Aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri tapi aku masih menyangkalnya. Devan di sana—di dapurku—berkelahi dengan dua orang tidak kuketahui siapa—menggunakan penutup wajah hitam. Yang kutahu pasti dari perawakannya, mereka adalah dua orang laki-laki. "Stay there!" teriak Devan ketika dia melihat kedatanganku. Aku terdiam. Benar-benar terdiam nyaris tidak bernafas. Dua orang itu berusaha keras menghajar Devan. Tapi Devan terus menangkisnya. Aku tidak tahu Devan selihai itu. Melihat perawakan lawannya yang lebih besar dari dia, Devan cukup mampu untuk menangkis pukulan dan berbalik untuk menyerang mereka. Tapi hal itu tidak bertahan lama, aku nyaris memekik ketika Devan mendapat hantaman di rahang kirinya. Devan mundur beberapa langkah. Dua orang itu berdiri di depannya—siap menyerang.

