***
Satu bulan setelah Davin melontarkan keinginannya sebagai wujud hadiah dari games yang ia menangkan, kini berpengaruh pula pada kehidupan Tiara.
Bagaimana tidak, waktu senggangnya yang biasa Tiara habiskan untuk bersantai di kamar kos atau pergi dengan Adel, mesti digantikan dengan kebersamaannya dengan Davin.
Keluar untuk makan bersama, jalan-jalan, menjemput Tiara dari tempat kerjanya juga menjadi rutinitas Davin. Untuk pulang pagi dari dinas malam dan berangkat kerja mereka tidak pernah bersama karena berbenturan dengan jam kerja Davin, terkecuali bila Tiara berangkat dinas malam, Davin akan mengantarnya.
Kedekatan mereka sampai mendapatkan protes dari Adel karena kedua orang tersebut seakan-akan melupakannya.
"Aku nggak ngelupain kamu, Del, semisal kamu mau menggantikan aku pergi dengan kak Davin, aku sangat berterima kasih." Tiara menyanggah ucapan Adel kala itu.
"Sampai kapan, Kak?" tanya Tiara setelah Davin menjemputnya pulang dari dinas siang, mereka duduk berseberangan di warung sate tepi jalan, mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
"Apa?" Davin nampak bingung, ia menggigit daging ayam yang berbumbu kacang, lalu menaruh tusuknya di piring, menikmati sate ayam yang ada di dalam mulutnya.
"Hadiah, kapan jangka waktu hadiah itu selesai?"
Davin menatap lekat sepasang netra hitam di hadapannya, bola mata yang selalu membuatnya rindu. "Kenapa? Apa kamu keberatan?" Tatapan mereka saling bertemu.
Tiara menghela napas, lalu menghembuskannya perlahan. Sudah beberapa minggu ia menghabiskan waktu luang bersama Davin. Ia tak mau mengambil resiko mengenai opini buruk orang lain tentang hubungannya dengan lelaki bermata sipit ini.
Sudah cukup, hubungannya dengan Rio yang ia anggap sebagai teman biasa membuat Mita beranggapan bahwa Tiara yang menggoda lelaki itu terlebih dahulu.
Jika hanya satu atau dua orang yang membicarakannya Tiara masih bisa menerimanya, tapi bila banyak orang yang menggunjingnya, apa ia sanggup?
Bahkan sekarang teman-teman kosnya mengira Davin adalah kekasihnya, karena laki-laki itu terlampau sering menyambangi kosnya. Mengelak pun percuma, sebab mereka tidak akan percaya.
"A-aku.." Tiara terbata.
"Kamu merasa terganggu?" Davin bertanya ulang, sorot matanya tak lepas dari bingkai wajah Tiara.
'Iya kak, aku keberatan, dan aku juga…terganggu, lebih tepatnya hatiku yang mulai terganggu.' Kalimat itu tertahan di kerongkongan Tiara.
"Aku nggak mau orang lain berpikir yang enggak-enggak, Kak." Tiara berucap jujur.
"Berpikir yang enggak-enggak tentang apa? Tentang kita maksud kamu?" Davin masih setia menatap Tiara dengan serius, yang direspon anggukan kepala oleh perempuan itu.
Davin terkekeh. "Tapi selama ini kita memang nggak pernah ngelakuin yang enggak-enggak, kan, Ra?"
Entah seperti apa wajah Tiara sekarang, tapi ia yakin kedua pipinya sudah memerah seperti tomat.
"Lucu ya, Kak?" ucap Tiara datar.
Davin mengulurkan tangannya, mengusap kepala Tiara dengan lembut. " Nggak ada tanggal kadaluarsa di hadiah itu, Ra. Jadi aku juga nggak tahu sampai kapan," ucapnya seraya tersenyum manis.
Seketika Tiara memundurkan kepalanya. ' Ini enggak baik buat kesehatan jantungku.'
"Makanlah, dan habiskan. Bukannya ini makanan kesukaan kamu?" Davin melirik sate ayam di piring Tiara masih utuh.
***
Mentari pagi menampakkan wujudnya di ufuk timur, sinarnya menghangatkan sebagian belahan bumi.
Namun, perempuan penghuni kos yang satu ini masih menempel dengan bantal dan guling yang dipeluknya dengan erat. Semalam dering ponsel telah mengganggu kedamaian hidupnya.
"Halo Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, Ra, gimana kabar kamu?"
Deg.
Suara itu, sangat tidak asing di gendang telinga Tiara. Ia masih ingat dengan baik dan jelas siapa pemilik suara di seberang telepon itu. Orang dari masa lalunya.
"Harus berapa kali aku bilang, jangan pernah ganggu aku lagi!"
"Ra, aku sungguh minta maaf."
"Simpan saja maafmu itu! aku nggak butuh!!"
"Ra, kita per--"
Tut..Tut..Tut..Tut..
Tiara menutup sepihak sambungan telepon itu. Tiba-tiba rasa sakit dan sesak menyeruak kembali ke lubuk hatinya. Ia mencengkeram kuat dàdanya, lalu menekuk kedua kakinya menempelkan ke dàda, menumpahkan tangisnya di sana.
Tiara tidak dapat memejamkan mata setelah menerima panggilan masuk dari nomor itu. Sampai pukul lima pagi setelah melaksanakan shalat subuh, Tiara merebahkan kembali badannya di atas ranjang, ia terlelap dengan wajah lengket air mata.
Ketukan pintu dari teman kosnya yang ingin mengajaknya membeli sarapan sama sekali tak ia dengar. Alarm yang di setting berbunyi pukul delapan pagi pun terabaikan.
Ponsel itu kembali meraung-raung tak cukup hanya satu kali panggilan. Tiara terusik oleh ringtone ponselnya, masih dengan mata terpejam ia meraba-raba mencari smartphone yang ia letakkan asal di atas ranjang tempatnya berbaring. Begitu mendapatkannya, ia menggeser tombol terima panggilan dan langsung menempelkannya ke telinga.
"Kamu bener-bener keterlaluan ya! Apa belum jelas ucapanku semalam?!"
"Apa kamu nggak punya hati?!"
Tiara mengucapkan umpatan itu dengan jelas, walaupun dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Sementara itu, di seberang sambungan telepon seorang laki-laki yang sedang beristirahat dari rutinitas pekerjaannya kaget bukan kepalang. Ia bahkan menjauhkan ponsel dari telinganya, melihat kembali ke layar apakah ia salah melakukan panggilan, tapi tidak, nomor yang ia tuju sudah benar.
"Oh, aku lupa, hatimu sudah lama mati bukan?!"
"Jangan menggangguku! Aku membencimu!"
"Tiara, kamu kenapa? Maaf mungkin sebulan ini aku sudah mengganggumu."
"Hah?!"
Tiara terperanjat, suara itu berbeda. Ia beranjak dari tidurnya, mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian melihat layar ponselnya, nama Davin yang tertera dalam panggilan. Serta merta ia membekap mulutnya.
" Kak Davin?"
"Maaf, aku terlalu egois."
"Kak, aku ... aku ...." Tiara bingung harus memberikan penjelasan seperti apa pada Davin. Ia melirik jam yang menempel di dinding, pukul setengah satu siang, ia harus bergegas karena hari ini dinas siang.
"Aku ngga--"
"Kak, maaf aku baru bangun. Aku harus segera berangkat kerja, nanti aku hubungi lagi ya, Kak. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Tiara meletakkan ponselnya di meja rias. Sedikit berlari mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Usai mandi dan berganti baju seragam kerja, Tiara mengambil gelas lalu mengeluarkan botol air dingin dari kulkas mininya, meneguk air minumnya hingga tak bersisa. Duduk di kursi meja rias melepas handuk yang menutup kepalanya, mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer. Sesaat ia termenung menatap pantulan bayangannya di depan cermin.
'Salah apa dia? Lagi dan lagi, dia jadi tempat salah sasaran.' Tiara menepuk jidatnya.
Selesai makeup dan mengenakan hijab segi empatnya, Tiara bergerak mengambil flat shoes di rak sepatu lantas memakainya, kemudian meraih tas selempang berukuran sedang yang biasa ia bawa bekerja.
***
Malam hari saat akan pulang dari rumah sakit, Tiara berdecak kesal, ia tidak dapat memesan ojek online karena ponselnya tertinggal di kos. Sedangkan Adel hari ini dinas malam, temannya itu berulang kali menawarkan untuk membawa motornya, tapi ia tolak. Menurutnya ribet jika mondar-mandir hanya perkara motor, sedangkan di luar sana masih banyak transportasi umum.
Tiara memijat keningnya, teringat janjinya akan menghubungi Davin, tapi nyatanya ia tak bisa menepatinya.
Ia juga tidak berharap Davin menjemputnya, setelah apa yang terjadi tadi siang, laki-laki itu pasti kesal pada ucapannya di telepon. Lengkap sudah semuanya.
Tiara melangkahkan kakinya keluar dari pelataran rumah sakit, ia berdiri di tepi jalan. Lima menit menunggu, akhirnya angkutan umum yang ia tunggu datang.
Tiara melambaikan tangan, begitu mobil dengan pintu terbuka itu berhenti. Ia langsung naik dan masuk ke dalam, duduk di bangku belakang sopir. Seorang penumpang yang sudah terlebih dahulu berada di dalam angkutan duduk berhadapan dengannya.
Ia menatap jauh keluar jendela, wajah kedua orangtuanya muncul dalam mata kosongnya. Ayah dan Ibu yang selalu menanamkan cinta dan kasih sayang sepenuh hati, menjaganya hingga ia tumbuh dewasa. Menjadi tempat keluh kesahnya disaat ia lelah dengan rutinitas di kampus, dan tak segan menasehatinya dengan lemah lembut.
Hampir dua tahun ia tak pernah pulang ke Semarang. Lebih memilih tinggal jauh dari orang tua demi mengubur masa lalunya yang pahit. Luka yang ditorehkan oleh sahabat baiknya, yang lama ia pendam seolah kembali basah karena panggilan telepon semalam. Jika saja badai itu tak pernah datang.
'Sampai kapan akan seperti ini?'
Tiiiinnnn!!!
Suara klakson sepeda motor yang memekakkan telinga mengembalikan Tiara pada kenyataan hidup. Ia mengerjap lalu menoleh ke kanan dan kiri, rute angkutan umum yang ia naiki tidak seperti biasanya.
"Pak kok lewat sini?" Tiara menegur si sopir.
"Udah Neng, ikut aja." Si sopir menjawab dengan santai tanpa melihat kebelakang.
"Tapi ini bukan jalan ke rumah kos saya, Pak," ucap Tiara dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
Tiara mulai merasakan adanya keganjilan. "Saya turun di depan aja, Pak," perintahnya.
Sopir itu bungkam, ia semakin menambah laju kendaraan roda empatnya.
"Pak saya bilang berhenti!" pekik Tiara sambil menggeser duduknya lebih dekat ke pintu, tap laki-laki bertato yang juga menjadi penumpang di angkutan itu mendorongnya hingga bókong Tiara membentur sudut kursi penumpang.
Tiara meringis, merasakan sakit di bagian tulang belakang.
Laki-laki bertato itu menutup pintu angkutan dengan satu gerakan tangan. "Kenapa buru-buru, Sayang? Kita kenalan dulu, boleh dong? Abang pinjam handphone sama dompetnya?" Ia menyeringai melihat Tiara merapatkan jaket seraya bergerak mundur menjauhinya.
"Kita bersenang-senang dulu, Sayang, pulangnya belakangan, ya nggak, Bro?!" ucap laki-laki bertato sambil memainkan lidahnya, ia menatap Tiara penuh dengan nafsu.
"Hahahaha, beruntung banget kita, Bro, malam ini kita dapat bonus besar!" sahut si sopir dengan girang.
Tiara menatap tajam pada laki-laki bertato, kemudian beralih pada sopir yang sedang fokus mengemudi. Ia berpikir keras bagaimana caranya agar bisa keluar, meskipun jalan satu-satunya dengan melompat dari angkutan yang tengah berjalan dengan kecepatan tinggi, akan ia lakukan.
"Aduh, aw, aw, aw!!" jerit laki-laki bertato ketika Tiara berulang kali mengayunkan tas kerjanya ke wajah dan badannya.
"Toloo---" Teriakan Tiara terputus karena laki-laki bertato itu langsung membekap mulutnya rapat-rapat.
"Diam nggak!! Atau lo memang lebih suka pakai cara kasar, hah?!!" Laki-laki itu mengeluarkan pisau lipat dari balik punggungnya.
"Lo nggak sabar ya cantik? Mau kita pemanasan dulu? Hmmmm."
Tiara melotot, saat mata pisau itu nyaris menggores pipinya.
"Berisik banget lo, Bro!! Lo mau kita ketahuan?!" ucap si sopir sambil menoleh singkat ke belakang.
"Lo nggak lihat tadi dia mukulin gue!" protes si lelaki bertato.
"Lagian lembek banget lo, Bro, ngurusin satu cewek aja nggak becus!"
"Nggak usah banyak omong lo, buruan ke lokasi!"
Keringat dingin mengucur dari tubuh Tiara. Ia beberapa kali meronta, menggerakkan kaki dan tangannya, tapi lelaki itu membekapnya semakin erat, bahkan dàda laki-laki siàlan itu menempel pada punggungnya.
Tiara menangis dalam diam, ia tak boleh terlihat lemah.
***