SANDIWARA

1341 Kata
“Ricci!” Lauv berhasil mengejar Ricci. “Kau sudah gila?” Gadis itu menepis tangan Lauv yang menahan lengannya. “Tidak. Aku tau betul apa yang aku lakukan,” katanya dingin. “Dan menurutmu ini benar?” “Ricci!” Suara Alan ikut terdengar mendekat. Ternyata pria itu turut mengejar Ricci. Wajahnya merah padam saat tiba di hadapan Ricci dan Lauv. Sejujurnya siapa yang tidak marah bercampur kesal dan juga sedih di saat pengantin wanita melarikan diri tepat saat akan mengucapkan janji suci pernikahan? Alan tidak terkecuali, walaupun pernikahan mereka hanyalah sebatas perjanjian hitam di atas putih. Terlebih lagi semuanya terjadi di depan kedua orang tuanya. Perlahan Lauv melepaskan tangan Ricci dan berjalan mundur. “Kalian bisa berbicara lebih dulu.” Lauv memberi mereka ruang. Urusannya dengan Ricci bisa diurus nanti. Tapi Ricci telah menoreh masalah baru terhadap Alan. “Lauv!” Ricci hendak menyusul Lauv tapi segera ditahan oleh Alan. “Kenapa? Kenapa kau lari?” tanya Alan. Nada suaranya terdengar stabil. “Kenapa kau berubah pikiran? “Aku…merasa ini tidak benar,” jawab Ricci datar. Dia mengalihkan pandangan. Sekilas dia bisa melihat raut kecewa dari wajah Alan. “Apanya yang tidak benar? Sedari awal kita sudah sepakat dan tau betul tujuan masing-masing. Kau dapat tujuanmu dan aku dapat keinginanku. Adil, kan?” Alan tertawa getir masih tidak mengerti dengan tindakan sepihak Ricci. Ricci menggeleng pelan. Lalu mengangkat kepala menatap pupil hitam milik pria yang masih menahan lengannya. “Kita akhiri saja sampai di sini. Jangan pernah menghubungiku dan mencariku lagi. Dan maafkan aku karena sudah menggagalkan rencanamu.” Ricci melepaskan tangan Alan kemudian berlalu meninggalkan pria yang membisu di tempat itu. “Hei! Kau mana boleh begitu? Kau tidak membaca semua isi kontrak kita?” Langkah Ricci terhenti, dia terdiam sejenak. Kemudian menyunggingkan seulas senyum tipis. “Mana mungkin aku lupa. Aku akan bertanggung jawab penuh.” Kali ini Ricci benar-benar meninggalkan Alan yang membisu di tempat. Hancur sudah semua rencana yang sudah di susun Alan. Begitu pula dengan Ricci. ***** “Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan sampai-sampai harus berlari seperti itu?” sela Lauv tepat setelah Ricci tiba di markas, sebuah gudang bawah tanah yang disulap menjadi tempat persembunyian paling aman. Ruangannya tak terlalu luas namun masih bisa ditempati oleh sepuluh orang sekaligus. Interiornya tak mewah, sebelah sisinya dipenuhi oleh deretan komputer canggih milik Lauv. Pria bertubuh jangkung itu sudah menunggu kedatangan Ricci. Dia tahu gadis itu tak mempunyai tempat tujuan lain selain markas mereka. Ricci diam tak terlalu menggubris Lauv. Sebelah tangannya bergerak cepat melempar seikat bunga ke sembarang tempat. Ia juga baru menyadari kalau membawa bunga itu sampai ke sana. “Karena kau kita harus bayar mahal untuk bayar pinalti kontrak mereka.” “Ambil saja semua uang tabunganku.” Barulah Ricci bersuara menanggapi pria yang kini berjalan menghampirinya di sofa. “Setelah kita bayar pinaltinya, kau pikir dia akan melepaskanmu begitu saja?” “Makanya. Kenapa pula kau menggunakan nama asliku untuk perjanjian bodoh ini, huh?” Ricci melempar sarung tangan yang baru saja dilepasnya pada Lauv. “Astaga! Kau malah menyalahkanku. Kau sendiri tak pernah bertanya tentang siapa dia dan latar belakangnya. Lagipula aku juga tidak akan pernah mengambil kontrak ini jika kau memberitahuku tentang Markov lebih cepat.” Ricci menghela nafas. Lauv benar. Dia tidak bisa menyalahkan Lauv sepenuhnya. Anggap saja semuanya murni terjadi karena kebetulan. Setidaknya untuk saat ini. “Tapi bukan itu yang jadi masalahnya sekarang.” Ucapan Lauv berhasil membuat Ricci menatapnya lamat-lamat. Menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya. Lauv mengeluarkan tablet tipis miliknya. “Aku sudah berusaha mencari informasi tentang Alan. Walau sangat jarang artikel tentangnya.” Tanpa sadar Ricci mengangkat punggungnya. Duduk ikut menatap layar yang menampilkan potongan gambar Alan. “Beberapa artikel menyebutnya sebagai king yang kehilangan mahkotanya. Kau tau kenapa? Sebenarnya dialah yang memiliki garis keturunan sah dari sang ayah, tapi ayahnya malah menunjuk kakak laki-lakinya dan – ? “Dan?” “Tidak ada berita lain tentangnya.” Ricci memutar bola mata lantas kembali merebahkan