu?” ungkap Lauv menebak asal.
Tak ada tanggapan dari Ricci sudah cukup menjadi jawaban bagi Lauv.
Lauv berjongkok di hadapan Ricci. “Ayolah! Biasanya kau tidak seperti ini.” Lauv merapikan pelan ujung gaun Ricci. Menyadari betul bagaimana sikap Ricci sedikit berubah saat menjalankan misi itu. Tidak seperti biasanya yang tersenyum cerah sambil menyesap anggur merah. Kali ini dia tampak murung. Apakah karena dirinya juga yang memaksa Ricci melakukan misi yang sebenarnya bukanlah misi untuknya? Ah, seketika Lauv digeluti rasa bersalah.
“Kau bukannya gagal, tapi kenapa kau bersikap seperti ini?”
Ricci menghela nafas kasar kemudian duduk. “Dia menyebut keluargaku,” katanya pelan, menyerah dengan protes Lauv.
“Apa katamu?” Lauv merubah raut wajahnya menjadi serius. Sekilas dia melihat sekeliling takut ada orang lain yang bisa saja mendengar pembicaraan mereka saat ini. Dia juga tampak terkejut dan berhenti mengomel. “Tapi kenapa…” suaranya menjadi pelan setengah berbisik.
“Dia bilang kalau dia tahu siapa penyebab kehancuran keluargaku.” Ricci mengusap wajahnya. Suaranya terdengar penuh penyesalan.
Sebuah moncong senapan otomatis terangkat mengarah pada pria berdarah Rusia itu. Kakinya sudah bersimpuh di lantai dengan tangan terangkat sambil memohon ampun dan belas kasihan. “Aku tahu semua tentang keluargamu.” Dengan patah-patah, pria itu berbicara dalam bahasa Rusia yang fasih.
Pupil mata Ricci bergetar. Ini pertama kalinya seseorang menyebut tentang keluarganya setelah tujuh tahun meninggalkan negaranya dan semua tentangnya, termasuk keluarga yang baru saja keluar dari mulut pria bernama Markov itu. Sebenarnya Ricci tak ada urusan dengannya, tetapi klien yang seharusnya kabur dengan kapal malam itu terhalang karena Markov dan anak buahnya mengejar kliennya hingga ke kapal. Demi kelancaran bisnisnya, terpaksa Ricci menghabisi semua yang menghalangi jalannya, termasuk Markov. Namun siapa sangka, pria itu justru mengenal dirinya.
“Apa yang kau ketahui tentangku?” tanya Ricci datar dan dingin. Dia masih bisa mengontrol nada suaranya agar tak terdengar mendesak dan penasaran.
“Hidden Hill.”
Ricci mendengus. “Sungguh dugaanku sudah keliru.” Jari telunjuknya siap manarik pelatuk.
“Tunggu! Tunggu! Tunggu!” ucap Markov lagi terburu-buru. Masih mencoba menahan dan membujuk Ricci agar mengampuni nyawanya.
Ricci menarik kembali jari telunjuknya kemudian sedikit memiringkan kepala. Dia masih berbaik hati membiarkan pria itu mempersiapkan diri dan punya sedikit waktu. “Kau masih ingin bicara?”
“Alan&Max in Ja….” Mulut pria itu langsung tersumpal dan tersungkur menyatu dengan lantai kapal. Sebuah peluru baru saja menembus kepalanya.
Ricci terkesiap. Dia menggelengkan kepala membuyarkan ingatannya. “Dia menyebut tentang Alan&Max.”
“Alan&Max?” Lauv bertanya balik. Mulutnya langsung terkatup sembari memutar kepala memperhatikan sekeliling. “Kau yakin tidak salah dengar?” Suaranya semakin melambat.
Ricci mengangguk pelan. “Ya. Bantu aku cari informasi tentangnya,” pinta Ricci pelan.
Lauv ternganga sambil memasang raut wajah tidak percaya.
“Kenapa?”
“Alan&Max adalah milik pria yang akan kau nikahi dalam lima menit ke depannya.”
“Apa katamu?” Ricci tidak kalah terkejut. Matanya terbelalak menatap lauv. Pria itu tidak pernah memberitahunya tentang hal itu.
Ricci bergegas ke arah pintu dan menutup pintu ruang tunggunya dengan rapat. “Kenapa kau tak bilang dari kemarin?” ungkap Ricci kesal tak habis pikir.
“Ya..karena kau tak pernah bertanya,” jawab Lauv berusaha membela diri.
