My Honey? Ricci mengumpat dalam hati. Keningnya terlipat saat pupil matanya bertemu dengan mata hitam Alan. Pria yang kini tengah menatapnya dengan tajam. Ah sial. Mimpi apa dia semalam sehingga harus bertemu dengan Alan sepagi ini. Lagi-lagi dia menyalahkan Lauv yang memilihkannya untuk bekerja di Haris Law dan Firm yang ternyata adalah teman dari Alan.
“My Honey? Aku tidak tahu kalau kalian sedekat ini,” kata Bily sambil terkekeh pelan. Memecah ketegangan antara Alan dan Ricci.
“Ya, seperti yang kau tau. Kalau tidak dekat, aku tidak akan mungkin meminta bantuan padamu, kan?”
“Bantuan apa yang anda maksud, Pak?” sela Ricci. Dia berusaha mengendalikan nada suaranya sambil bergantian menatap Bily kemudian beralih pada Alan. Mereka saling duduk berhadapan. Dengan posisi Ricci duduk tepat di samping Alan.
“Beberapa hari yang lalu Alan meminta bantuanku untuk mencari seo – “
“Anak magang,” potong Alan dengan cepat. Membuat Bily berhenti dalam kebingungan.
“Aku memintanya mencari anak magang. Ya, anak magang.”
Bily tersenyum canggung saat Alan menendang kakinya di bawah meja. “Ya anak magang. Dan kebetulan kau adalah anak magang itu. Ya, anak magang.”
Kening Ricci terlipat kaget. “Apa maksud anda Pak?”
Bily tersenyum tipis. “Tidak, tidak, ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Kini dia beralih menatap Alan sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Kau akan melanjutkan pekerjaanmu di Alan&Max Law and Firm.”
Tepat saat itu Alan berdiri kemudian mengulurkan sebelah tangan – mengajak Ricci berjabat tangan.
“Semoga kita bisa bekerja dengan baik kedepannya,” katanya dengan suaranya yang dingin dan tegas.
“Tapi pak, saya masih…” Ricci masih berpura-pura tidak mengerti. Mempertanyaan keputusan Bily yang tiba-tiba. Dan tanpa sepengetahuannya, Billy telah mentransfer Ricci ke perusahaan lain.
Bily tampak sejenak berpikir. “Aku tau kau mungkin merasa bingung. Bagaimana bisa kau harus pindah kerja ke tempat lain tepat di hari pertamamu bekerja? Ya, tapi itulah yang sekarang sedang terjadi. Kau mungkin juga sudah membaca kontrak kita bukan? Kalau kau diterima bekerja dengan status masih dalam pelatihan dan diperbolehkan untuk menjalani pelatihan pada firma hukum lainnya untuk jangka waktu yang dibutuhkan. Dan sekarang saatnya. Kebetulan Alan memang membutuhkan seorang pengacara baru dan kau dirasa sangat cocok untuk bekerja di sana.”
Baiklah. Cepat atau lambat toh memang semua ini akan terjadi. Baguslah semuanya terjadi sesuai rencana walau lebih cepat dari yang sebenarnya diinginkan. Penjelasan panjang Bily juga sudah lebih dari cukup. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah apakah Bily mengetahui hubungannya dangan Alan jauh lebih pelik dari sekedar atasan yang mencari seorang karyawan baru?
Ricci dengan cepat merubah raut wajahnya. Raut terkejut sepenuhnya hilang berganti senyum cerah yang menampakkan deretan gigi putihnya.
“Senang bertemu dengan anda Pak.” Ricci menjabat tangan Alan dengan percaya diri. Dia bisa merasakan tenaga Alan yang menjabatnya dengan kuat. Ricci langsung tahu bahwa banyak hal yang diinginkan oleh Alan saat ini. Termasuk dirinya.
“Kalau begitu, apa boleh aku membawa dia sekarang?” tanya Alan santai setelah melepas tangan Ricci pada Bily.
Bily ikut berdiri. “Oh, tentu saja. Lagi pula dia belum memulai pekerjaan di sini.”
“Okay!” Alan menjentikkan jarinya. Tak membutuhkan waktu lama dia langsung berjalan keluar ruangan.
“Aku akan menunggumu di parkiran sepuluh menit lagi,” katanya tepat sebelum meninggalkan ruangan.
“Kau juga boleh segera mengemasi barang-barangmu lalu mengikuti Alan ke kantor barumu.” Bily mempersilahkan sekaligus berpamitan. “Semoga kau baik-baik saja di sana ya. Ah satu lagi. Kau bisa kembali kapan pun yang kau mau ke sini. Kau mengerti bukan?”