punggungnya ke sofa. “Sepertinya kau masih harus banyak belajar Lauv!” “Tapi kau tetap harus waspada. Dia tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku bisa memastikan itu.” “Baiklah. Aku akan mengingatnya.” “Hei! Ini bukan masalah sepele,” protes Lauv setelah melihat Ricci tampak acuh tak acuh. “Sudahlah. Jangan khawatirkan hal-hal yang belum terjadi. Dan bukankah kau harus memikirkan langkah selanjutnya daripada harus beradu mulut membahas hal tak penting seperti ini denganku, hm?” Lauv terdiam. Ricci menepuk pelan pundak Lauv kemudian kembali merebahkan badan. Satu detik kemudian Ricci kembali duduk. “Dan satu lagi. Mulai saat ini aku tidak mau lagi menerima misi lain sebelum semua yang di sini selesai. Tolong sampaikan itu pada Mavra. Aku tidak mau mereka khawatir tanpa alasan nanti. Kau mengerti kan?” “Baiklah. Tanpa kau suruh pun sudah pasti akan kukerjakan.” Lauv meninggalkan Ricci lalu berjalan ke arah komputer super canggihnya di belakang sana. Dia memasukkan beberapa kata kunci di dalam sana. Sejauh ini masih belum terdapat artikel atau apapun itu menyangkut Alan selaku pewaris Firma Hukum terbesar di kota. Lauv menghela nafas lega kemudian melirik Ricci dengan posisi yang masih sama. Karena memang perjanjian Ricci dan Alan termasuk pernikahan mereka dilakukan secara diam-diam. Dan tentu saja ini menjadi sebuah keuntungan bagi Ricci karena datanya tidak terekspos ke media. Bisa gawat jika banyak yang mengetahui latar belakang Ricci jika belum pada waktunya. *** Satu bulan kemudian. Ricci berjalan mantap memasuki sebuah gedung yang tak terlalu besar namun berdiri kokoh di hadapannya. Kakinya melangkah gontai melewati pintu masuk sembari membuka kaca mata hitam yang sudah bertengger di hidung mancungnya sedari tadi. Gadis yang mengenakan blazer hitam itu menyempatkan diri untuk menyapa beberapa petugas yang dilewatinya. Walau dalam hati mengutuk karena rahangnya sudah sakit karena harus tersenyum lebar agar tak di cap sombong. Ya wajar saja karena dia tergolong anak baru di sana. Di lain sisi dia juga merutuki Lauv karena mencarikan tempat kerja di sini dengan beralasan lebih dekat dengan markas mereka. “Selamat pagi bapak,” sapa Ricci hangat saat berhadapan dengan seorang pria gagah yang duduk manis di balik meja kerjanya. Dia membalas Ricci dengan senyuman yang tak kalah hangat. “Selamat pagi Ricci,” balasnya masih tersenyum. Matanya hampir hilang saat dirinya tengah tersenyum. “Kau sebelumnya bekerja sebagai pengacara di Vladivostok ya?” Sebelah alis Ricci terangkat. “I-iya betul pak.” Entah sejak kapan dia bekerja sebagai pengacara di Vladivostok. Astaga, dasar Lauv. Dan kali ini masih salahnya juga karena tak bertanya lebih lanjut semalam. “Hebat dong ya, kenapa pindah ke sini?” “Orang tua saya pindah kerja ke sini. Jadi mau tidak mau saya juga harus pindah ke sini pak,” jawab Ricci asal. Yang penting atasan barunya itu tidak curiga. Pria yang kini tengah mengangguk-ngangguk itu bernama Bily. “Baiklah. Semoga kau suka bekerja di sini.” Ricci mengangguk penuh suka cita lantas membalikkan badan meninggalkan ruangan. Salah seorang gadis muda menuntun Ricci menuju meja kerjanya. Satu lantai di bawah lantai Bily. “Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya.” Gadis yang bernama Lea itu mengulurkan tangan. Oh Ricci langsung menerima uluran tangan gadis yang tersenyum cerah itu. “Aku harap juga begitu.” Ricci menatap layar komputer yang masih hitam tak menyala. Menatap lamat lamat sekelilingnya. Hanya ada empat orang yang satu ruangannya dengannya termasuk Lea. Sambil menghela nafas, dia berusaha menjalani semuanya dengan normal. Layaknya orang biasa. Baru saja Ricci hendak menekuni pekerjaan yang baru saja diberikan Lea. Tiba-tiba saja sekretaris Bily kembali datang ke mejanya. “Ricci!” panggilnya. Semua mata teralihkan ke arahnya. “Ya? Ada yang bisa saya bantu?” “Pak Bily meminta anda untuk kembali ke ruangannya.” Tak banyak bertanya apalagi membantah. Ricci menurut. Dia berjalan mengikuti Sekretaris hingga ke ruangan atasan yang baru saja di temuinya sepuluh menit yang lalu. Sekarang apa lagi? Baru saja dia menginjakkan kaki di ruangan Bily. Matanya langsung terbelalak saat mendapati seorang pria lain yang tengah duduk di samping Bily. “Alan?” “Apa kabar, My Honey?” ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN