Adel menatap ke depan tanpa berkedip, memastikan apa yang ia lihat nyata bukan mimpi. Tadi pagi bunda Alia sempat memberitahu jika Davin akan menginap di rumahnya selama seminggu. Ia tidak begitu saja percaya, pasalnya lelaki yang satu ini susah sekali untuk diminta datang ke rumahnya, dengan berbagai alasan yang dimilikinya. Tapi sekarang, Davin terlihat santai duduk di ruang tengah bersama dengannya. Laki-laki itu sedang menyeruput kopi hitam yang ada di tangan kanannya, sesekali bibirnya sedikit maju meniup kopi yang masih panas. Beberapa menit yang lalu sepupunya itu juga mengeluarkan baju-baju yang ia bawa dari dalam koper, memindahkannya ke dalam lemari pakaian. Davin benar-benar menginap di rumahnya. "Adel, melamun?" Bunda Alia menegur seraya menggoyangkan tangan kanannya tepat di