Ricci mengangguk pelan kemudian berjalan keluar setelah membungkukkan setengah badan pada Bily.
****
“Kenapa kau lama sekali? Aku sudah menantikanmu dari tadi.”
Itulah kalimat yang didengar Ricci saat melihat Alan sudah menunggunya di parkiran. Sementara Ricci masih tak menjawab, raut mukanya menunjukkan reaksi tak suka.
Melihat Ricci masih tak bersuara membuat Alan mendengus pelan. “Aku paling suka melihat ekspresimu yang kebingungan seperti ini dari pada tersenyum,” ungkap Alan dengan nada mengejek. “Kau tau kenapa? Karena kau tampak jauh lebih menawan.” Kali ini Alan mendekatkan kepalanya ke arah telinga Ricci. “Apa kau tahu akan hal itu?” Alan kembali menjauhkan kepalanya masih dengan tersenyum.
Ricci merubah reaksinya. Muka masamnya berganti dengan tatapan penuh hangat pada pria di depannya itu.
“Sejujurnya aku yang lebih menantikanmu. Aku sempat bertanya-tanya, penasaran apa langkahmu selanjutnya setelah kejadian hari itu. Awalnya aku sempat bingung kenapa kau tidak menghubungi apalagi mencariku walaupun aku sudah melarangmu. Bukankah biasanya itu hal wajib yang dilakukan setelah putus cinta? Yaa walau hanya sebatas di atas kertas. Dan satu bulan waktu yang cukup panjang, dan aku juga penasaran apa yang terjadi padamu,” balas Ricci memprovokasi. “Entah ini kau lakukan dengan sengaja ataupun secara kebetulan, tapi ya, aku sedikit senang melihat kau ternyata baik-baik saja setelah hari itu.”
“Tentu saja aku baik-baik saja. Toh kita memang tidak saling mengenal sampai sejauh itu. Tapi jangan senang dulu, Ini adalah awal dari semuanya. Kau pikir aku tidak menyelidi latar belakangmu? Bahkan setelah kau mengacaukan semuanya?” Alan menggoyang-goyangkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Ricci sambil memasang raut wajah manja.
Seketika Ricci menjadi panik. Ia tak tahu latar belakang mana yang dimaksud Alan. Ricci yang dikenal Alan hanyalah seorang gadis biasa yang bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta.
“Seorang pengacara hebat di Vladivostok tiba-tiba datang ke sini dan bilang kalau dia adalah seorang gadis biasa yang hidup di kota. Kemudian tiba-tiba menjadi gadis yang bersedia menikah kontrak denganku? Padahal dia seorang pengacara? Dan sekarang dia berdiri di hadapanku sebagai anak magang?” Alan dengan sengaja merapikan poni Ricci ke belakang telinga yang membuat Ricci memalingkan wajahnya. “Bukankah itu sangat aneh dan juga terkesan mencurigakan? Kenapa dia melakukannya? Padahal uang bukanlah yang hal yang paling dibutuhkannya jika dilihat dari pekerjaanya.” Kali ini Alan berinisiatif merapikan leher blazer Ricci yang tidak berantakan. “Semua pikiran itu terus berputar-putar di benakku seperti kaset rusak. Jadi aku melakukan segala cara untuk menemukanmu. Dan akhirnya kau berdiri di depanku sekarang.”
Ricci menghembuskan nafas lega saat Alan menyebutkan latar belakang yang diketahuinya. Hampir saja. Ternyata hanya itu.
“Lalu kau mau apa lagi dariku? Aku sudah minta maaf dan membayar seluruh pinalti sesuai dengan perjanjian. Apa lagi?”
“Apa lagi katamu?” Alan mendengus. “Kau tau berapa kerugian yang kualami karena tindakan bodohmu itu?”
“Aku tidak mau tau akan hal itu dan juga hal itu bukan urusanku.”
“Kau menghancurkan rencanaku dan membuatku kehilangan kesempatan untuk menjadi pewaris firma hukum. Kau paham?”
Ricci memejamkan mata sembari menghela nafas perlahan.
“Kau sudah paham sekarang, huh? Dan sekarang itu menjadi urursanmu.” Alan kembali menyela setelah melihat reaksi Ricci yang terkesan tak terlalu peduli.
“Jangan bertingkah seolah kau yang paling dirugikan dari semua ini. Bukan hanya rencanamu yang gagal tapi juga semua rencanaku yang sudah kususun selama bertahun-tahun.”
Sebelah alis Alan terangkat. Menangkap sebuah celah dari ucapan Ricci barusan. “Rencanamu? Jadi kau sengaja mendekatiku?”
****