Ricci meremas kedua tangannya di udara kosong. Merasa semakin geram. Dia
menghembuskan nafas dengan kasar.
“Sekarang katakan apa yang kau ketahui tentang Alan&Max!” perintah Ricci.
“Tidak Ada.” Lauv menggeleng pelan. “Aku tidak bisa mendapatkan informasi apapun tentang mereka. Semuanya tertutup rapat. Bahkan dengan kemampuan hebatku akan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mendapatkannya. Mereka perusahaan hukum nomor satu di kota ini. Tidak akan mudah untuk mengakses informasi mereka.”
“Astaga Lauv! Kenapa kau tidak bilang dari awal dan malah mengatur pernikahan bodoh ini untukku, huh?” Emosi Ricci mulai mencuat.
Memang tidak ada pilihan lain saat ini. Pernikahan adalah satu-satunya cara agar Ricci bisa menatap lama di Jakarta sebagai warga asing. Sekaligus memberi alasan yang logis pada Mavra dan Shura- keluarga angkatnya di Vladivostok.
“Karena ini satu-satunya jalan dan kebetulan pria itu membutuhkan istri kontrak untuk mendapatkan keinginannya, sementara kau bisa datang ke kota ini mengingat sulitnya untuk menetap di kota ini untuk waktu yang lama. Kau pun juga tahu hal itu.”
“Kau yakin sudah cek latar belakangnya dan membaca semua ketentuannya sebelum menerima kontraknya?”
“Tidak mencari tau informasi satu sama tertera di dalam kontraknya,” gumam Lauv samar. Spontan dia menggaruk belakang kepala. Itu sudah lebih dari cukup untuk sebuah jawaban yang dibutuhkan Ricci. Gadis itu menghela nafas panjang. Semuanya gagal sudah. Sudah pasti calon suaminya itu bukan pria biasa-biasa saja. Mengingat dia mengatur pernikahan rahasia ini. Sungguh situasi yang tidak diharapkan.
“Dengar! Aku ti..” Kalimat Ricci terhenti setelah mendengar ketukan pintu dari luar. Suara seorang pria paruh baya menyuruh Ricci untuk segera keluar karena pernikahan mereka akan segera dilangsungkan.
Lauv menggenggam kedua tangan Ricci. “Tidak ada waktu untuk ini. Pertama kau harus menyelesaikan kontrak ini dulu, setelah itu baru kita pikirkan langkah setelahnya.” Lauv menarik tangan Ricci keluar ruangan hingga ujung altar.
Tepat saat itu sebuah suara terdengar dari luar ruangan.
Mari kita sambut pengantin kita yang cantik untuk berjalan menyusuri altar menemui mempelai pria.
Lauv berdiri. Hari itu dia menjadi wali Ricci satu satunya di negara asing yang baru di datanginya satu minggu yang lalu. Dia mengulurkan tangan.
“Tersenyum! Kau harus menunjukkan senyum paling bahagia, kau mengerti?” Lauv kembali mengingatkan Ricci. Gadis itu menerima uluran tangan Lauv.
Ricci berdiri di tepi altar sambil menggandeng Lauv dengan tangan yang tak memegang seikat bunga.
Di ujung altar sudah berdiri seorang pria tampan dengan balutan jas hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu. Senyumnya merekah menyambut gadis yang akan dipersuntingnya siang itu. Siapapun yang melihatnya sudah pasti itu tampak seperti senyum yang dipaksakan. Tidak ada tepuk tangan meriah yang mengiringi. Hanya ada beberapa orang biarawati yang hadir menjadi saksi pernikahan suci mereka siang itu. Dan sepasang pria dan wanita paruh baya yang duduk di bangku paling depan.
“Aku ingatkan sekali lagi! Apapun yang terjadi kau tidak boleh jatuh cinta pada pria di depan itu. Ini hanyalah perjanjian di atas kertas.”
“Tutup mulutmu!” Ricci meremas lengan Lauv lalu mengambil langkah pertama. Berjalan perlahan mendekat ke arah Alan– pria yang akan menjadi suaminya dalam hitungan menit ke depan.
Ricci dan Alan saling bertatapan dengan kedua tangan yang saling bertaut. Saat sumpah Suci hendak terucap dari mulut keduanya, hati Ricci bergejolak seketika. Senyum di wajahnya luruh ke lantai. Dia melepaskan tangan Alan lalu berbalik berlari secepat mungkin ke arah luar gedung.
“Ricci!” panggil Alan yang terkejut sekaligus panik. Jangan tanya Lauv. Dia sudah lebih dulu berlari mengejar Ricci.
****